๐Ÿ’Š๐Ÿ’‰Adab-adab Syar’i ketika Sakit (5)

๐ŸŒฟ๐Ÿ”ฐ๐Ÿ’ก๐Ÿ”ฐ๐Ÿ’ก๐Ÿ”ฐ๐ŸŒฟ

 

โž–ADABโž–โž–โž–

 

๐Ÿ’Š๐Ÿ’‰Adab-adab Syar’i ketika Sakit (5)

 

๐Ÿ“ditulis oleh: Al-Ustadz Abul ‘Abbas Muhammad Ihsan hafizhahullah

 

 

5โƒฃ Disyariatkan segera menulis wasiat dengan saksi dua orang lelaki muslim yang adil. Bila tidak didapatkan karena safar, boleh dengan saksi dua orang ahli kitab yang adil.

 

๐Ÿ“„Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

โ€œHai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian.โ€

(Al-Ma`idah: 106)

 

๐Ÿ“„Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau berkata:

 

ู…ูŽุง ุญูŽู‚ูŽู‘ ุงู…ู’ุฑูุคูŒ ู…ูุณู’ู„ูู…ูŒ ูŠูŽุจููŠู’ุชู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุชูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽู„ูŽู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ูŠูุฑููŠุฏู ุฃูŽู†ู’ ูŠููˆุตููŠูŽ ูููŠู‡ู ุฅูู„ุงูŽู‘ ูˆูŽูˆูŽุตูŽู‘ูŠู’ุชูู‡ู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฑูŽุฃู’ุณูู‡ู. ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ c: ู…ูŽุง ู…ูŽุฑูŽู‘ุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠูŽู‘ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ุฐู ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฅูู„ุงูŽู‘ ูˆูŽุนูู†ู’ุฏููŠ ูˆูŽุตููŠูŽู‘ุชููŠ

 

โ€œTidak berhak seorang muslim melalui dua malam dalam keadaan dia memiliki sesuatu yang ingin dia wasiatkan kecuali wasiatnya berada di sisinya.โ€

 

๐Ÿ“„Dan Ibnu Umar radhiyallahu anhu berkata:

โ€œTidaklah berlalu atasku satu malam pun semenjak aku mendengar Rasulullah alaihi shallatu wa sallam berkata demikian, kecuali di sisiku ada wasiatku.โ€

(Muttafaqun โ€˜alaih)

 

๐Ÿ“„Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata (At-Tamhid, 14/292):

โ€œPara ulama bersepakat bahwa wasiat itu bukan wajib, kecuali bagi orang yang memiliki tanggungan-tanggungan yang tanpa bukti, atau dia memiliki amanah yang tanpa saksi. Apabila demikian, dia wajib berwasiat. Tidak boleh dia melalui dua malam pun kecuali sungguh telah mempersaksikan hal itu.

 

๐Ÿ”ขDiperbolehkan baginya mewasiatkan sebagian harta yang ditinggalkan, maksimal sepertiganya. Tidak boleh lebih dari itu.

 

๐Ÿ“„Bahkan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata:

โ€œAku senang bahwa orang mengurangi dari jumlah 1/3 menjadi ยผ dalam hal wasiat. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: โ€˜Sepertiga itu banyakโ€™.โ€

(HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim dan Al-Baihaqi)

 

โ›”Wasiat tersebut tidak boleh untuk ahli waris yang berhak mendapatkan warisan, kecuali dengan kerelaan dari seluruh ahli waris lainnya.

 

๐Ÿ“„Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุนู’ุทูŽู‰ ูƒูู„ูŽู‘ ุฐููŠ ุญูŽู‚ูู‘ ุญูŽู‚ูŽู‘ู‡ู ููŽู„ุงูŽ ูˆูŽุตููŠูŽู‘ุฉูŽ ู„ููˆูŽุงุฑูุซู

 

โ€œSesungguhnya Allah telah memberi setiap yang memiliki hak akan haknya, maka tidak ada wasiat untuk ahli waris.โ€

(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa`)

 

๐Ÿ“„Ibnu Mundzir rahimahullah berkata (Al-Ijmaโ€™ hal. 100):

โ€œPara ulama sepakat bahwa tidak ada wasiat untuk ahli waris kecuali para ahli waris (yang lain) memperbolehkannya.โ€

 

๐Ÿ“„Ibnu Katsir rahimahullah berkata (Tafsir Al-Qur`anil โ€˜Azhim, 1/471):

โ€œKetika wasiat itu adalah rekayasa dan jalan untuk memberi tambahan kepada sebagian ahli waris, serta mengurangi dari sebagian mereka, maka wasiat itu haram hukumnya, berdasarkan ijmaโ€™ dan dengan Al-Qur`an:

 

โ€œ(Wasiat itu) tidak memberi mudarat (kepada sebagian pihak). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.โ€

(Al-Ma`idah: 12)

 

๐Ÿ”€Adapun wasiat yang bertentangan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah, maka wasiat tersebut batil dan tidak boleh dilaksanakan.

 

๐Ÿ“„Dari Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 

ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญู’ุฏูŽุซูŽ ูููŠ ุฃูŽู…ู’ุฑูู†ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูŽุง ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุฑูŽุฏูŒู‘

 

โ€œBarangsiapa yang mengada-adakan perkara baru pada urusan (agama) ku ini apa yang tidak berasal darinya, maka hal itu tertolak.โ€

(Muttafaqun โ€˜alaih)

 

(Bersambung)

๐Ÿ“šTIS

 

๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s