BEGINILAH SEHARUSNYA PARA WALI/ORANGTUA DALAM MENCARIKAN JODOH BAGI ANAK-ANAKNYA

catatanmms89

BEGINILAH SEHARUSNYA PARA WALI/ORANGTUA DALAM MENCARIKAN JODOH BAGI ANAK2NYA

 

Perbincangan antara saya dengan seorang ustadz.

 

“kenapa anta belum menikah yaa akhi?”

 

“karena ana masih ada urusan yang membutuhkan fokus berlebih ustadz…”

 

“apa itu? keinginan anta kuliah S2 di dhahran? sebenarnya itu tidak bisa dijadikan alasan juga. menikah insya Allah tidak akan menghalangi niat dan usaha anta untuk mewujudkan cita-cita anta… atau jangan-jangan anta ingin sekalian bulan madu disana? Masya Allah…”

 

“do’akan yang terbaik saja ustadz.”

 

“Insya Allahu ta’ala akhi.”

 

“Tapi ada fenomena menarik ustadz, mungkin anta juga sudah mengetahuinya…”

 

“apa itu akhi?”

 

“keeksklusifan dalam memilih seorang suami…”

 

“ohh fenomena tersebut, na’am ana sudah mengetahuinya. bahkan itu sudah terjadi sejak lama. sejak puluhan tahun yang lalu. apa anta mengalaminya?”

 

“tidak ustadz, cuma pernah mendengar beberapa kisah kalau akhwat dari ma’had ini seperti sudah membatasi jodoh mereka. Minimal harus lulusan madinah. lulusan ‘ilmu syar’i di dalam negeri bagi mereka masih kelas ecek-ecek…”

 

“Na’am. tidak sedikit sebenarnya yang seperti itu di indonesia, bahkan yang sudah sangat ma’ruf adalah sebuah ma’had yang berada di luar jawa. Masya Allah… Itu sudah sangat terkenal akan hal seperti itunya…”

 

“Masya Allah yaa ustadz, ana kira cuma di pulau jawa saja yang melakukan ‘kesombongan berjama’ah’, ternyata di luar jawa pun ada yang seperti itu.”

 

“Na’am, harusnya mereka sadar siapa diri mereka… Memang menjaga keturunan rabbani itu penting, namun kalau cuma dilihat dari lulusan ini dan itu serta dari hafalan ini dan itu saja ana tidak sependapat dengan mereka… seakan-akan kualitas iman hanya tampak dari lulusan jami’ah kibar atau sudah hafal berapa kitab hadits. harusnya tidak seperti itu akhi. kualitas iman dan taqwa itu dilihat dari ‘amaliyyahnya… seberapa banyak ‘ilmu yang di’amalkan.”

 

“ahsanta yaa ustadz, ana pun kurang sependapat dengan pemikiran mereka…”

 

“Na’am, seakan kita ini mencari pendamping hidup sama halnya dengan mendaftar ke jami’ah islamiyyah… hafalannya berapa, sebelumnya sudah pernah belajar dimana, dan lain-lain. Padahal itu sama sekali tidak bisa menjadi jaminan.”

 

“na’am ustadz, kayak mau daftar ke Lipia saja. ada-ada saja…”

 

“na’am, ada kisah menarik tentang hal ini. ada seorang akhwat lulusan terbaik sebuah ma’had, menjadi kesayangan asatidzahnya… hingga suatu saat dicarikan calon suami lulusan kairo, mesir. namun ternyata setelah satu tahun menikah si akhwat dicerai oleh suaminya… Namun sayangnya ketika asatidz ini mengetahui perceraian tersebut, seakan-akan mereka menyalahkan ikhwan ini… akhwat ini tuh kurang apa, cantik, pintar dan lulusan terbaik. Mereka seperti menyudutkan si ikhwan. tapi akhirnya setelah si ikhwan bertabayyun barulah terbongkar semua. Ternyata si akhwat ini suka maen tangan, suka memukul, itu terjadi sejak awal pernikahan mereka… kalau seperti itu ‘ilmunya berbanding lurus dengan adab, akhlaq dan ‘amalnya tidak? Seorang akhwat lulusan terbaik loh…Hmmm. Itu bukan jaminan. dari situ akhirnya asatidzahnya pada bungkam.”

 

“Astaghfirullah. Istri menghajar suaminya…”

 

“Harusnya mereka lebih arif dan bijaksana dalam berfikir, tidak pernahkah mendengar cerita tentang shahabat julaibib radhiallahu ‘anhu? orang yang kurang tampan, ditolak hampir seluruh wanita dan walinya di madinah… namun akhirnya beliau tetap menikah juga, bahkan menikahi wanita yang sangat menurut terhadap perintah Allah dan RasulNya. Masya Allah. Laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik…”

 

“Masya Allah.”

 

“Ada lagi fenomena yang berasal dari kedua orangtua si akhwat, tak sedikit wali akhwat ketika ada ikhwan datang yang ditanyakan adalah hal-hal yang sekiranya sangat riskan untuk dipertanyakan…”

 

“Semisal apa ustadz?”

 

“Seperti pertanyaan hafal berapa juz, hafal berapa hadits, dari lulusan apa, riwayat pendidikannya dari ma’had apa… kalau nanti kita ditolak dari keluarga itu, seakan-akan kita ini ditolak dalam keadaan jahil sekali… terlihat seperti orang bodoh.

 

Atau mungkin pertanyaan bapaknya punya usaha apa, kita bekerja sebagai apa, punya tabungan berapa… kalau nanti kita ditolak dari keluarga itu, seakan-akan kita ini faqir sekali dalam keuangan. kalau ada keluarga bertanya akan hal ini sebaiknya ditinggalkan saja…

 

Apa mereka itu tidak punya adab dengan menanyakan hal riskan seperti itu secara langsung kepada orang yang mempunyai niat baik dengan bertamu ke rumahnya? Adakah ‘ulama yang mencontohkan demikian?

 

💥Ada?!!!, namun contoh yang sebaliknya. Beliau bercerita sendiri dalam muhadharah beliau, ketika beliau masih berstatus mahasiswa di al qashim, beliau mendatangi majlis syaikh al ‘utsaimin. setelahnya dari majlis tersebut, beliau menghampiri syaikh ‘utsaimin yang hendak pulang ke rumah syaikh ‘utsaimin, karena syaikh ‘utsaimin selalu berjalan kaki dari rumah ke tempat kajian begitu pula sebaliknya. ditengah jalan pemuda itu nekat memberanikan diri untuk bertanya, ‘syaikh apakah antum mempunyai anak perempuan?’, ketika mendengar pertanyaan pemuda tersebut, syaikh ‘utsaimin berubah mimik mukanya dan bertanya, ‘ada apa akh?’, pemuda itu menjawab, ‘kalau ada, ana berniat meminangnya, bolehkah ana meminangnya?…

 

lalu apa yang dilakukan syaikh utsaimin? apakah beliau bertanya usaha bapak kamu apa? kamu sudah hafal hadits berapa? sebelumnya kamu lulusan apa? gaji kamu berapa? tabungan kamu berapa? Bahkan syaikh ‘utsaimin tidak memberikan sebuah pertanyaanpun kepada pemuda ini, syaikh ‘utsaimin hanya berkata, “Tunggulah kabar dariku, Insya Allah akan aku telephon…”

 

Lalu dalam hari-hari penantian kabar tersebut, pemuda ini mengalami kegelisahan juga, satu hari berlalu, dua hari berlalu, hingga sepekan berlalu, beliau bertanya dalam hati, “apakah syaikh lupa ya, perlukah saya mengingatkannya?”, namun pemuda ini teringat perkataan syaikh yang menyuruhnya menunggu… Hingga akhirnya sebulan setelah peristiwa itu ada telephone yang dialamatkan ke asrama, namun kebetulan pemuda ini sedang kuliah. akhirnya dari pihak asrama menyampaikan ke pemuda ini bahwa beliau dicari oleh syaikh ‘utsaimin… Dalam hati dia bertanya, “kenapa ya syaikh ‘utsaimin mencariku?” karena ternyata pemuda ini sudah agak pesimis dan bahkan agak terlupakan…

 

Ketika beliau telp syaikh ‘utsaimin, beliau bertanya, “ada apa syaikh?” “ana ingin melanjutkan pembicaraan kita waktu itu akhi?”, “pembicaraan yang mana syaikh?”, “pembicaraan ketika anta menyusul ana di jalan… akhi silahkan kamu lanjutkan prosesnya?!!!”, pemuda itupun terkejut, ternyata syaikh ‘utsaimin masih mengingatnya dan beliaupun akhirnya membalas pernyataan syaikh ‘utsaimin dengan terbata-bata, “syaikh, perkenankan ana mengabari orang tua ana terlebih dahulu untuk kelanjutannya…”, “silahkan akhi, ana tunggu kedatangan kalian…” karena ternyata pemuda yang bermodal nekat ini juga belum memberitahukan orangtuanya kalau beliau hendak melamar anak syaikh ‘utsaimin…

 

Pertanyaannya adalah apa yang dilakukan syaikh ‘utsaimin selama satu bulan tersebut? Inilah adab ‘ulama yang harus dicontoh oleh wali seorang anak perempuan…

 

Syaikh ‘utsaimin ternyata menyelidiki sendiri tentang pemuda ini, dari pergaulannya, bagaimana dimata teman-temannya, dimata gurunya, bagaimana keseriusan dalam belajarnya, prestasinya di kampus, latar belakang keluarganya… itu beliau lakukan sendiri…?!!! Bukannya langsung ditanyakan kepada pemuda itu di tempat itu dan saat itu juga… Dan akhirnya setelah mengetahuinya dengan jelas, barulah beliau memutuskannya setelah bermusyawarah dengan keluarga beliau pastinya…

 

Pemuda ini adalah Syaikh Dr. Khalid Al Mushlih”

 

“Masya Allah…”

 

“Na’am, jadi tak seharusnya wanita-wanita itu berkelakuan seperti itu, tak perlu melihat lulusan mana, atau orangtuanya juga tak perlu bertanya mengenai keduniawiaan segala… kalau ingin tau, ahsannya mencari tau sendiri. bukanya seperti penghakiman di tempat… Ahsannya dilihat adab, akhlaq, dan ‘amalnya, bukan materi apalagi hanya sekedar lulusan mana…”

 

📌kisah dr ust Abu Rayyan Lombok

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s