RENUNGAN UNTUK IKHWAN LENDAH

bit.ly/syarhussunnahlinnisa

🍃🌸🍃

RENUNGAN UNTUK IKHWAN LENDAH
(Edisi 40)
Romantisme Ukhuwwah di Menganti

Informasi pertama tentang Pantai Menganti saya peroleh dari pak Jun. Beliau adalah orang kepercayaan Asatidzah di Petanahan, Kebumen. Pak Jun lah yang selalu sibuk menghubungi dan berkoordinasi dengan saya jika kebetulan saya dijadwalkan di Petanahan. Setahun lalu, dalam sebuah bincang kecil, Pak Jun bercerita tentang eksotisme Pantai Menganti. Sebelum menyaksikan sendiri, saya telah dibuat jatuh hati pada Menganti.

Menganti adalah nama sebuah Pantai di Kebumen bagian barat. Sebagai sebuah Pantai, Menganti merupakan Pantai terindah di Pulau Jawa yang pernah saya saksikan. Pasir pantainya yang berwarna putih, panorama perbukitan dan tak lupa tebing-tebing karst yang indah. Relief alam berupa perbukitan memang sedikit menyulitkan untuk mengakses Pantai ini. Ibarat lukisan, untuk ke Menganti kita mesti melewati goretan sketsa alam.

Jalan yang berlika-liku serta naik turun dan tikungan patah-patah menjadi rute yang tak terelakkan. Walau demikian pemandangan yang ada tetap menakjubkan. Pegunungan karst begitu indah, kerucut bentuk perbukitan menjadikannya sebagai pembeda untuk view-view lain di pulau Jawa, dan lautan luas sesekali terlihat saat diatas jalan yang melintasi punggung perbukitan.

Satu kilometer sebelum Menganti, kami sudah dibuat kagum dan terpana! Subhaanallah! Ada surga disini, kata seorang peserta. Dari sebuah sudut di puncak perbukitan, kami mampu menyaksikan keindahan laut Selatan.Terbentang luas. Lautan biru diselingi warna kehijau-hijauan. Ke sebelah barat bagian utara, garis pantai berderet sampai habis tertutup kabut di Cilacap. Terbayarlah sudah lelah dan letih kami.

Menganti memiliki jajaran pohon kelapa khas pesisir pada umumnya. Sebuah tebing pantai raksasa yang tinggi dan besar terlihat gagah di bagian barat. Orang-orang menyebutnyaTebing Bidadari. Suasana yang khas adalah berjajarnya perahu-perahu nelayan yang didominasi warna biru. Pantai pasir putih yang dipadukan dengan banyak batu karang besar, dapat digunakan untuk duduk sambil melepaskan pandangan ke arah samudera Hindia.

Satu objek yang cukup menarik adalah menara mercusuar. Mercusuar tersebut kira-kira setinggi 20 meter yang dibangun Belanda di kisaran tahun 1912-1915. Kami mengambil posisi di Tanjung Karangbata. Letaknya di tenggara pantai Menganti. Di Tanjung Karangbata yang rindang ini kami mampu melihat luasnya Samudra Hindia dan sebuah pulau karang. Dari Tanjung Karangbata juga terlihat pantai lainnya seperti pantai Peacron di sebelah timur. Jika musim penghujan tiba, tebing-tebing sebelah barat Pantai Menganti dihiasi empat air terjun yang mengucur dari ketinggian lebih dari 30 meter.

Perjalanan selama empat jam dari Lendah menuju Menganti akhirnya seperti tidak terasa sama sekali. Puluhan kilometer yang ditempuh, rasa-rasanya terhapuskan oleh suasana alam yang mengesankan. Kami pun akhirnya merebahkan tubuh di dalam Villa berlantai dan berdindingkan kayu.

Ucapan terima kasih, kami sampaikan kepada pak Amin Petanahan sekeluarga yang telah berkenan menyewakan tiga buah villa untuk rombongan dari Lendah. Semoga Allah menerima amal kebaikan beliau.

00000__00000

Untuk dan dalam rangka apa, kita berombongan motor ke Menganti? Andai saya yang ditanya, banyak jawaban yang bisa saya berikan. Sebab, sebelum akhirnya kita memutuskan dalam musywarah bersama dua pekan sebelumnya, kita memang mempunyai alasan mendasar kenapa menyelenggarakan touring ke Menganti.

Dua pekan lebih kita tidak mengaktifkan taklim dan kajian. Suasana Idul Fitri dan Syawal banyak digunakan untuk acara keluarga atau pribadi lainnya. Jujur saja, untuk memulai kembali kajian seperti sebelum liburan, masih terasa berat. Tidak mudah memang! Hati ini keras dan kaku. Malas dan malas menjadi bumbu kehidupan. Kita menilai perlunya sebuah kegiatan pemanasan.

Kegiatan seperti ini telah mengajarkan tentang arti dari pondasi kekompakan. Kita kompak untuk menentukan tanggal dan hari keberangkatan. Bahkan jam menitnya pun kita sepakati. Kita sepakati pula tentang kebutuhan makan minumnya serta apa saja yang mesti dibawa. Kekompakan akan menjadi modal berharga dalam berjuang di jalan dakwah. Saya tidak berani membayangkan, jika dakwah dijalankan tanpa kekompakan, berjalan menurut kemauannya sendiri.

Ke Menganti secara berombongan telah menanamkan untuk kita konsep kebersamaan. Membuang ego sejauh-jauhnya. Bagaimana kita dituntut untuk terbiasa dalam pembagian regu dan kelompok. Bagaimana juga kita beriringan dengan tertib dan teratur. Group Bantul dipilih menjadi rombongan pembuka. Disusul group Cangaan, group Kepek, group Wates dan ditutup oleh group Remaja dari Muntilan.

Coba kita rasakan kebersamaan itu! Iring-iringan diberhentikan karena ban motor seorang peserta bocor. Iring-iringan yang kembali diberhentikan karena motor seorang peserta terjatuh dalam kubangan air sisa-sia hujan. Iring-iringan yang diberhentikan karena motor seorang peserta macet. Iring-iringan yang diberhentikan karena ada peserta yang terpeleset. Kita selalu berpikir tentang orang lain, bahkan bersama turut merasakannya.

Coba kita temukan kebersamaan itu! Di setiap kali pemberhentian, kita berinteraksi kuat. Saat mengisi bahan bakar di SPBU, kita saling menunggu dan tak ingin mendahului. Saat berhenti istirahat di Ambal dan pantai Suwuk, kita saling berbagi makanan, minuman juga berbagi cerita. Pulang pergi tiada beda.

Coba kita pegang kebersamaan itu! Saat malam tiba disertai hujan badai dan angin kencang. Villa yang kita tempati bocor, basah dan kemasukan air hujan. Akhirnya kita menginap dengan tidur yang tidak sempurna, sebab lokasi yang kurang mencukupi. Namun, tetap saja kekompakan itu terjaga.

Cobalah cari kebersamaan itu! Carilah kebersamaan itu saat mandi di pasir putih, bermain bola dan memancing. Carilah kebersamaan itu saat kita duduk-duduk santai sambil menanti makanan dan minuman yang dipesan. Carilah kebersamaan itu saat kita menegakkan shalat berjamaah di ruang yang tidak begitu luas.

Seandainya kegiatan di Menganti kemarin hanya sebatas untuk bisa melihat dan mengenal Ustadz-Ustadz se-BarLingMasCaKeb saja, saya kira sudah lebih dari cukup. Benar! Ustadz-Ustadz dari Banjarnegara, Purbalingga, Purwokerto, Banyumas, Cilacap dan Kebumen mengadakan sedikit bincang-bincang di salah satu villa yang disewa. Panjenengan hanya dalam waktu yang singkat dapat bertemu dan menyaksikan puluhan Ustadz dalam satu kesempatan. Nikmat yang sangat luar biasa!

Tercatat 78 peserta dengan satu mobil untuk barang dan sisanya sepeda motor, akhirnya mempunyai cerita masing-masing. Panjenengan pulang pun pasti merekam banyak momen penting. Kesan-kesan selama pulang dan pergi, saya yakin akan terus diingat. Untuk saya sendiri, kebersamaan dan kekompakan Panjenengan menjadi yang paling istimewa. Untuk menjadi pribadi yang tidak egois, berkorban untuk orang lain dan menjadi pribadi yang memikirkan kepentingan orang banyak, memang perlu waktu. Kita harus terus belajar dan berlatih.

Melalui kegiatan seperti ini, semoga kita bisa mengambil banyak pelajaran hidup! Jika memang demikian, suara renyah seorang peserta yang sempat terucap kemarin, semoga suatu saat nanti bisa terwujud : “Wah, sesuk touring nang Pacitan wae!”. He ….. heee …. Pacitan? Tertarik?

Saudaramu di jalan Allah

Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

Lendah, Kulonprogo
30 Juli 2017 / 24 Syawal 1437 H
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
http://tlgrm.me/kajianislamlendah
Channel khusus renungan :
@renunganikhwan
Versi blog :
http://bit.ly/28Xsxk5
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰