Hukum Singkatan ‘SAW’, ‘SWT’, ‘RA’

simages-138

 

📚CATATAN RINGAN📚

>>hukum singkatan ‘SAW’, dll<<

 

Ketika kita membaca buku2 islami atau majalah islami, dan semisalnya, sering kita mendapati singkatan2 berikut….

 

 SWT= subhanahu wa ta’ala, maknanya Maha Suci Allah dan Maha Tinggi,

 SAW= shallallahu ‘alaihi wa sallam,maknanya semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepadanya,

 RA =radhiyallahu ‘anhu, maknanya semoga Allah meridhainya,

Dsb…….

Pertanyaannya, bolehkah singkatan-singkatan tersebut ?????

 

Maka, disini perlunya bimbingan seorang ulama, karena Allah ta’ala memerintahkan kepada kita untuk bertanya pada ulama pada perkara yg kita tidak tahu.

قال تعالي : فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون.

 

Dan alhamdulillah, dalam masalah ini telah ada fatwa dari salah seorang ulama masa kini, yaitu asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah.

Kurang lebih begini isi fatwa tersebut:

 

💭 Beliau ditanya:

Sebagian manusia صmenulis huruf shad

– kalau di bahasa kita SAW- di antara dua kurung, dan mereka maksudkan dengannya sebagai singkatan terhadap kalimat ‘shallallahu ‘alaihi wa sallam’, maka apakah dibenarkan penggunaan صhuruf

sebagai singkatan dari ‘shallallahu ‘alaihi wa sallam’?

 

 Maka beliau menjawab:

Termasuk adab ketika menulis hadits sebagaimana yg disebutkan oleh para ulama musthalah hadits, untuk tidak menyingkat kalimat tersebut dengan .صrumus

Demikian pula dengan na’at,

صلعمmisalnya.

 

Dan tidak diragukan lagi bahwa rumus/singkatan dan na’at tersebut menjadikan seseorang terlewatkan dari pahala bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Karena apabila ia menuliskannya secara lengkap, kemudian ia membaca tulisan itu setelahnya, atau orang lain yg membacanya, maka yg pertama menulis akan mendapatkan pahala dari orang yg membacanya.

 

Dan tidaklah samar bagi kita bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda sebagaimana yg shahih dari beliau:

“bahwasanya, barang siapa yg bershalawat kepadaku sekali shalawat, maka Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali”.

 

Maka tidak sepantasnya seorang muslim menghalangi dirinya untuk mendapatkan pahala dan balasan, hanya untuk mempercepat selesainya apa yg ia tulis…..

Selesai penukilan fatwa beliau.

📚(Majmu’ fatawa asy Syaikh al Utsaimin 26/100)

 

⛔⛔⛔

Maka setelah ini, masihkah ada diantara kita yg menghalangi dirinya untuk mendapatkan pahala dan balasan dari Allah ta’ala???

 

Maka sepantasnya bagi seorang muslim untuk meninggalkan menulis rumus/singkatan2 di atas tadi dalam tulisan2nya….

 

Wallahu a’lam bish shawab….

__________________________

 Abu Umair Abdulaziz bantul. (Salah satu thulab di darul hadist Fuyus,Yaman)

 

 WA Thullab Al Fiyusy 

 

🍥🍥🍥🍥

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s