SEORANG MU’MIN TIDAK PERNAH MERASA LEBIH BAIK DIBANDINGKAN SAUDARANYA

catatanmms275

SEORANG MU’MIN TIDAK PERNAH MERASA LEBIH BAIK DIBANDINGKAN SAUDARANYA

 

✅Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah

 

Sesungguhnya persaksian seorang hamba terhadap dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya, hal itu akan menyebabkan dia merasa tidak memiliki kelebihan atau keutamaan atas seorang pun, dan juga tidak merasa memiliki hak terhadap seorang pun.

 

Hal itu karena dia selalu menyaksikan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya, sehingga dia pun tidak pernah menganggap bahwa dirinya lebih baik dari seorang muslim pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengharamkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

 

Jadi jika dia menyaksikan hal itu, maka dia tidak akan pernah merasa dirinya memiliki hak-hak atas orang lain berupa pemuliaan yang berhak dia tuntut dari mereka dan berhak mencela mereka jika mereka tidak memenuhinya.

 

Karena sesungguhnya dirinya dalam pandangannya terlalu hina dan tidak ada harganya untuk merasa memiliki hak-hak atas hamba-hamba Allah yang wajib atas mereka untuk memperhatikannya. Atau karenanya dia merasa memiliki keutamaan yang menyebabkan dia berhak untuk dimuliakan dan dihormati serta diutamakan atas orang lain.

 

Maka dia pun menilai jika ada seseorang mengucapkan salam kepadanya atau menjumpainya dengan wajah ceria, berarti orang tersebut telah berbuat baik kepadanya dan telah memberinya sesuatu yang sebenarnya dia merasa tidak pantas untuk menerimanya.

 

Sehingga dia pun merasa lapang dadanya dan tidak menyibukkan manusia dari keluh kesahnya dan kemarahannya kepada orang lain.

 

Maka alangkah baik kehidupannya, alangkah nikmat hatinya, dan alangkah sejuk pandangan matanya.

 

Bandingkan orang tersebut dengan seseorang yang selalu mencela hamba-hamba Allah, mengeluhkan mereka karena dia anggap tidak memenuhi haknya, dan dia selalu marah kepada mereka, padahal mereka lebih besar kemarahannya terhadapnya.

Maka Maha Suci Allah yang hikmah-Nya membuat akal-akal makhluk-Nya tercengang tidak mampu mengukurnya.

 

Sumber artikel: Miftaah Daaris Sa’aadah, II/296

 

Alih bahasa: Abu Almass

Ahad, 12 Dzulqa’dah 1435 H

WSI/ http://forumsalafy.net/?p=6204

 

~~~~~~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s