PERMASALAHAN RUMAH TANGGA:  BEBERAPA KEKELIRUAN SUAMI (bag2)

catatanmms136

PERMASALAHAN RUMAH TANGGA:  BEBERAPA KEKELIRUAN SUAMI

(Bag II)

 

Untuk bisa mengambil pelajaran dan melakukan perbaikan diri, tidak ada salahnya kita menengok kekeliruan yang terjadi lalu kita melihat sikap yang seharusnya dan semestinya

dilakukan oleh seorang suami.  Berikut ini kita mencoba menyebutkan beberapa k

esalahan yang ada pada suami.

 

 

5. BERSIKAP KERAS, KAKU, DAN TIDAK LEMBUT KEPADA ISTRI

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:

 

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

 

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.  Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya [1].” (HR. at-Tirmidzi, dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani Rahimahullah dalam ash-Shahihah no. 284 dan asy-Syaikh Muqbil Rahimahullah  dalam ash-Shahihul Musnad, 2/336—337)

 

 

Di antara bentuk sikap lembut seorang suami terhadap istrinya adalah memberikan kegembiraan kepadanya dengan permainan dan hiburan yang diperbolehkan syariat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:

 

كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ لَهْوٌ أَوْ سَهْوٌ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ أَرْبَعُ خِصَالٍ … –مِنْهَا مُلَاعَبَةُ الرَّجُلِ أَهْلَهُ

 

“Segala sesuatu yang tidak termasuk zikrullah adalah sia-sia atau melalaikan, selain empat hal… —di antaranya, permainan/senda gurau suami dengan istrinya.” (HR. an-Nasa’i dalam Isyratun Nisa’, ath-Thabarani dalam al-Kabir,sanadnya sahih sebagaimana dalam ash-Shahihah no.315)

 

 

Untuk menunjukkan kelembutan dan cintanya kepada Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  pernah mengajak Aisyah adu cepat dalam b

erlari.

 

Memanggil istri dengan nama atau sebutan yang menyenangkan hatinya termasuk bentuk k

elemahlembutan terhadapnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sang suami teladan, telah mencontohkannya. Suatu ketika, beliau memanggil Aisyah Radhiyallahu ‘anha  dengan sebutannya:

 

ياَ حُمَيْرَاءُ، أَتُحِبِّيْنَ أَنْ تَنْظُرِيْ إِلَيْهِمْ؟

 

“Wahai Humaira’  [2] (wanita yang putih kemerah-merahan), apakah engkau suka melihat mereka?”

(HR. an-Nasa’i dalam Isyratun Nisa’, disahihkan dalam Adabuz Zafaf hlm.272)

 

 

Pernah pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil sang istri dengan menyingkat namanya:

يَا عَائِشُ، هَذَا جِبْرِيْلُ يُقْرِئُكِ السَّلاَمَ

“Wahai Aisy, ini Jibril datang menyampaikan salam untukmu.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

6. MERENDAHKAN ISTRI DAN PEKERJAANNYA DI DALAM RUMAH

 

Ada tipe suami yang cenderung merendahkan istri. Ia memandang istrinya dengan sebelah mata sampai-sampai ia menganggap rendah pekerjaan rumah tangga yang biasa dijalani oleh istri. Ia pun enggan membantu istrinya.

Sebagian orang jahil bahkan berpandangan bahwa membantu pekerjaan rumah akan menghilangkan sifat kejantanan. Padahal kalau ia mau menengok kehidupan berumah tangga yang dijalani oleh pemimpin para suami, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh ia mendapatkan kenyataan yang bertolak belakang dengan   apa yang ada di pikirannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  adalah gambaran seorang suami terbaik terhadap keluarganya, sebagaimana kabar beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  sendiri:

وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ

“Aku adalah orang yang paling baik di antara kalian  terhadap keluargaku.” (HR. at-Tirmidzi, disahihkan dalam  ash-Shahihah no. 285)

 

 

Al-Aswad Rahimahullah , seorang tabi’in, berkata: Aku pernah bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu ‘anha , “Apa yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  di dalam rumahnya?” Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam , Aisyah Radhiyallahu ‘anha , menjawab:

 

كَانَ يَكُوْنُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ –تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ– فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ

 

“Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya. Jika datang waktu shalat, beliau keluar  untuk melaksanakannya.”

(HR. al-Bukhari no. 676)

 

 

 

Dalam riwayat Ahmad (6/256) dan Ibnu Hibban yang dibawakan dalam Fathul Bari (2/212) disebutkan:

يَخِيطُ ثَوْبَهُ

“Beliau biasa menjahit pakaiannya.”

 

Ibnu Hibban menambahkan:

وَيَرْقَعُ دَلْوَهُ

“Dan menambal embernya.”

 

 

 

7.  MENYEBARKAN RAHASIA ISTRI DAN HUBUNGAN INTIM DENGANNYA

 

Hubungan intim yang dilakukan bersama istri, bagi sebagian orang yang jahil, bukan lagi sesuatu yang harus dijaga, disimpan rapat, dan dirahasiakan. Hal itu justru dibicarakan secara terbuka dengan kawan-kawan mereka di kedai, warung kopi, di jalanan, dan kadang diungkap di media massa, baik sebagai bahan lelucon maupun untuk berbangga. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  telah bersabda:

 

إِنَّ أَشَرُّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلُ يُفْضِي إِلَى الْمَرْأَةِ وَتُفْضِي إِلَيْهَا ثُمَّ

 

يَنْشُرُ سِرَّهَا

 

“Manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah suami yang bercampur dengan istrinya dan istrinya bercampur dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya.”

(HR. Muslim no. 3527)

 

 

Hadits ini menunjukkan haramnya seorang suami menyebarkan apa yang berlangsung antara dirinya dan istrinya, yaitu perkara-perkara istimta’ dan merinci hal

tersebut. Haram pula membeberkan kepada orang lain apa yang diucapkan dan diperbuat oleh istrinya saat berhubungan dan semisalnya.

 

 

 

8.  TERGESA-GESA DAN BERMUDAH-MUDAH MENJATUHKAN TALAK

 

 

Ikatan pernikahan adalah ikatan yang kuat. Allah Subhanahu wata’ala  sendiri yang  menamakannya dengan mitsaqan ghalizha, sebagaimana firman-Nya:

 

“Dan mereka (para istri) telah mengambil dari kalian perjanjian yang kuat.” (an-Nisa: 21)

 

 

Oleh karena itu, tidaklah pantas seorang suami tergesa-gesa dan bermudah-mudah ingin mengurai ikatan ini dengan kalimat talak atau cerai. Sungguh perceraian dalam Islam tidaklah disyariatkan untuk menjadi pedang yang tajam yang diletakkan di leher istri.

 

 

Islam tidak melarang perceraian sama sekali, namun ia bukan langkah awal dalam menyelesaikan perselisihan. Islam telah mengajarkan tahapan-tahapan penyelesaian

terhadap persoalan dan pertikaian yang muncul di antara  suami-istri. Jika sumber permasalahan berasal dari istri, penyelesaiannya sebagaimana yang Allah Subhanahu

wata’ala  firmankan dalam Tanzil-Nya:

 

“Istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz/pembangkangannya maka nasihatilah mereka, pisahkanlah mereka (boikot) di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaati kalian (taubat dan berhenti dari nusyuznya), janganlah sekali-kali kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” (an-Nisa: 34)

 

 

Jika sumber masalah dari suami, misalnya ia tak menyukai istrinya, daripada bercerai, Islam menawarkan perdamaian dengan cara istri merelakan sebagian haknya tidak dipenuhi. Misalnya, hak beroleh nafkah, pakaian, atau mabit/bermalam, asalkan tetap bersatu dalam ikatan pernikahan (Tafsir Ibnu Katsir, 2/314).

 

 

Hal ini seperti tersebut dalam firman Allah Subhanahu wata’ala :

“Dan jika seorang istri khawatir akan nusyuz atau sikap acuh tak acuh dari suaminya, tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian dengan sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik bagi mereka walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir.” (an-Nisa:128)

 

 

Jika persoalannya berasal dari kedua belah pihak, keluarga masing-masing didatangkan untuk membantu mencarikan penyelesaian problem keduanya sebagaimana firman-Nya:

 

“Dan jika kalian mengkhawatirkan persengketaan diantara keduanya, utuslah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan niscaya Allah akan memberikan taufik kepada suami istri tersebut.” (an-Nisa: 35)

 

 

Kalaupun mau tidak mau kalimat talak harus terucap dan jalan perpisahan terpaksa ditempuh, seorang suami harus memerhatikan agar ia tidak menceraikan istrinya dalam keadaan haid, atau dalam keadaan suci tetapi sempat digaulinya dalam masa suci tersebut, sampai tampak jelas atau diperoleh kepastian si istri ini hamil atau tidak dari hasil hubungan tersebut. Semua ini berkaitan dengan ’iddah yang harus dijalani oleh istri pasca-perceraian.

 

Kalau ia ditalak dalam keadaan haid, masa ’iddah yang harus dilaluinya nanti akan panjang karena haid yang sedang dijalani tidak terhitung. Ia harus menunggu tiga haid yang berikutnya. Begitu pula jika si istri ditalak dalam keadaan suci tapi telah digauli, tidak bisa dipastikan bagaimana iddahnya, apakah tiga quru’ [3]  jika ia tidak hamil ataukah dengan melahirkan kandungannya jika ternyata ia hamil[4].

 

 

Seharusnya, suami menjatuhkan talak di saat istri bisa menghadapi ’iddahnya dengan jelas, yaitu saat suci sebelum digauli, atau saat si istri tengah mengandung. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman:

 

“Wahai Nabi, apabila kalian menceraikan istri-istri kalian, hendaklah kalian ceraikan mereka pada saat mereka dapat menghadapi iddahnya yang wajar…” (ath-Thalaq: 1)

 

 

Tidak diperkenankan pula bagi suami langsung  menjatuhkan talak tiga pada istrinya dalam satu kesempatan. Hendaklah talak itu dijatuhkan satu per satu.

 

 

 

9.  RASA CEMBURU YANG LEMAH

 

Di masa ini, kecemburuan seorang suami terhadap istrinya telah melemah. Jika ditanya apa buktinya? Kita katakan banyak. Di antaranya, seorang suami membolehkan lelaki lain yang bukan mahram istrinya bersalaman dengan si istri, bertatap muka dengannya, tersenyum, dan berbincang-bincang bersama.

 

 

Sama saja apakah lelaki yang bukan mahram si istri itu adalah kerabat suami, saudara lelakinya, misannya, atau orang jauh/bukan kerabat suami. Dibiarkannya si istri keluar rumah dengan berdandan ala jahiliah, baik dengan dalih berbelanja, kerja, menghadiri undangan, maupun alasan lain.

 

 

Termasuk pula bukti kelemahan cemburu suami adalah membiarkan istrinya pergi berduaan dengan sopir pribadi dalam mobil. Sungguh, betapa banyak problem yang timbul karena sikap meremehkan ini! Betapa banyak keluarga yang hancur akibat kemaksiatan ini. Wallahul musta’an.

 

 

Di manakah mata yang mau melihat, telinga yang mau mendengar, dan hati yang mau memahami? Semoga Allah Subhanahu wata’ala  memberi hidayah dan taufik-Nya kepada kita semua. Amin.

 

 

Catatan Kami:

 

[1] Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  menyatakan, “Sebaik -baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya,” karena para wanita/istri adalah makhluk Allah Subhanahu wata’ala  yang lemah sehingga sepantasnya menjadi tempat curahan kasih sayang. (Tuhfatul Ahwadzi,4/273)

 

[2] Humaira adalah bentuk tashghir dari hamra’ yang bermakna wanita yang putih kemerah-merahan.

 

[3] Tentang maksud quru’, ulama salaf, khalaf, dan para imam, terbagi dalam dua pendapat. Ada yang mengatakan quru’ adalah suci, ada pula yang mengatakan haid. Wallahu a’lam. (Tafsir Ibni Katsir, 2/353—354)

 

[4] Iddah wanita yang hamil disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Dan perempuan-perempuan yang hamil, masa iddah mereka adalah sampai mereka  melahirkan kandungannya.” (ath-Thalaq: 4)

 

Adapun wanita yang tidak hamil disebutkan dalam:

“Istri-istri yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga quru’.” (al-Baqarah: 228)

 

 

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah, Majalah AsySyariah Edisi 066, 067, 069

 

 

http://www.daarulhaditssumbar.or.id/2013/08/permasalahan-rumah-tangga-beberapa_30.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s