SEBAB-SEBAB YANG MEMBANTU UNTUK KOKOH DI TAS MANHAJ SALAF (6-10)

catatanmms286

💫💖 SEBAB-SEBAB YANG MEMBANTU UNTUK KOKOH DI TAS MANHAJ SALAF

✏__Asy-Syaikh DR. Ahmad bin ‘Umar bin Salim Bazmul hafizhahullah

 

🔵 SEBAB KEENAM

 

:: Menjauhi berbagai fitnah. Tidak turut campur berbicara tentangnya, dan menyerahkan urusan fitnah tersebut kepada ahlinya (yakni para ‘ulama), disertai sikap SENANTIASA KONSISTEN BERSAMA PARA ‘ULAMA SALAFIYYIN (dalam menghadapi & menyelesaikan fitnah tersebut, pen) ::

 

♻ Al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Sungguh berbagai fitnah ini apabila baru datang/muncul hanya akan diketahui oleh setiap orang yang berilmu. Namun ketika dia sudah sirna maka semua orang jahil pun akan mengetahuinya.”

 

 

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

 

 “Berbagai fitnah yang terjadi, hanyalah akan diketahui kejelekan-kejelekan yang ada padanya ketika dia sudah berlalu. Adapun ketika dia masih baru muncul maka fitnah itu banyak dihiasi, disangka ada kebaikan padanya. Apabila manusia sudah merasakan kejelekan, kepahitan, dan bencana yang ada padanya maka ketika itu menjadi jelaslah madharat fitnah tersebut, dan menjadi penasehat baginya agar jangan mengulanginya lagi. …”

 

Hingga beliau mengatakan, “Barangsiapa meneliti kondisi berbagai fitnah yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, akan jelas baginya bahwa tidak ada seorang pun yang masuk ke dalamnya, kemudian dia dipuji atas berbagai akibat yang muncul setelah dia masuk ke dalam fitnah tersebut. Karena memang hal itu menimbulkan berbagai kejelekan terhadap agama dan dunianya. Oleh karenanya, fitnah itu termasuk dalam larang, sebaliknya menahan diri darinya termasuk sesuatu yang diperintahkan.”

 

Maksud beliau rahimahullah dengan fitnah di sini adalah fitnah yang menimpa keumuman manusia (awam), dan hal-hal yang seharusnya diketahui pada masa-masa fitnah.

 

✅ Maka keumuman manusia wajib untuk senantiasa konsisten berjalan bersama ‘ulama yang dikenal, wajib untuk merujuk kepada mereka. Tidak turut campur berbicara fitnah, dan hendaknya menjauhi darinya, menyerahkan penjelasan/penilaiannya tentangnya kepada ‘ulama.

 

Hendaknya masing-masing dari keumuman manusia (awam) mengetahui, bahwa fitnah itu menjadi fitnah hanya bagi dia saja (yakni karena kebodohannya, sehingga permasalahan itu menjadi fitnah baginya, pen).

 

Adapun para ‘ulama, yang mengetahui hakekatnya, bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil dalam kondisi fitnah tersebut.

 

Maka dalam fitnah, yang itu fitnah jika ditinjau dari sisi kamu, tidak boleh bagimu mengatakan kepada semua pihak,

“Diamlah, ini fitnah.”

 

Sebagaimana kita dengar dengan sebagian mereka, ketika dibicarakan dan dijelaskan kesesatan sebagian pihak yang menyimpang, maka dia mengatakan, “Wahai saudaraku, ini fitnah. Hendaklah kamu diam!”

 

💕 Maka kita katakan, Iya itu fitnah kaitannya dengan dirimu. Itu fitnah bagimu, yaitu ketika kamu tidak/belum mengetahui mana yang haq dan mana yang batil. Adapun Ahlul Haq, maka mereka bisa menjelaskan mana yang haq dan mana yang batil. Seorang yang jahil harus diam. Namun ini tidak berarti seorang yang berilmu juga harus diam, apabila memang diketahui dengan jelas mana yang haq dan mana yang batil.

 

 

°°°°°°°°°

 

🔵 SEBAB KETUJUH

 

💠 :: Menjauh dari Ahlul Ahwa (orang-orang yang mengekor/memperturutkan hawa nafsu) dan Ahlul Fitan (yang suka menebar/mengikuti fitnah). ::

 

Karena sesungguhnya para Salafush Shalih, mereka dulu mengatakan,

 “Sesungguhnya orang yang duduk bersama Ahlul Bid’ah, lebih berat atas kami di bandingkan Ahlul Bid’ah-nya itu sendiri.”

(al-Ibanah al-Kubra no. 486, dari Ucapan Ibnu ‘Aun).

 

 

 Ats-Tsauri rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang duduk bersama Ahlul Bid’ah, maka orang lain tidak akan selama akan terkenai fitnah juga.”

 

 

 Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang memuji Ahlul Bid’ah dan menyanjung mereka, apakah dia digolongkan kepada mereka (ahlul bid’ah)?

 

↪ Beliau menjawab, “Ya. Hal ini tidak diragukan. Barangsiapa yang memuji dan menyanjung Ahlul Bid’ah, maka dia telah mengajak kepada Ahlul Bid’ah tersebut. Dia adalah para du’at-nya ahlul bid’ah. Kita memohon kepada Allah al-‘Afiyah.”

(Syarh kitab “Fadhl al-Islam”, dipenghujung syarh Bab : Keterangan bahwa Bid’ah lebih berat daripada Dosa-Dosa Besar.”)

 

 

 ‘Amr bin Qais rahimahullah berkata,

“Dulu dikatakan, kalau kamu duduk bersama orang yang menyimpang, maka hatimu akan ikut menyimpang.”

(al-Ibanah no. 390)

 

 

°°°°°°°

 

🔵 SEBAB KEDELAPAN

 

💠 :: Menjauh dari orang-orang yang suka bermaksiat, berbuat fajir, dan kefasikan. ::

 

❄ Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap orang dari kalangan Ahlul Ilmi yang lebih mendahulukan dunia dan lebih mencintainya, maka dia pasti akan berkata atas nama Allah tanpa landasan kebenaran dalam fatwa-fatwanya, dan hukum-hukumnya terhadap berita yang sampai padanya, maupun dalam konsekuensinya. Hal itu karena hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala kebanyakan bertentangan dengan hawa nafsu/kepentingan-kepentingan manusia. … dst”

 

 

❎ Perhatikan, apabila seorang berilmu yang bergaul dengan para pengagum dunia dan para pengusung kefajiran serta kefasikan, bisa terpengaruh dengan mereka dan akan membuatnya berkata atas nama Allah tanpa ilmu, maka orang yang tingkatannya di bawah seorang yang berilmu tersebut, tentu lebih-lebih lagi.

 

⛔♻ Ibnul Qayyim juga mengatakan tentang syaithan, bahwa apabila syaithan melihat pada seorang hamba sifat meremehkan dan menjauh lebih dominan padanya, maka akan menghambat dan membuatnya lemah tekad dan kemauannya untuk melaksanak hal-hal yang diperintahkan. Menjadikan itu berat terhadapnya. Sehingga dia pun menggampangkan dalam meninggalkan perintah tersebut, sampai pada taraf dia meninggalkan secara total, atau sangat kurang dalam melaksanakannya dan meremehkannya.”

(Ighatsah al-Lahfan 1/116)

 

°°°°°°°

 

🔵 SEBAB KESEMBILAN

 

 Menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat dan tinggalkan fudhul (melakukan sesuatu yang tak bermanfaat)

 

 

°°°°°°°°°

 

🔵 SEBAB KESEPULUH

 

Menjauhi akhlak-akhlak yang jelek, terutama :

❎ Sombong,

mengangkat diri di hadapan manusia,

merasa tinggi di hadapan mereka,

🚫melihat dirinya lebih baik daripada mereka,

⛔hasad,

 zhalim.

 

Menjauhi akhlak yang jelek itu dengan cara senantiasa melakukan akhlak yang baik.

 

Akhlak memiliki kedudukan yang sangat penting dalam agama. “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam al-Mizan (timbangan) pada hari Kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud 4799, dari Abu ad-Darda).

 

[ bersambung, insya Allah ]

 

sumber http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=38859

 

—————–

🌠 WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

 



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s