๐Ÿก BIMBINGAN RINGKAS tentang HUKUM-HUKUM JENAZAH dan hal-hal yang terkait dengannya โ‡จ๐Ÿšช BAB 1 ๐Ÿ’Š๐Ÿ“ฉ KEWAJIBAN BAGI ORANG SAKIT

IMG-20150306-WA0018

——————————–

๐Ÿก BIMBINGAN RINGKAS tentang HUKUM-HUKUM JENAZAH dan hal-hal yang terkait dengannya

 

๐Ÿ“’ [dari “Talkhish Ahkam al-Janaiz” karya asy-Syaikh al-Albani rahimahullah]

—————————————

 

Bismillahirrahmanirrahim

 

๐Ÿšช BAB 1

๐Ÿ’Š๐Ÿ“ฉ KEWAJIBAN BAGI ORANG SAKIT

 

๐Ÿ” Orang yang sakit wajib untuk senantiasa merasa ridha dan menerima segala ketentuan maupun ketetapan Allah.

๐Ÿ“‚ Ia juga wajib untuk bersabar atas takdir-Nya serta berbaik sangka kepada Rabb-nya. Hal ini lebih baik baginya.

 

๐ŸŒป Ya, sebuah kebaikan baginya. Bukankah Rasulullah telah bersabda:

 

ุนูŽุฌูŽุจู‹ุง ู„ูุฃูŽู…ู’ุฑู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูุŒ ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑูŽู‡ู ูƒูู„ู‘ูŽู‡ู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุฐูŽุงูƒูŽ ู„ูุฃูŽุญูŽุฏู ุฅูู„ู‘ูŽุง ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูุŒ ุฅูู†ู’ ุฃูŽุตูŽุงุจูŽุชู’ู‡ู ุณูŽุฑู‘ูŽุงุกู ุดูŽูƒูŽุฑูŽุŒ ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุตูŽุงุจูŽุชู’ู‡ู ุถูŽุฑู‘ูŽุงุกูุŒ ุตูŽุจูŽุฑูŽ ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู„ูŽู‡ู

 

โ€œSungguh menakjubkan dan mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya segala urusannya merupakan kebaikan baginya. Tidaklah yang demikian didapati pada seorangpun melainkan pada seorang mukmin saja. Yaitu, jika seorang mukmin mendapatkan kebahagiaan maka ia bersyukur. Yang demikian merupakan kebaikan baginya. Bila ia dirundung sebuah kesengsaraan (kesulitan) dia akan bersabar. Tentu yang demikian juga kebaikan baginya.โ€

(HR. ย Muslim 4/2999 dari shahabat Shuhaib bin Sinan)

 

๐ŸŒท Juga berdasarkan sabda beliau:

 

ู„ูŽุง ูŠูŽู…ููˆุชูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุฅูู„ู‘ูŽุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูŠูุญู’ุณูู†ู ุจูุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุธู‘ูŽู†ู‘ูŽ

 

โ€œJangan sekali-kali salah seorang di antara kalian meninggal dunia melainkan ia berbaik sangka kepada Allah.โ€

(HR. Muslim 4/2877 dari shahabat Jabir)

 

[ โ€ข 2 โ€ข ]

 

๐Ÿ” Orang yang sakit hendaknya berada di antara khauf (perasaan takut) dan rajaโ€™ (rasa harap).

 

โฉ Hendaknya ia merasa TAKUT terhadap siksa dan hukuman Allah atas berbagai dosanya, dan ia BERHARAP akan rahmat dan kasih sayang Rabb-nya.

 

๐Ÿ“– Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan selainnya. Dikisahkan bahwa suatu ketika Nabi menemui seorang pemuda yang sedang sakaratul maut.

โ€œBagaimana keadaan dirimu?โ€ Tanya Nabi.

โ€œDemi Allah, wahai Rasulullah, sungguh aku berharap kepada Allah (rahmat dan ampunan-Nya) dan sungguh pula aku takut akan dosa-dosaku.โ€ Jawab pemuda tersebut.

 

๐Ÿ‘‰Rasulullah kemudian bersabda:

 

ู„ูŽุง ูŠูŽุฌู’ุชูŽู…ูุนูŽุงู†ู ูููŠ ู‚ูŽู„ู’ุจู ุนูŽุจู’ุฏู ูููŠ ู…ูุซู’ู„ู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู…ูŽูˆู’ุทูู†ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽุนู’ุทูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุง ูŠูŽุฑู’ุฌููˆ ูˆูŽุขู…ูŽู†ูŽู‡ู ู…ูู…ู‘ูŽุง ูŠูŽุฎูŽุงูู

 

โ€œTidaklah dua perasaan tersebut (rasa harap dan takut) berkumpul pada diri seorang hamba pada saat seperti ini melainkan Allah akan memberi apa yang dia harap dan akan memberi keamanan dari yang ditakutinya.”

๐Ÿ“š (HR at-Tirmidzi 3/983) dan ibnu Majah (2/4261)dari Anas bin Malik. ย Lihat pula al-Misykah (1612)

 

 

[ โ€ข 3 โ€ข ]

 

๐Ÿ’ญโ›” TIDAK BOLEH berangan-angan untuk mati, seberat dan separah apapun penyakit yang dideritanya.

 

โ†ช Kalaupun terpaksa melakukannya maka hendaknya ia mengucapkan:

 

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฃูŽุญู’ูŠูู†ููŠู’ ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽุชู ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู„ููŠู’ ูˆูŽุชูŽูˆูŽูู‘ูู†ููŠู’ ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽุชู ุงู„ู’ูˆูŽููŽุงุฉู ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู„ููŠู’.

 

โ€œYa Allah, hidupkanlah diriku selama kehidupan lebih baik bagiku. Dan matikanlah diriku jika kematian itu lebih baik bagiku.โ€

๐Ÿ“š HR. ย Al-Bukhari (5671 dan 6351) dan Muslim (2680) dari shahabat Anas bin Malik

 

 

 

[ โ€ข 4 โ€ข ]

 

 

โณ๐Ÿ“‘๐Ÿ”– Jika ia masih memiliki tanggungan-tanggungan dan kewajiban maka hendaknya ia menunaikannya kepada pemiliknya dan kepada yang berhak.

 

๐Ÿ‘‰ Tentunya jika hal ini mudah dan mampu ia lakukan.

 

โœ๐Ÿ“ฉ Jika tidak demikian maka hendaknya ia berwasiat kepada keluarganya. Hal ini berdasarkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

โ˜ Wasiat tersebut pun harus segera disampaikan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 

ู…ูŽุง ุญูŽู‚ู‘ู ุงู…ู’ุฑูุฆู ู…ูุณู’ู„ูู…ู ู„ูŽู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ูŠููˆุตููŠ ูููŠู‡ูุŒ ูŠูŽุจููŠุชู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ูˆูŽูˆูŽุตููŠู‘ูŽุชูู‡ู ู…ูŽูƒู’ุชููˆุจูŽุฉูŒ ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู

 

โ€œTidak pantas bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkan sampai berlalu dua malam melainkan wasiat tersebut sudah tertulis di sisinya.โ€

Ibnu โ€˜Umar berkata: โ€œTidaklah berlalu satu malam sejak aku mendengar Rasulullah mengatakan ucapan itu melainkan wasiatku telah aku tulis.โ€

๐Ÿ“š HR al Bukhari (4/2738) dan Muslim (3/1627), dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar.

 

 

๐Ÿ“Ž bersambung, ย insya Allah

 

โ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ข

๐Ÿ“ Majmu’ah Manhajul Anbiya

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s