MENGAMBIL HIKMAH DALAM SUATU PERISTIWA

๐Ÿ’งcatatanmms304

NASEHAT DAN RENUNGAN:

๎€ตุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…๎€ต

๎Œ‡MENGAMBIL HIKMAH DALAM SUATU PERISTIWA๎Œ…

 

Wahai saudaraku yang kucintai karena Allahโ€ฆ

 

Mungkin kita semua pernah mendengar dan bahkan diantara kita sudah banyak yang hafal firman Allah yang Agung ini, yaitu;

 

{ูˆูŽุงุชูŽู‘ู‚ููˆุง ููุชู’ู†ูŽุฉู‹ ู„ูŽุง ุชูุตููŠุจูŽู†ูŽู‘ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุธูŽู„ูŽู…ููˆุง ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุฎูŽุงุตูŽู‘ุฉู‹ ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ููˆุง ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุดูŽุฏููŠุฏู ุงู„ู’ุนูู‚ูŽุงุจู}

 

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” [QS. Al Anfaal: 25]

 

๎… Berkata Ibnu ‘Abbas_radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini: “Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman agar mereka tidak membiarkan kemungkaran berada ditengah-tengah mereka, sehingga Allah akan menimpakan adzab kepada mereka semua.” [Tafsir Ibnu Katsir 4/38]

 

Ayat diatas memberikan kita sekian banyak faedah, diantaranya adalah wajibnya memerintahkan manusia untuk berbuat ketaatan kepada Allah dan mencegah mereka dari segala bentuk kemungkaran. Tidak boleh bagi kita diam ketika melihat kemungkaran dihadapan kita, padahal kita mampu mengingkarinya. Jika diam dan tidak ada pengingkaran, bisa jadi fitnah atau adzab Allah akan turunkan bukan hanya kepada orang-orang yang berbuat jelek saja, bahkan akan menimpa pula kepada yang lainnya.

 

๎… Berkata Syaikh As Sa’di_rahimahullah: “Bahkan (musibah) itu akan menimpa orang yang berbuat zhalim dan yang lainnya. Yang demikian itu apabila telah tampak kezhaliman namun tidak ada pengingkaran, maka hukumannya akan menimpa pelaku kezhaliman dan juga yang lainnya. Untuk berlindung dari fitnah ini adalah dengan adanya pengingkaran dari segala bentuk kemungkaran dan menahan para pelaku kejelekan dan kerusakan, dan bagaimanapun caranya jangan membiarkan mereka leluasa berbuat kemaksiatan dan kezhaliman.” [Tafsir As Sa’di hal. 318]

 

Saya ingin memberikan beberapa contoh bagaimana dampak negatif suatu kesalahan atau kemasiatan berefek kepada yang lainnya, padahal yang lainnya tidak ikut berbuat.

 

๎„–Contoh pertama: Ada seorang anak berbuat kejelekan atau kemaksiatan. Pada suatu hari orang-orang mendapatkan dia sedang berbuat kemaksiatan. Spontan saja terucap pada lisan mereka; “Hai, kamu berbuat kemaksiatan, siapa bapakmu dan siapa gurumu, apa tidak bisa mendidik anak dengan baik?!”

 

Ya Subhanallahโ€ฆ

Bapak dan gurunya yang tidak ikut berbuat kemaksiatan ternyata ikut kena semprot, keluarga dan sekolahnya yang tidak pernah mendidik anak tersebut berbuat kejelekan ternyata ikut tercemar dan tercap jelek disebabkan ulah dari anak tersebut.

 

๎„“ Contoh kedua; Ada suatu kejadian pada enam tahun yang lalu disalah satu pondok pesantren di negeri Yaman. Hal yang telah dimaklumi, bahwa diantara peraturan pondok adalah dilarang bagi santri ghuraba (dari negara asing) untuk membawa senjata. Pada suatu hari, ada salah satu santri ghuraba (asal Eropa) ada yang melanggar peraturan ini, dia pergi bersama beberapa orang yaman ke padang pasir bermain senjata. Ya subhanallah, ternyata pihak amin siyasi (intelejen yaman) telah mengintai perbuatan mereka, segera saja pihak amin siyasi menangkap santri tersebut dan memasukannya kedalam penjara. Apakah sampai disini perkaranya? Tidak, ternyata dampak negatif dari pelanggaran santri tersebut merambat kepada santri asing yang lainnya yang tidak tidak pernah ikut terlibat dalam pelanggaran tersebut. Terjadilah penangkapan santri asing yang lainnya yang sedang santai-santai di tempat makan dekat pondok tanpa mereka duga. Setelah itu pula, akhirnya pihak pemerintah Yaman memperketat ijin bagi santri asing yang ingin belajar di pondok tersebut.

 

๐Ÿ’ฅContoh ketiga: Kejadian ini terjadi sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu, kejadian ini terjadi pula disalah satu pondok pesantren di negeri Yaman. Suatu hari, ada salah satu santri asing memiliki masalah dengan salah satu warga yang beraqidah shufi. Warga tersebut membesar-besarkan masalah itu ke pihak Imigrasi Yaman. Ternyata ujung dari masalah tersebut berakibat kepada penangkapan dan pemeriksaan dari pihak Imigrasi Yaman terhadap seluruh santri-santri asing yang berada dipondok tersebut.

 

Wahai saudaraku yang kumulyakanโ€ฆ

 

๐Ÿ”ญ Lihatlah tiga peristiwa diatas! Dampak dari sebuah kesalahan atau masalah yang dilakukan salah satu dari mereka, ternyata berimbas kepada yang lainnya.

 

Oleh karena itu, wahai saudarakuโ€ฆ

๎€ตSaya nasehatkan untuk diri saya secara pribadi dan juga saudaraku sekalian, untuk adanya diantara kita saling nasehat-menasehati, saling mengingatkan agar tidak berbuat kemaksiatan, dan memerintahkan saudaranya untuk berbuat kebaikan, ketaatan dan ketaakwaan kepada Allah.

 

๎€ตSaya juga ingatkan, untuk berhati-hati dari segala bentuk kemaksiatan, karena kemaksiatan yang kita perbuat, terkadang imbasnya bukan hanya menimpa kepada kita saja, tetapi juga menimpa saudara kita yang lainnya. Kenapa nama baik orang tua kita, pondok kita bahkan terkadang manhaj kita ini dipandang jelek dan negatif oleh sebagian manusia?! Itu karena disebabkan karena kemaksiatan dan kesalahan kita, sadar maupun tidak kita sadari. Jadi kita tidak boleh langsung menyalahkan orang lain, namun sikap yang bijak adalah kita koreksi pribadi kita, jangan-jangan kejadian itu terjadi disebabkan karena ulah atau kemaksiatan kita.

 

๎€ตSaya nasehatkan, jika ada dari saudara kita memberikan nasehat, hendaknya kita dengar dan kita terima, karena tidaklah dia menasehati kita, melainkan karena dia cinta dan sayang kepada kita. Karena seandainya dia benci dan memusuhi kita, niscaya dia akan membiarkan kita tenggelam dalam kesalahan dan kemaksiatan, karena ngapain repot-repot mengurusi urusan orang lain.

 

๐Ÿ“‹ Disebutkan oleh para ulama, bahwa kawan yang baik adalah mereka yang memiliki dua sifat; sifat terus terang dan senang untuk saling nasehat menasehati.

 

๎€ดMari kita simak kalimat yang indah dari salah seorang ulama besar, yaitu Ibnu Qudamah_rahimahullah, beliau berkata:

 

“Ketahuilah โ€“ semoga Allah merahmatimu -, sesungguhnya Allah Ta’ala apabila menginginkan kebaikan pada seorang hamba, Allah perlihatkan kepadanya aib-aib yang ada pada dirinya. Barangsiapa yang sempurna penglihatannya, niscaya aib-aib yang ada pada dirinya tidak tersamarkan olehnya. Barangsiapa yang telah mengetahui aib-aibnya, maka dia akan mampu memperbaikinya. Akan tetapi yang sangat disayangkan, kebanyakan manusia tidak mengetahui aib-aib yang ada pada dirinya. Seorang bisa melihat kotoran mata yang melekat di pelupuk mata saudaranya, namun tidak bisa melihat seekor anak onta (yang berumur 4 tahun keatas) didepan matanya sendiri.

 

Beliau berkata: “Barangsiapa ingin mengetahui aib-aib yang ada pada dirinya, hendaknya dia menempuh empat jalan ini;

 

๎ˆœ. Jalan pertama: Hendaknya engkau duduk dihadapan seorang syaikh yang memiliki ilmu menjelaskan aib-aib pribadi, sehingga dapat menjelaskan aib-aib yang ada pada dirinya dan cara mengobatinya. Sungguh suatu kemulyaan, karena hal ini sudah ada pada jaman sekarang. Maka barangsiapa telah mendapatkannya, sungguh dia telah mendapatkan seorang dokter yang spesialis yang tidak boleh dia tinggalkan begitu saja.

 

๎ˆ. Jalan kedua: Hendaknya dia mencari seorang kawan yang jujur, berilmu, shaleh dan yang bisa menjadi pengawas atas dirinya, untuk mengingatkan dirinya dari akhlak dan perbuatannya yang tidak bagus. Sungguh Amirul Mu’minin Umar bin Al Khaththab_radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: ‘Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada orang yang menunjukan aib-aibku kepadaku.’ Umar bertanya kepada Hudzaifah: ‘Apakah aku termasuk dalam golongan orang-orang munafik?’.

Setiap orang yang telah meninggi derajat kewaspadaannya, maka akan semakin bertambah pula perhatiannya terhadap dirinya.

Sungguh suatu kemulyaan pada jaman sekarang, masih adanya kawan yang memiliki sifat demikian (sifat terus terang dan senang menasehati), karena sedikit sekali bisa mendapatkan kawan yang tidak suka cari muka, sehingga mau memberitahukan aib (kita) dan tidak bersifat dengki. Sungguh dahulu para Salaf senang terhadap orang yang mau mengingatkan aib-aib mereka, namun kalau kita sekarang secara umum menjadi manusia yang paling emosi terhadap orang yang menjelaskan kepada kita tentang aib-aib kita. Maka hal ini menunjukan betapa lemahnya iman kita. Sesungguhnya akhlak yang jelek itu ibarat kalajengking, kalau seandainya ada yang mengingatkan bahwa dibawah salah satu pakaian kita ada kalajengking, niscaya kita segera membantu dan sibuk untuk membunuhnya. Akhlak yang jelek itu lebih besar bahayanya daripada seekor kalajengking yang tidak tersamarkan (keberadaannya).

 

๎ˆž. Jalan ketiga: kita juga bisa mengambil faedah untuk mengetahui aib-aib kita melalui lisan musuh-musuh kita, karena orang yang berpandanagan jelek (terhadap kita) akan menyebutkan kejelekan-kejelekan kita. Manusia dapat mengambil faedah lebih banyak dari musuhnya yang menyebutkan aib-aibnya daripada dia mengambil faedah dari kawannya yang suka cari muka.

 

๎ˆŸ. Jalan keempat: Hendaknya dia berbaur dengan dengan manusia, sehingga setiap kali dia melihat sesuatu yang tercela ditengah-tengah mereka, dia akan berusaha menjauhinya.”

 

[๎„ƒ diterjemahkan secara ringkas dari kitab Mukhtashar Minhaj Al Qashidin, karya Ibnu Qudamah]

 

 

Wahai saudaraku yang saya mulyakanโ€ฆ

 

Kita semua punya aib dan kesalahan, karena demikianlah Allah Ta’ala takdirkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

ยซู„ูŽูˆู’ู„ูŽุง ุฃูŽู†ูŽู‘ูƒูู…ู’ ุชูุฐู’ู†ูุจููˆู†ูŽ ู„ูŽุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุฎูŽู„ู’ู‚ู‹ุง ูŠูุฐู’ู†ูุจููˆู†ูŽ ูŠูŽุบู’ููุฑู ู„ูŽู‡ูู…ู’ยป

 

“Seandainya kamu sekalian tidak mempunyai dosa sedikit pun, niscaya Allah akan menciptakan suatu kaum yang melakukan dosa untuk diberikan ampunan kepada mereka.” [HR. Muslim, dari shahabat Abu Ayyub_radhiyallahu ‘anhu]

 

Jika kita telah mengetahui hal tersebut, bahwa setiap kita punya aib dan dosa, maka jika kita melihat saudara kita berbuat kesalahan, menzhalimi atau mencemarkan aib kita, maka ingatlah firman Allah Ta’ala!

 

{ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุณู’ุชูŽูˆููŠ ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ุณูŽู‘ูŠูู‘ุฆูŽุฉู ุงุฏู’ููŽุนู’ ุจูุงู„ูŽู‘ุชููŠ ู‡ููŠูŽ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู ููŽุฅูุฐูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูŽ ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ู ุนูŽุฏูŽุงูˆูŽุฉูŒ ูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู„ููŠูŒู‘ ุญูŽู…ููŠู…ูŒ (34) ูˆูŽู…ูŽุง ูŠูู„ูŽู‚ูŽู‘ุงู‡ูŽุง ุฅูู„ูŽู‘ุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุตูŽุจูŽุฑููˆุง ูˆูŽู…ูŽุง ูŠูู„ูŽู‚ูŽู‘ุงู‡ูŽุง ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฐููˆ ุญูŽุธูู‘ ุนูŽุธููŠู…ู (35) ูˆูŽุฅูู…ูŽู‘ุง ูŠูŽู†ู’ุฒูŽุบูŽู†ูŽู‘ูƒูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ู†ูŽุฒู’ุบูŒ ููŽุงุณู’ุชูŽุนูุฐู’ ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ู‡ููˆูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู…ููŠุนู ุงู„ู’ุนูŽู„ููŠู…ู (36)}

 

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka jika tiba-tiba ada orang yang antaramu dan antara dia permusuhan (jadikanlah) seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Fushshilat: 34-36]

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

ยซู„ุงูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ุŒ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูุญูุจูŽู‘ ู„ูุฃูŽุฎููŠู‡ู ู…ูŽุง ูŠูุญูุจูู‘ ู„ูู†ูŽูู’ุณูู‡ูยป

 

“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”. [Muttafaqun ‘alaihi, dari shahabat Anas_radhiyallahu ‘anhu]

 

Kita diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk memperlakukan saudara kita dengan baik, sebagaimana kita juga senang jika diperlakukan oleh orang lain dengan baik.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

ยซููŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุจูŽู‘ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฒูŽุญู’ุฒูŽุญูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑูุŒ ูˆูŽูŠูุฏู’ุฎูŽู„ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽุŒ ููŽู„ู’ุชูŽุฃู’ุชูู‡ู ู…ูŽู†ููŠูŽู‘ุชูู‡ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุจูุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ุขุฎูุฑูุŒ ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุฃู’ุชู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูŠูุญูุจูู‘ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุคู’ุชูŽู‰ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูยป

 

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin dijauhkan dari Neraka dan masuk Surga maka hendaknya kematian menjemputnya dalam keadaan ia beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan hendaknya ia memberikan kepada manusia apa yang ia senang untuk diberikan kepadanya.” [HR. Muslim, dari shahabat Abdullah bin ‘Amer_radhiyallahu ‘anhuma]

 

Wahai saudaraku yang kucintai karena Allahโ€ฆ

 

๎€ตNasehatilah saudaramu dengan baik, sebagaimana engkau suka jika engkau dinasehati dengan baik. Karena api tidaklah akan padam jika dipadamkan dengan api pula, bahkan akan menambah besar api tersebut, tetapi padamkanlah api kesalah pahaman atau permusuhan dengan air.

 

Wahai saudaraku yang kumulyakanโ€ฆ

 

Tidaklah kelembutan yang ada pada diri seseorang, melainkan akan semakin memperindah perangai orang tersebut.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

ยซุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุฑูู‘ูู’ู‚ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽูƒููˆู†ู ูููŠ ุดูŽูŠู’ุกู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฒูŽุงู†ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูู†ู’ุฒูŽุนู ู…ูู†ู’ ุดูŽูŠู’ุกู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุดูŽุงู†ูŽู‡ูยป

 

 

“Sesungguhnya kelembutan itu tidak akan berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika kelembutan itu dicabut dari sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi buruk.” [HR. Muslim, dari shahabat ‘Aisyah_radhiyallahu ‘anha]

 

๎… Berkata Al Hasan Al Bashri_rahimahullah:

 

“ุชูŽุฑูŽุงููŽู‚ููˆุง ูŠูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ุณูู‘ู†ูŽู‘ุฉูุŒ ููŽุฅูู†ูŽู‘ูƒูู…ู’ ุฃูŽู‚ูŽู„ูู‘ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู”

 

“Wahai para Ahlussunnah, hendaknya kalian saling berlemah lembut, karena sesungguhnya kalian adalah kaum yang paling sedikit”

 

Wahai saudaraku yang kucintai karena Allahโ€ฆ

 

Marilah kita benahi diri-diri kita. Jika engkau melihat ada diantara saudaramu jatuh dalam kemaksiatan, nasehatilah dia dengan baik, katakan padanya; ‘Wahai saudaraku yang kucintai karena Allah, Sadarlah! Kembalilah kepada Allah! Sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggung jawaban atas segala perbuatanmu dimuka buni ini.

 

Allah Ta’ala berfirman:

 

{ุฃูŽููŽุญูŽุณูุจู’ุชูู…ู’ ุฃูŽู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ ุนูŽุจูŽุซู‹ุง ูˆูŽุฃูŽู†ูŽู‘ูƒูู…ู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ู„ูŽุง ุชูุฑู’ุฌูŽุนููˆู†ูŽ}

 

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu untuk main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” [QS. Al Mu’minuun: 115]

 

Allah Ta’ala berfirman:

 

{ูŠูŽุณู’ุชูŽุฎู’ูููˆู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ุชูŽุฎู’ูููˆู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู…ูŽุนูŽู‡ูู…ู’}

 

“mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah.” [QS. An Nisaa: 108]

 

Kenapa kita takut kalau aib atau kemaksiatan kita diketahui oleh manusia, sedangkan kita tidak takut kepada Allah yang Maha Tahu segala apa yang diperbuat hamba-Nya?!

 

Wahai saudaraku, ingatlah firman Allah Ta’ala!

 

{ุฃูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ู†ู ู„ูู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฎู’ุดูŽุนูŽ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ู„ูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ู†ูŽุฒูŽู„ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุญูŽู‚ูู‘ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽูƒููˆู†ููˆุง ูƒูŽุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุฃููˆุชููˆุง ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ู ููŽุทูŽุงู„ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู ุงู„ู’ุฃูŽู…ูŽุฏู ููŽู‚ูŽุณูŽุชู’ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูƒูŽุซููŠุฑูŒ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ููŽุงุณูู‚ููˆู†ูŽ}

 

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS. Al Hadiid: 16]

 

Wahai saudaraku yang saya mulyakanโ€ฆ

 

Saya tutup risalahku ini dengan kilauan mutiara yang indah dari Salaf kita, berkata Al Hasan Al Bashri_rahimahullah:

 

“ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู„ูŽูู ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู‚ููŠูŽ ุฃูŽุฎูŽุงู‡ู ููŽูŠูŽู‚ููˆู’ู„ู: ูŠูŽุง ุฃูŽุฎููŠุŒ ุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ููŽู…ูุฑู’ู†ููŠ ุจูู‡ู ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ุดูŽุฑู‹ู‘ุง ููŽุงู†ู’ู‡ูŽู†ููŠ ุนูŽู†ู’ู‡ู”

 

“Dahulu salah seorang ulama salaf apabila ia bertemu dengan saudaranya, ia berkata; ‘Wahai saudaraku, jika engkau mengetahui suatu kebaikan, maka perintahkanlah saya (untuk mengamalkannya), jika engkau mengetahui suatu kejelekan maka cegahlah saya (untuk tidak melakukannya).”

 

Duhai betapa indahnya apa yang telah mereka contohkan kepada kita, dan betapa indahnya kalau seandainya hal ini diterapkan diantara kita.

 

๎€กAyo saudaraku! Kita hidupkan suasana ukhuwah kita dengan saling nasehati-menasehati, saling mengingatkan dan saling cinta-mencintai karena Allah. Jangan biarkan saudara kita lalai, futur dan terus tenggelam dalam kemaksiatan sehingga hatinya menjadi keras. Jika kita diam, kita kuatir Allah akan turunkan fitnah atau musibah yang bukan hanya menimpa orang-orang berbuat zhalim saja, melainkan akan menimpa kita juga.

 

Niatkanlah itu semua dalam rangka engkau mencintai saudaramu karena Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

ยซู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุจูŽู‘ ู„ูู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ูˆูŽุฃูŽุจู’ุบูŽุถูŽ ู„ูู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ูˆูŽุฃูŽุนู’ุทูŽู‰ ู„ูู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ูŽุนูŽ ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู ุงุณู’ุชูŽูƒู’ู…ูŽู„ูŽ ุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ูŽยป

 

“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang (menahan) karena Allah, maka sempurnalah imannya.” [HR. Abu Dawud, dari shahabat Abu Umamah_radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Syaikh Al Albani]

 

Demikianlah risalah ini saya tulis untuk saudaraku kaum muslimin, terkhushus untuk para Salafiyin. Semoga Allah memberikan manfaat dari tulisan ini kepada kita semua.

 

Apabila ada kebenaran dalam risalah ini, itu semata-mata datangnya dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan jika ada kesalahannya maka itu dari Syaithan dan dari diri saya, dan saya memohon ampun kepada Allah Ta’ala.

 

Waffaqallahul jami’ lima yuhibuhu wayardhahu!

 

โœ Dari hamba yang faqir kepada Allah

Abu ‘Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi_ghafarallahu lahu wali waalidaihi.

 

~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~โ€ข~

๎ท WA Permata Muslimah Salafiyah ๎„Ÿ

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s