Tanya Jawab Seputar Ramadhan

RAMADHANKU1

Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifa’i

NIAT PUASA UNTUK SEBULAN PENUH

Pertanyaan :

Apakah harus niat setiap hari untuk puasa Bulan Ramadhan ataukah cukup niat sekali diawal untuk satu Bulan Ramadhan?

 

Jawab:

Jumhur berpendapat wajibnya niat setiap hari, setiap kali puasa, karena masing-masing hari merupakan ibadah yang terpisah yang tersendiri (sehingga kalau puasa hari kamis batal, maka yang hari jum’at dan yang lain tidak batal), diantara yang berpendapat demikian Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad (yang masyhur dari beliau), Abu Hanifah.

Sementara itu, Imam Malik, satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, berpendapat bahwa Ramadhan dan rentetan amalan puasanya yang terus bersambung maka cukup niat diawalnya selama tidak terputus oleh suatu udzur sehingga ia perlu memulai niat lagi. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Asy Syaikh Utsaimin dan pendapat inilah yang rajih (yang kuat), karena masuk keumuman sabda Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam-:

 إنما الأعمال بالنيات

“Amalan itu tergantung pada niat.”

Dan juga merupakan satu bentuk ibadah yang cukup padanya satu niat.

Berkata Syaikhul Islam:

“Keadaan satu amalan itu rusak yang khusus menimpa sebagiannya tidakklah menghalangi, kalau ibadah itu adalah satu, seperti haji yang meliputi ihram, wuquf, thowaf, sa’i. Kalau kemudian rusak thowafnya karena tidak dalam keadaan suci misalnya, maka semisal ini tidakklah kerusakannya mengenai yang lain, padahal satu rangkaian ibadah.” (majmu’ fatawa 6/302)

Untuk lebih jelasnya, kami berikan contoh:

Misalnya: seseorang tidur sebelum terbenam matahari (hari rabu) dan tidak terbangun sampai terbit fajar kedua (subuh hari kamis), maka untuk hari kamis tersebut:

–       Menurut pendapat pertama (jumhur), tidak sah puasa orang tersebut untuk hari kamis, karena belum niat.

–       Menurut pendapat kedua (ini yang rajih), puasanya sah karena dia niat sejak awal ramadhan, niat mau puasa sebulan penuh.

Perlu diketahui, untuk niat puasa bukan berarti harus mengucapkan: Nawaitu shouma ghodin (saya niat puasa besok) / nawaitu shouma syahri romadhon (saya niat puasa Bulan Ramadhan). Akan tetapi niat adalah adanya keinginan dan maksud dalam hati, seperti bangunmu untuk melaksanakan sahur guna puasa sudah teranggap adanya niat puasa.

Wallahu a’lam bishowab.

Lihat: Syahrul Mumti’ (6/369), Al Mughni (9/3), Majmu’ Fatawa (6/302), Taudhihul Ahkam (3/151)

Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifa’i (2 Ramadhan 1434 H, Ma’had Daarus Salaf Al Islamiy Bontang.)

 

BOLEHKAH NIAT PUASA RAMADHAN SEJAK SIANG HARI

Pertanyaan :

Jika seseorang niat dari siang hari ini untuk puasa besok apakah puasanya sah?

Jawab:

Tentang hal ini ada dua pendapat.

Pendapat pertama: Bahwa yang demikian tidak sah, ini satu riwayat Imam Ahmad, karena seseorang  yang berpuasa Ramadhan berniat setiap hari dari malam hari, berdasar lafadz hadits:

لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ مِنْ اللَّيْلِ

“Tidak ada puasa bagi orang yang tidak menetapkan puasa dari malam.”

Pendapat kedua: Sah puasanya, kecuali kalau ia membatalkan niatnya tersebut, berdadsarkan keumuman hadits “إنما الأعمال بالنيات” (Amalan itu tergantung pada niat). Inilah pendapat yang rajih (kuat). Wallahu a’lam.

Lihat Al Mughni (4/336), Syarh Kitab Ash Shiyam min Al ‘Umdah (1/196).

 

 NIAT PUASA KEMUDIAN PINGSAN

Pertanyaan :

Bagaimana puasanya orang yang telah niat puasa kemudian dia mengalami pingsan?

Jawab:

Dalam hal ini perlu dirinci kondisi pingsan yang dia alami.

Pertama: Jika dia mengalami pingsan seluruh waktu siangnya, maka tidak sah puasanya karena pada dirinya tidak mengalami imsak (menahan diri) dari makan dan minum. Sementara Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda (hadits qudsi):

 يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى

“Dia meninggalkan makanannya dan minumnya serta syahwatnya dikarenakan Diriku.” (HR. Al Bukhari-Muslim, dari hadits Abi Hurairah)

Karena puasa memiliki rukun (niat dan imsak), kalau hanya niat saja maka tidak cukup, sebagaimana imsak saja tanpa niat juga tidak sah.

Pendapat inilah yang dipegangi Imam Ahmad, Asy Syafi’i, dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qudamah, Syaikh Utsaimin.

Perlu diketahui, bahwa untuk kondisi pertama ini maka kewajibannya adalah mengqodho’nya menurut pendapat jumhur, karena ia tetap termasuk mukallaf (terkena syari’at), sedangkan pingsan itu tak ubahnya seperti kondisi sakit, maka berlaku ayat:

 فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barangsiapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (safar) lalu ia berbuka, maka baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Q.S Al Baqarah: 184)

 

Kedua: Adapun jika dia mengalami pingsan pada sebagian waktu siangnya saja maka pendapat Hanabilah dan salah satu pendapat Asy Syafi’i bahwa puasanya sah, hal ini juga dikuatkan oleh pendapat Syaikhul Islam di “Syahril Umdah (1/47)”, beliau berkata:

“Imsak (menahan diri) tidak terjadi kecuali dalam kondisi ada akal dan tidaklah kita mensyaratkan adanya imsak itu seluruh waktu siang, bahkan cukup dengan sebagiannya karena sudah masuk dalam hadis “ يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى”

Wallahu a’lam bishowab.

Lihat: Al Mughni (4/343), Syahrul Mumti’ (6/365), Al Inshaf (3/264)

Al Muhalla (3/360), Syahrul Umdah (1/47)

 

 Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifa’i (4 Ramadhan 1434 H, Ma’had Daarus Salaf Al Islamiy Bontang.)

http://www.darussalaf.or.id/fiqih/soal-jawab-seputar-niat-puasa-pertanyaan-2/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s