lanjutan ⤵⤵📮Faedah yang Sayang Jika Dilewatkan

IMG-20150506-WA0001

lanjutan ⤵⤵⤵

📮Faedah yang Sayang Jika Dilewatkan

Dalam kisah Thalq bin Habib, ada sebuah faedah yang tidak ingin kita lewatkan. Faedah yang terulang, namun perlu selalu diingatkan, yaitu wajibnya kembali kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal memahami al-Kitab dan as- Sunnah. 

 

👉Faedah itu ada dalam pertanyaan Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan jawaban Thalq bin Habib rahimahullah.

 

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Thalq, apakah engkau menyangka dirimu lebih paham terhadap al-Qur’an dariku? Dan apakah engkau anggap dirimu lebih tahu tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dariku?”

Thalq menjawab, “Tidak, demi Allah, bahkan engkau lebih paham terhadap Kitab Allah dan lebih mengetahui tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

 

👍💬Percakapan yang sangat indah.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengingatkan kepada Thalq sebelum beliau menjelaskan syubhat (kerancuan) berpikir yang ada pada diri Thalq.

 

📍📢Beliau ingatkan bahwa para sahabat adalah orang yang paling mengerti al-Kitab dan as-Sunnah. Ini pula yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau mengabarkan akan adanya perselisihan dan perpecahan umat di akhir zaman. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam membimbing umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah al-Khulafaar-Rasyidin, serta memerintah mereka untuk mengikuti jalan sahabat, generasi terbaik yang telah diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala.

 

💡👍💦Ketika Thalq menyadari hal itu dan mau mendengar perkataan Jabir, selamatlah beliau dari pemikiran Khawarij.1

 

 

💨💨💨Meninggalkan Majelis Ahlul Bid’ah

 

📍Di antara pokok penting yangm terkandung dari hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu— dan ini termasuk pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah—adalah wajibnya meninggalkan ahlul bid’ah dan majelis mereka. Pokok ini ditunjukkan oleh banyak dalil al-Kitab dan as-Sunnah.

 

👉 Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

 

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

 

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (al-An’am: 68)

 

📝Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah (wafat 1250 H) berkata dalam tafsirnya, Fathul Qadir,

“Dalam ayat ini ada nasihat (peringatan) yang agung bagi orang yang masih saja membolehkan duduk bersama ahli bid’ah yang biasa mengubah Kalam Allah, mempermainkan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, serta memahami al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan sesuai dengan bid’ah-bid’ah mereka yang rusak.

💨Sungguh jika seseorang tidak dapat mengingkari mereka dan tidak mampu mengubah keadaan mereka, ia harus meninggalkan majelis mereka. Hal itu mudah baginya dan tidak sulit.

💧Bisa jadi, para ahli bid’ah memanfaatkan hadirnya seseorang di majelis mereka, meskipun ia dapat terhindar dari syubhat yang mereka lontarkan, tetapi mereka dapat mengaburkannya kepada orang-orang awam.

💥👎👎Jadi, hadirnya seseorang dalam majelis ahli bid’ah adalah kerusakan yang lebih besar daripada sekadar kerusakan yang berupa mendengarkan kemungkaran.

🔰 Kami telah melihat di majelis-majelis terlaknat ini—yang banyak sekali jumlahnya—dan kami bangkit untuk membela kebenaran, melawan kebatilan semampu kami, dan mencapai puncak kemampuan kami.

📝👉Barang siapa mengetahui syariat yang suci ini dengan sebenar-benarnya, dia akan mengetahui bahwa bermajelis dengan orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala bisa jadi akan melakukan hal-hal yang diharamkan.

💦Lebih-lebih lagi bagi orang yang belum mapan  ilmunya tentang al-Qur’an dan as- Sunnah, sangat mungkin terpengaruh dengan kedustaan-kedustaan mereka  berupa kebatilan yang sangat jelas  lalu kebatilan tersebut akan tertanam di dalam hatinya sehingga sangat sulit mencari penyembuh dan pengobatannya, meskipun ia telah berusaha sepanjang hidupnya. Ia akan menemui Allah dengan kebatilan yang ia yakini tersebut sebagai kebenaran, padahal itu adalah sebesar-besar kebatilan dan sebesarbesar kemungkaran.”

(Fathul Qadir)

 

❗💈Karena pentingnya pokok ini, menjauhkan diri dari ahlul bid’ah dan majelis-majelis mereka, para ulama memasukkan masalah ini dalam pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, demikian pula ulama ahlul hadits mencantumkan bab-bab khusus terkait pokok yang agung ini.

 

1⃣. Al-Imam Abu Dawud as-Sijistani rahimahullah (wafat 275 H), membuat sebuah bab dalam Sunan Abi Dawud (4/198) dengan judul “Mujanabatu Ahlil Ahwa’ wa Bughdhuhum” (bab “Menjauhi Pengikut Hawa Nafsu dan Membenci Mereka”).

 

2⃣. Al-Imam Ibnu Baththah al-Akburi rahimahullah (wafat 387 H), dalam kitabnya al-Ibanah (2/429) mencantumkan sebuah bab berjudul “at-Tahdzir min Shuhbati Qaumin Yumridhunal Quluba wa Yufsidunal Imaan” (bab “Peringatan dan Ancaman dari Bergaul dengan Kaum yang Dapat Membuat Hati Menjadi Sakit dan Merusak Iman”).

 

3⃣. Al-Imam al-Baihaqi rahimahullah (wafat 458 H) dalam Kitabul I’tiqad membuat sebuah bab berjudul “an-Nahyu ‘an Mujalasati Ahlil Bida” (bab “Larangan Bermajelis dengan Ahlul Bid’ah”).

 

4⃣. Al-Imam al-Baghawi rahimahullah (wafat 516 H) dalam Syarhus Sunnah (1/219) menyebutkan bab “Mujanabah Ahlil Ahwa” (bab “Menjauhi Pengikut Hawa Nafsu”).

 

5⃣. Al-Imam Al-Mundziri rahimahullah (wafat 656 H), dalam kitabnya at-Targhib wat Tarhib (3/378) membuat bab “at-Tarhib min Hubbil Asyrar wa Ahlil Bida” (“Ancaman Mencintai Orang- Orang yang Melakukan Kejelekan dan Bid’ah”).

 

6⃣. Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 676 H) dalam kitabnya, al-Adzkar, menyebutkan bab “at-Tabarri min Ahlil Bid’ah wal Ma’ashi” (bab “Berlepas Diri dari Ahlul Bida’ dan Pelaku Maksiat”). Hal yang semisal ini banyak kita jumpai dalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab i’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah.

 

 

💬Manusia dan Media📺📻

 

❗Ketika kita berbicara teman duduk, bukan manusia saja yang perlu diwaspadai. Termasuk media-media yang dahulu tidak terbayang akan menjadi teman dalam kesendirian. Sang anak bersendiri dengan ponsel di tangannya berselancar mengarungi samudra dunia maya.

 

❗Teman duduk ini bisa menjadi bahaya laten muncul dan berkembangnya pemikiran-pemikiran sesat, paham takfir, dan semisalnya.

 

🌸Seandainya pemerintah atau pihak-pihak yang terkait mampu menutup situs-situs yang membahayakan akidah dan akhlak, tentu hal ini termasuk tugas dan kewajiban mereka. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memperbaiki diri-diri kita, masyarakat kita, pemerintah kita, dan memberikan rezeki berupa teman duduk yang baik, yang membantu kita dalam hal ketaatan dan membantu kita menjauhi kejelekan.

 

Walhamdulillah, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in

 

sumber: http://asysyariah.com/hadits-memilih-teman-duduk/

 

🌹syarhus sunnah lin nisaa`

 

🌿🌸🌿🌸🌿🌸🌿🌸🌿🌸🌿