PERMASALAHAN RUMAH TANGGA:  BEBERAPA KEKELIRUAN SUAMI (Bag I)

catatanmms0101

PERMASALAHAN RUMAH TANGGA:  BEBERAPA KEKELIRUAN SUAMI (Bag I)

 

Islam telah mengajarkan bagaimana seharusnya menjadi seorang istri dan bagaimana seharusnya menjadi suami yang baik. Namun, disayangkan aturan Islam yang demikian adil, arif dan sempurna banyak dilanggar oleh pemeluknya termasuk dalam hal yang satu ini. 

 

Pelanggaran yang terjadi bisa karena kesengajaan, atau sikap masa bodo terhadap apa yang dimaukan syariat, atau lebih banyaknya karena memang jahil alias tidak paham. Jika seorang suami mempunyai kesalahan dan kekurangan, Islam akan menegur dan mengarahkannya kepada kebaikan dan hal yang semestinya.

 

Kesalahan dan kekeliruan suami ini akan menimbulkan akibat yang buruk. di antaranya: Perceraian dan timbulnya berbagai proble, suami isteri lainnya. Sikap suami ini adalah dosa yang akan dituntut di hadapan Allah Subhanahu wata’ala  karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:

 

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ… وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ

 

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya… Dan suami adalah pemimpin atas keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan

Muslim)

 

Bukankah seorang suami berkewajiban menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka, sebagai pengamalan dari firman Allah Subhanahu wata’ala :

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (at-Tahrim: 6)

 

Untuk bisa mengambil pelajaran dan melakukan perbaikan diri, tidak ada salahnya kita menengok kekeliruan yang terjadi lalu kita melihat sikap yang seharusnya dan semestinya

dilakukan oleh seorang suami.  Berikut ini kita mencoba menyebutkan beberapa

kesalahan yang ada pada suami.

 

 

1. TIDAK MEMEDULIKAN PENGAJARAN DINIYAH (AGAMA) UNTUK ISTRI

 

Mendidik istri adalah tanggung jawab suami, sebagai perwujudan firman Allah Subhanahu wata’ala :

 

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….” (at-Tahrim: 6)

 

 

Termasuk bentuk menjaga keluarga dari api neraka adalah menjaga istri dengan  memberikan pengajaran agama kepadanya. Seperti kata Ali ibnu Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, “Didik dan ajarilah mereka.” Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘ anhuma  berkata,  “Amalkanlah ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, takutlah berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan perintahkanlah keluarga kalian untuk berzikir, niscaya Allah Subhanahu wata’ala  akan menyelamatkan kalian dari api neraka.” Qatadah mengatakan, “Engkau memerintahkan mereka agar taat kepada Allah Subhanahu wata’ala  dan melarang mereka bermaksiat. Engkau menegakkan mereka dengan perintah Allah Subhanahu wata’ala. Engkau menyuruh dan membantu mereka mengerjakan perintah Allah Subhanahu wata’ala. Apabila melihat mereka berbuat maksiat, hendaknya engkau melarang dan memperingatkan mereka.”

(Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim, 8/133)

 

 

Karena suami yang bersikap ‘masa bodo’ atau pura-pura bodoh ini, dijumpai adanya istri yang tidak mengetahui cara shalat yang benar. Ada yang tidak mengerti hukum haid dan nifas. Bahkan, ada yang tidak mengetahui cara bergaul dengan suaminya yang sesuai dengan syariat. Demikian pula bagaimana cara yang baik dan Islami  dalam mendidik anak-anaknya, dan seterusnya.

 

 

Yang lebih parah, ada istri yang terjatuh dalam kesyirikan tanpa mereka sadari, seperti mendatangi dukun dan tukang sihir, memercayai khurafat, takhayul, jimat-jimat, dan

sebagainya.

 

 

Untuk urusan masak-memasak, istri sampai mencurahkan waktu dan perhatiannya untuk belajar masakan Eropa, Jepang, atau lainnya karena suami menuntutnya harus pandai dari sisi ini. Namun, bagaimana cara shalat yang benar, yang didahului oleh wudhu yang sempurna, suaminya tidak peduli.

 

 

Suami yang seperti ini jelas tidak bertanggung jawab, padahal di hari akhir nanti setiap

orang akan dimintai pertanggungjawabannya. Dalam riwayat an-Nasa’i disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:

 

إِنَّ اللهَ تَعَالَى سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعاَهُ، أََحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَ، حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

 

“Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya, apakah dia menjaganya  ataukah menyia-nyiakannya, hingga seorang suami akan ditanyai tentang keluarganya.”

(Disahihkan oleh al-Imam al-Albani Rahimahullah  dalam  ash-Shahihah no. 1636)

 

 

 

Apabila suami tidak bisa memberikan pengajaran agama secara langsung kepada istrinya karena keterbatasan yang ada, dia bisa menempuh cara lain agar tertunaikan kewajiban yang satu ini. Di antaranya, membawa istrinya ke majelis-majelis ilmu yang mungkin diadakan di masjid, atau di rumah, ataupun di tempat lain. Dia bisa memberikan dorongan kepada istrinya agar mencintai ilmu dan majelis ilmu. Dia menyiapkan buku-buku agama yang bisa dibaca oleh istrinya atau kaset-kaset ceramah, CD ilmiah, dan semisalnya sesuai dengan kemampuan yang ada.

 

 

 

2. MENCARI-CARI KESALAHAN DAN MENYELIDIK AIB/CACAT ISTRI

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  menyatakan siapa yang mencari-cari keburukan saudaranya sesama muslim, niscaya Allah Subhanahu wata’ala  akan mencari-cari aibnya. Barang siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah Subhanahu wata’ala niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan membukanya walaupun ia berada ditengah-tengah rumahnya.

 

 

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘ anhuma , ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  naik mimbar lalu berseru dengan suara yang tinggi. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:

 

ياَ مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الْإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ تُعَيِّرُوْهُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَّبَعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

 

“Wahai sekalian orang-orang yang berislam dengan lisannya namun iman belum menembus ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin. Janganlah menjelekkan dan mencari-cari cela mereka. Barang siapa mencari-cari cela saudaranya sesama muslim, niscaya Allah akan mencari-cari celanya. Barang siapa yang dicari-cari celanya oleh Allah, niscaya Allah akan membeberkannya walaupun ia berada di tengah-tengah tempat tinggalnya.”

(HR. at-Tirmidzi, dihasankan dalam al -Misykat no. 5044 dan Shahih Sunan at-Tirmidzi)

 

 

 

3.  MENZALIMI ISTRI DENGAN MENJATUHKAN HUKUMAN YANG TIDAK SEMESTINYA

 

Di antara bentuk hukuman yang tidak semestinya adalah sebagai berikut.

a. Memukul istri padahal belum ditempuh jalan nasihat dan hajr (boikot).

 

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman:

“Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, nasihatilah mereka dan tinggalkanlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.”

(an-Nisa: 34)

 

 

Ayat di atas menunjukkan bahwa jika seorang istri berbuat nusyuz kepada suaminya, seperti tidak mau taat dalam urusan kebaikan yang diperintahkan oleh suami, hendaknya yang pertama kali dilakukan oleh suami adalah menasihati istri. Jangan langsung memukulnya.

 

 

Jika nasihat tidak mempan, suami naik ke tahap berikutnya, yaitu mendiamkan si istri dan memunggunginya di tempat tidur. Aturan ini juga dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu

‘alaihi wasallam  dalam hadits berikut:

 

أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُْمْ، لَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنََّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ إِلاَّ أَنْ يَأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ، فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوْهُنَّ فيِ الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ

 

“Ketahuilah, berpesan-pesan baiklah kalian kepada para wanita (istri) [1], karena mereka hanyalah tawanan di sisi kalian. Tidaklah kalian menguasai dari mereka sedikitpun  selain itu [2], melainkan jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata [3]. Jika mereka melakukannya, jauhilah mereka di tempat tidurnya, dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

 

 

b. Menampar wajah istri, mencerca, dan menjelekkannya.

Mu’awiyah bin Haidah Radhiyallahu ‘anhu  berkata, “Aku pernah bertanya:

 

يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوْهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّح وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ

 

“Wahai Rasulullah, apakah hak istri salah seorang dari kami terhadap suaminya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  menjawab, “Engkau memberi makan istrimu jika engkau makan, dan engkau memberi pakaian jika engkau berpakaian. Jangan engkau memukul wajahnya, jangan engkau menjelekkannya [4], dan jangan  menghajr / memboikotnya selain di dalam rumah [5].”

(HR. Abu Dawud, disahihkan asy-Syaikh Muqbil Rahimahullah dalam al-Jami’ush Shahih, 3/86)

 

 

 

4. MENGURANGI NAFKAH ISTRI

 

Nafkah yang diberikan oleh seorang suami kepada istrinya adalah suatu kewajiban yang tersebut dalam Al-Qur’an, sunnah serta ijma’/kesepakatan ulama. Allah Subhanahu

wata’ala  berfirman:

 

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (al-Baqarah: 233)

 

 

Pengertian ma’ruf adalah yang dianggap baik menurut syariat, tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir, namun sesuai dengan kebiasaan yang berlangsung dan apa yang biasa diterima oleh wanita semisalnya. Tentunya hal ini sesuai dengan kemampuan suami dalam keluasan dan kesempitannya. (Tafsir Ibni Katsir, 1/371)

 

 

Jika seorang istri diuji dengan mendapatkan suami kikir yang menahan haknya dalam nafkah tanpa kebolehan syar’i, ia diperkenankan mengambil harta suaminya sekadar yang mencukupinya dengan ma’ruf, meskipun suami tidak tahu.

 

 

Hindun Radhiyallahu ‘anha , seorang sahabiyah yang mulia, pernah mengadu kepada

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :

 

ياَ رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيْحٌ وَلَيْسَ يُعْطِيْنِي مَا يَكْفِيْنِي وَوَلَدِيْ إِلاَّ مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ. فَقَالَ: خُذِيْ مَا يَكْفِيْكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوْفِ

 

“Wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan (suaminya, -red.) adalah seorang yang kikir [6]. Ia tidak memberiku nafkah yang mencukupiku dan anakku, melainkan jika akumengambil uangnya tanpa sepengetahuannya [7].” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Ambillah apa yang mencukupimu dan anakmu dengan cara yang baik.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

 

Hadits di atas, kata al-Imam an-Nawawi Rahimahullah, memberi faedah wajibnya menafkahi istri. (al-Minhaj, 11/234) Andai para suami menyadari bahwa nafkah yang

diberikannya kepada istri dan anak-anaknya adalah sedekah, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan:

 

دِيْناَرًا أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ، وَدِيْناَرًا أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِيْنَارًا تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ، وَدِيْنَارًا أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

 

 

“Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk istri/keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk istri/keluargamu.”

(HR. Muslim no. 995)

 

 

Catatan Kami:

 

[1]  Maknanya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan, “Aku wasiatkan kalian untuk berbuat kebaikan kepada para istri. Maka dari itu, terimalah wasiatku ini.” Demikian dijelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi.

 

[2] Maksudnya selain istimta’ (bersenang-senang), menjaga diri untuk suaminya, menjaga harta suami dan anaknya, serta menunaikan kebutuhan suami dan melayaninya. (Bahjatun Nazhirin, 1/361)

 

[3] Seperti berbuat nusyuz (tidak taat kepada suami), buruk pergaulannya dengan suami, dan tidak menjaga kehormatan dirinya. (Tuhfatul Ahwadzi)

 

[4] Maksudnya, mengucapkan ucapan yang buruk kepada istri, mencaci-makinya, atau mengatakan kepadanya, “Semoga Allah menjelekkanmu,” atau ucapan semisalnya. (Aunul Ma’bud, “Kitab an-Nikah, bab Fi Haqqil Mar’ah ‘ala Zaujiha”)

 

[5] Memboikot istri dilakukan ketika istri tidak mempan dinasihati atas kemaksiatan yang dilakukannya. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh ayat berikut.

“Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuznya maka berilah nasihat kepada mereka, hajr/boikotlah mereka ditempat tidur….” (an-Nisa: 34)

 

Pemboikotan ini bisa dilakukan di dalam atau di luar rumah, seperti yang ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu  tentang kisah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  meng-ila’ istrinya (bersumpah untuk tidak ‘mendatangi’ istri-istrinya) selama sebulan dan selama itu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  tinggal di masyrabahnya (kamar yang tinggi; untuk menaikinya perlu tangga). (HR. al-Bukhari)

 

Penerapan hal ini tentunya melihat keadaan. Jika memang diperlukan boikot di luar rumah maka dilakukan. Namun, jika tidak, cukup di dalam rumah. Bisa jadi, boikot dalam rumah lebih mengena dan lebih menyiksa perasaan si istri daripada boikot di luar rumah. Bisa juga

sebaliknya. Akan tetapi, yang dominan adalah boikot di luar rumah lebih menyiksa jiwa, khususnya jika yang menghadapinya adalah kaum wanita karena lemahnya jiwa mereka. (Fathul Bari, 9/374)

 

Al-Imam an-Nawawi Rahimahullah  berkata berkenaan dengan kisah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meng-ila’ istri-istrinya, “Suami berhak memboikot istrinya dan memisahkan diri dari istrinya ke rumah lain apabila ada sebab yang bersumber dari si istri.” (al-Minhaj, 10/334)

 

[6] Hindun Radhiyallahu ‘anha  tidaklah menyatakan bahwa suaminya bersifat pelit dalam seluruh keadaan. Dia hanya sebatas menyebutkan keadaannya bersama suaminya bahwa suaminya sangat menyempitkan nafkah untuknya dan anaknya. Dengan demikian, tidak berarti bahwa Abu Sufyan memiliki sifat pelit secara mutlak. Betapa banyak tokoh pemuka masyarakat yang melakukan hal tersebut kepada istri/keluarganya dan lebih mementingkan (baca: dermawan kepada) orang lain. Demikian disebutkan dalam Fathul Bari (9/630).

 

[7] Dalam riwayat Muslim, Hindun Radhiyallahu ‘anha bertanya, “Apakah aku berdosa jika melakukan hal tersebut?”

penulis ustadzah zulfa ummu ishaq al atsariyyah

asysyariah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s