Hukum Memakai Siwak dan Sikat Gigi/Pasta Gigi Ketika Puasa

a

Soal:
Apa hukumnya menggunakan hal-hal di bawah ini di siang hari di bulan Ramadhan, diantaranya memakai siwak dan sikat gigi/odol?

Jawab:
Adapun memakai siwak dari batangnya maka ini tidak mengapa, walaupun warnanya hijau. Adapun odol/pasta atau sikat gigi maka kami menasehatkan untuk meninggalkannya di bulan Ramadhan. Dan kami tidak memiliki dalil bahwa itu akan membatalkan shaum, akan tetapi wajib untuk berhati-hati sehingga tidak sampai mengalir atau masuk sesuatu ke dalam perutnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﻭﺑﺎﻟﻎ ﻓﻲ ﺍﻸﺳﺘﻨﺸﺎﻕ ﺇﻼ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺻﺎﺋﻤﺎ

“Dan sempurnakanlah pada waktu intinsyaq (memasukan air kedalam hidung ketika berwudhu) kecuali dalam keadaan shaum.”

Karena sesungguhnya apabila dia dalam keadaan shaum maka dikhawatirkan akan mengalir atau masuk airnya ke dalam perutnya.
(Bulughul Maram min Fatawa Ash Shiyam As-ilah Ajaba ‘alaiha Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i)

Tambahan Faedah:

~Menggunakan Pasta Gigi~

Hal ini telah difatwakan oleh asy-Syaikh Ibnu Baz pada kitab Fatawa Muhimmah Tata’allaq bish-Shiyam,
“Membersihkan gigi dengan sikat gigi yang menggunakan pasta gigi tidak membatalkan puasa, sebagaimana halnya menggunakan siwak. Namun, wajib bagi yang melakukannya untuk berhati-hati. Jangan sampai ada sebagian pasta gigi tersebut atau rasanya yang tertelan ke lambung. Jika ia telah berhati-hati, tetapi tetap saja ada sebagian pasta gigi atau rasanya yang tertelan tanpa sengaja, hal ini tidak membatalkan puasanya.”
Begitu pula, asy-Syaikh al-‘Utsaimin menyatakan bahwa menggunakan pasta gigi tidak membatalkan puasa selama tidak ditelan masuk ke lambung dalam kitab Majmu’ ar-Rasa’il dan asy-Syarh al-Mumti. Hanya saja, beliau berkata, “Akan tetapi, yang terbaik adalah tidak menggunakan pasta gigi (ketika puasa) karena pasta gigi memiliki pengaruh yang kuat dan mudah turun ke kerongkongan. Dengan demikian, boleh jadi tertelan masuk ke lambung tanpa disadari. Karena kekhawatiran seperti ini, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Laqith bin Shabirah:

ﺑﺎﻟﻎ ﻓﻲ ﺍﻸﺳﺘﻨﺸﺎﻕ ﺇﻼ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺻﺎﺋﻤﺎ

“Bersungguh-sungguhlah ketika intinsyaq, kecuali engkau dalam keadaan puasa.”

Jadi, sebaiknya tidak menggunakannya, meskipun dalam perkara ini terdapat kelonggaran.”  Maksudnya, boleh dan tidak terlarang.

(Fikih Lengkap Puasa, hal 146-147 pensyarah Al Ustadz Muhammad as-Sarbini al-Makassari)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s