Kebiasaan Salaf: Menjaga Keikhlasan dengan Menyembunyikan Amal Salih (Bagian 1)

بِسْــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيــــــــْمِ

✏️▪️ Berkata Al-Allamah Ibnul Jauzi rahimahullah,

كَانَ إِبْرَاهِيم النَّخعِيّ إِذا قَرَأَ فِي الْمُصحف فَدخل دَاخل غطاه

“Apabila Ibrahim an-Nakha’i sedang membaca Al-Qur’an dengan mushaf (di masjid), lalu ada orang yang masuk, beliau langsung menutupi mushaf tersebut.”
(Al-Mud-hisy, hlm. 400)

✏️▫️ Abdah bin Sulaiman al-Marwazi menceritakan,

كُنَّا سَرِيَّةً مَعَ ابْنِ المُبَارَكِ فِي بِلاَدِ الرُّوْمِ، فَصَادَفْنَا العَدُوَّ، فَلَمَّا التَقَى الصَّفَّانِ، خَرَجَ رَجُلٌ مِنَ العَدُوِّ، فَدَعَا إِلَى البِرَازِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ رَجُلٌ، فَقَتَلَهُ، ثُمَّ آخَرُ، فَقَتَلَهُ، ثُمَّ آخَرُ، فَقَتَلَهُ، ثُمَّ دَعَا إِلَى البِرَازِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ رَجُلٌ، فَطَارَدَهُ سَاعَةً، فَطَعَنَهُ، فَقَتَلَهُ، فَازدَحَمَ إِلَيْهِ النَّاسُ، فَنَظَرْتُ، فَإِذَا هُوَ عَبْدُ اللهِ بنُ المُبَارَكِ، وَإِذَا هُوَ يَكْتُمُ وَجْهَهُ بِكُمِّهِ، فَأَخَذْتُ بِطَرَفِ كُمِّهِ، فَمَدَدْتُهُ، فَإِذَا هُوَ هُوَ

“Kami pernah bersama Abdullah bin Mubarak dalam satu pasukan jihad yang sama di negeri Romawi, hingga kami pun berhadapan dengan musuh. Ketika dua pasukan telah saling berhadapan, keluar salah satu pasukan dari barisan musuh dan mengajak duel satu lawan satu.

Salah seorang dari pasukan Islam pun keluar untuk menantangnya, namun musuh itu (memenangkan pertarungan) dan membunuhnya, keluar lagi satu dan dia kembali membunuhnya, keluar lagi satu dari umat Islam dan kembali terbunuh. Lalu dia kembali menantang duel, dan kembali keluar seseorang dari barisan umat Islam, terjadi pertarungan (sengit) selama beberapa saat hingga yang muslim berhasil mengalahkan musuhnya.

Kemudian berkerumunlah orang-orang mendatanginya, dan saya perhatikan baik-baik siapa orang itu, ternyata, dia Abdullah bin Mubarak, beliau menutupi wajahnya dengan kain lengan bajunya, saya mencoba untuk menarik kain yang menutupinya dan ternyata benar, ia Abdullah bin Mubarak.”
(Siyar A’lam an-Nubala’, VIII/394)

••

💦 Orang-orang shalih di masa salaf begitu mudah tersentuh dengan nasihat dan wejangan, sebagai upaya menjaga keikhlasan, tidak jarang mereka sungguh-sungguh untuk menyembunyikan tangisannya,

✏️▪️ Al-Hafizh Hammad bin Zaid rahimahullah pernah mengisahkan,

كَانَ أَيُّوْبُ فِي مَجْلِسٍ، فَجَاءتْهُ عَبْرَةٌ، فَجَعَلَ يَمْتَخِطُ وَيَقُوْلُ: مَا أَشَدَّ الزُّكَامَ!

“Ayyub as-Sikhtiyani pernah berada di sebuah majelis hingga ia mulai menangis (karena suatu kalimat), saat itu, beliau mulai nampak memperlihatkan mengeluarkan lendir dari hidung beliau, sambil menyatakan,
‘Betapa berat penyakit flu!’¹.”
(Siyar A’lam an-Nubala’, VI/20)

¹ Pernyataan ini tidak tergolong dusta. Karena beliau hanya menyebutkan,
‘Betapa berat penyakit flu!’
karena flu memang benar berat. Baru disebut berdusta jika beliau berkata,
‘Saya sedang flu.’

Padahal tidak lain, tangisanlah yang sedang beliau usahakan untuk tidak diketahui orang.
https://t.me/nasehatetam
http://www.nasehatetam.net

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
🍃Turut menyebarkan:
WA 🌹syarhus sunnah lin nisaa
http://t.me/syarhussunnahlinnisa
http://t.me/Arsip_PosterSSLN
https://catatanmms.wordpress.com
🖥 https://akhwat.net

Karena Engkau Wajib Menuntut Ilmu


🇸 🇸 🇱 🇳

••••🌸▫️🌸▫️🌸▫️🌸••••