RENUNGAN UNTUK IKHWAN LENDAH

➖🌸🌸➖🌸🌸➖🌸🌸➖
RENUNGAN UNTUK IKHWAN LENDAH
(Edisi 26)

Saya tidak bisa membayangkan, seperti apakah wujud kesabaran yang dimiliki Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahulloh. Pastinya, beliau adalah figur yang menyenangkan jika dipandang, tidak menjemukan saat bersama dan membuat betah kawan bicara ketika berbincang. Bisakah kita seperti beliau?

Membaca kisah nyata kehidupan Imam Ahmad, seakan membawa kita masuk ke dimensi yang berbeda dengan alam hidup kita. Kisah-kisah luar biasa ada di dalamnya. Momen-momen menakjubkan akan mengiringi telaah kita. Dan tentunya, pelajaran hidup yang tidak terhingga jumlahnya, akan kita temukan.

Salah satu pelajaran hidup yang Imam Ahmad wariskan untuk kita adalah jiwa yang pemaaf, tidak mendendam dan tidak ada kebencian. Saya yakin pribadi Imam Ahmad adalah pribadi yang tenang, damai dan tentram. Kenapa? Sebab beliau adalah teladan dalam sikap memaafkan dan membuang benci.

Imam Ahmad mengalami tiga masa kekhilafahan yang penuh cobaan. Mulai dari pemerintahan Al Makmun, Al Watsiq billah dan Al Mu’tashim billah. Selama masa ketiga khalifah tersebut, Imam Ahmad mengalami berbagai siksaan dan hukuman. Penjara adalah rumah beliau yang kedua. Cambukan dan lecutan sudah cukup akrab menghiasi hari-hari beliau.

Beliau dihukum penjara dan dicambuk karena tidak menuruti ideologi kufur yang dipaksakan oleh negara. Imam Ahmad menolak untuk menyatakan Al Qur’an sebagai makhluk. Dalam keyakinan beliau, Al Qur’an adalah kalamullah. Firman Allah dan bukan makhluk. Itulah akidah yang benar dan lurus!

Hukuman yang beliau rasakan mengalami puncaknya di zaman Al Mu’tashim. Pada masa Al Mu’tashim, siksaan mendera terus meningkat. Semakin menjadi-jadi dan serasa tidak mengenal ampun. Hampir setiap saat, Imam Ahmad dihadapkan pada satu regu eksekutor dengan pedang tajam terhunus dan cambuk yang meledak-ledak. Namun, Imam Ahmad terus saja bersabar.

Hingga akhirnya, Imam Ahmad menuai hasil indah dengan pergantian khalifah. Dari Al Mu’tashim yang meninggal dunia, tampuk kekuasaan dipegang dan dikendalikan oleh Al Mutawakkil billah. Imam Ahmad dibebaskan, namanya direhabilitasi dan beliau diperkenankan untuk kembali mengajar dan menyampaikan ilmu kepada masyarakat. Ajaran-ajaran Sunnah kembali dihidupkan setelah sekian lama tertimbun. Wal hamdulillah.

Walaupun telah bebas dari penjara dan merdeka dari siksaan, ternyata bekas-bekasnya tidak cepat hilang. Bekas sayatan dan lecutan cambuk membalut kulit tua Imam Ahmad. Hampir di sekujur tubuh beliau, terdapat bekas-bekas luka. Imam Ahmad digambarkan sebagai seorang tua yang kurus, lemah dan sering mengalami sakit.

Seorang dokter yang biasa dipanggil Thabibul Qurra’ pernah datang berkunjung. Dokter tersebut menangkap adanya gejala yang tidak biasa pada Imam Ahmad. Dari wajah beliau yang pucat pasi, dokter mendiagnosa adanya sebuah kelainan. Setelah ditanya dan dikejar, Imam Ahmad mengaku memang ada satu bagian di punggung yang sering dirasakan nyeri dan sakit.

Dokter berusaha menemukan letaknya. Imam Ahmad mempersilahkan punggung beliau untuk diperiksa. Namun anehnya, dokter tidak menemukan apa-apa. Hanya bekas-bekas sayatan dan lecutan cambuk. Dokter pun merasa penasaran.

Dokter tersebut mempunyai hubungan pertemanan yang cukup baik dengan Kepala Penjara. Atas seijin dan sepengetahuan Kepala Penjara, dokter tersebut melakukan penyelidikan. Apa yang ditemukan? Berdasarkan wawancara dengan beberapa narapidana, mereka memberikan kesaksikan bahwa Imam Ahmad semasa dahulu di dalam penjara, ada seorang tukang kain yang berupaya untuk mengobati luka-luka beliau. Ternyata dalam prosesnya ada sepotong daging “mati” yang ikut tertanam di dalam punggung Imam Ahmad. Itulah sebabnya kenapa Imam Ahmad sering merasakan nyeri.

Berbekal hasil penyelidikan itu, sang dokter segera menemui dan menyampaikan informasi tersebut kepada Imam Ahmad. Solusi satu-satunya adalah dengan membedah punggung Imam Ahmad untuk mengambil sepotong daging “mati” dari tubuh beliau. Dokter tersebut menyatakan kesanggupannya untuk membedah.

Proses bedah pun berlangsung. Sejak awal proses sampai selesai, Imam Ahmad terlihat menahan sakit. Setiap kali merasakan sakit, Imam Ahmad selalu berucap doa : “Allahummaghfir lil Mu’tashim”. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa Al Mu’tashim.

Masya Allah!

Betapa mulia hati Imam Ahmad! Orang yang paling jahat dan yang paling bertanggung-jawab atas luka-luka tersebut malah didoakan memperoleh ampunan dari Allah. Dan itu tidak sekali dua kali diucapkan. Berkali-kali Imam Ahmad memohonkan ampun untuk Al Mu’tashim kepada Allah.

Selesai proses bedah, sang dokter bertanya dengan terheran-heran : “Biasanya, orang akan mendoakan kejelekan untuk pihak yang telah berbuat jahat kepadanya. Kenapa Anda malah memohonkan ampun untuk Al Mu’tashim?”

Imam Ahmad menjelaskan bahwa beliau tidak ingin mempunyai khu-shu-mah (perselisihan) di hadapan Allah dengan sesama muslim, pada hari kiamat kelak. Dalam riwayat yang lain, Imam Ahmad menerangkan : “Saya tidak ingin ada seorang muslim disiksa Allah pada hari kiamat nanti, disebabkan diriku”.

Masya Allah! Allahu Akbar!

00000__00000

Di bulan Ramadhan tahun ini, tahun 1437 H,marilah kita memanfaatkan momennya dengan sebaik-baiknya. Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam, terkhusus pada malam-malam yang dimungkinkan Lailatul Qodar adalah : “Allahumma innaka ‘afuw-wun, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”. Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang maha memberi maaf. Engkau mencintai permaafan, oleh sebab itu maafkanlah aku.

Sebagaimana kita berharap untuk dimaafkan Allah, ada sekian banyak orang yang juga berharap dimaafkan oleh kita.

Malam ini adalah malam yang ke-tujuh. Cobalah kita periksa diri masing-masing. Lakukan evaluasi! Lakukan scanning di hati dan jiwamu! Apakah Anda masih sulit memaafkan untuk si A, si B atau si C? Apakah Anda masih menyimpan benci dan dendam kepada si E, si F dan si G? Jika masih belum bisa memaafkan, mohon maaf jika saya harus berterus terang kepada Anda bahwa hati Anda itu kotor! Penuh noda!

Apakah cerita Imam Ahmad di atas belum cukup? Apakah rasa sakit Anda melebihi rasa sakit yang diderita dan dialami Imam Ahmad? Lihatlah Imam Ahmad yang mudah memaafkan! Ah, hati kita memang kotor. Penuh dosa dan noda sehingga terhalang dari banyak kebaikan. Sampai-sampai memaafkan pun sulit untuk kita lakukan. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi momen besar untuk melakukan transformasi. Perubahan dari sulit memaafkan menjadi mudah memaafkan. Semoga saja.

Saudaramu di jalan Allah

Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

Lendah Kulonprogo
Malam ke-tujuh Ramadhan 1437 H

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
http://tlgrm.me/kajianislamlendah
Channel Khusus Renungan :
@renunganikhwan
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰