BOLEHKAH MENDENGAR MUROTTAL DARI QORI’ YANG BUKAN AHLUSSUNNAH ?

Catatanmms 29

——————————————————-

BOLEHKAH MENDENGAR MUROTTAL

DARI QORI’ YANG BUKAN AHLUS SUNNAH ?

🔸🔹Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah

——————————————————-

 

Penanya:

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan, ada seorang penanya dari Amerika mengatakan:

“Apakah hukum mendengar bacaan Al-Qur’an dari sebagian masayikh yang bukan seorang salafy, demikian juga seseorang yang pada dirinya terdapat sebagian bid’ah, dan apakah saya berdosa jika saya mendengarkan bacaan mereka?”

 

Asy-Syaikh:

 

Bihamdillah ada para qari’ yang termasuk orang-orang yang akidahnya selamat dan manhajnya lurus, bihamdillahi rabbil a’lamin. Jadi mendengarkan bacaan mereka itulah yang diharapkan.

 

Adapun mendengarkan bacaan seseorang yang telah dikenal melakukan bid’ah dan kesesatan –terlebih lagi jika dia adalah seorang dai– jika dia mengajak kepada kesesatan, maka dikhawatirkan dengan sebab suaranya ketika membaca Al-Qur’an seseorang akan terpengaruh hingga mengikuti kesesatan yang dia serukan.

 

Maka yang dituntut adalah menutup pintu ini. Menutup pintu ini jelas lebih baik, karena tidak ada sesuatu yang sifatnya darurat yang mengharuskan untuk mendengarkan bacaannya.

 

Demikian juga seseorang tidak boleh merasa aman terhadap dirinya dari fitnah.

 

Pernah seseorang datang kepada Ibnu Sirin dan ingin membacakan Al-Qur’an kepada beliau, maka beliau menolaknya dengan mengatakan:

“Jangan engkau bacakan kepadaku!”

 

Sebagian orang yang hadir ada yang berkata kepada beliau:

“Dia hanya ingin membacakan Al-Qur’an kepada Anda.”

 

Maka Ibnu Sirin menjawab:

“Hatiku tidak berada di tanganku.”

 

Maksudnya: bisa jadi saya terpengaruh sehingga menerima keburukannya. Jadi Ibnu Sirin didatangi oleh seorang ahli bid’ah yang ingin membacakan Al-Qur’an kepada beliau.

Maka Ibnu Sirin menolak dengan mengatakan:

“Engkau yang keluar atau aku yang keluar!”

 

Orang-orang mengatakan:

“Dia hanya ingin membacakan Al-Qur’an kepada Anda.”

 

Maka beliau menjawab:

“Sesungguhnya hatiku tidak berada di tanganku.”

 

💕Adz-Dzahaby rahimahullah pernah mengatakan di dalam Siyar A’lamin Nubabala’:

“Hati-hati manusia itu lemah, sementara syubhat-syubhat terus menyambar-nyambar mencari korban.”

 

Jadi seorang muslim Ahlus Sunnah akan selalu berupaya menjaga hatinya dengan segenap kemampuan dan sekuat tenaganya.

Hanya kepada Allah saja kita memohon pertolongan.

 

~ Download Audio ⤵

 

Alih bahasa: Abu Almass

Senin, 21 Jumaadats Tsaniyah 1435 H

WSI/ http://forumsalafy.net/?p=2842

 





Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s