Perjanjian Hudaibiyah (Lengkap)

 


Setelah orang-orang Yahudi Quraizhah ditumpas, gangguan ahli kitab yang dirasakan kaum muslimin mulai berkurang. Walaupun dimaklumi, mereka tentu masih menyimpan selaksa makar untuk menumpas Islam dan muslimin, kapan dan di mana pun. Wallahul Musta’an.

Islamnya Tsumamah bin Utsal

Menjelang bulan Dzul Qa’dah tahun keenam hijriyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  sempat beberapa kali mengirim pasukan kecil, bahkan ikut terjun sebagai panglima ke sejumlah daerah di jazirah Arab. Di antaranya, beliau pernah mengirim pasukan berkuda ke arah Najd dan berhasil menangkap Tsumamah bin Utsal Al-Hanafi, pemuka Bani Hanifah yang kemudian diikat di salah satu tiang masjid.

Suatu kali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  melewatinya, dan bertanya: “Ada apa denganmu, ya Tsumamah?” Diapun berkata: “Hai Muhammad, kalau engkau membunuhku, maka engkau bunuh orang yang punya darah.1 Kalau engkau memaafkanku, berarti engkau menyenangkan orang yang tahu berterima kasih. Kalau engkau butuh harta, mintalah. Pasti diberi apapun yang engkau kehendaki.” Beliau lantas meninggalkannya.

Kemudian beliau melewatinya sekali lagi dan Tsumamah mengucapkan perkataan yang sama. Diapun menjawabnya seperti yang pertama kali. Setelah itu, beliau melewatinya untuk ketiga kalinya. Kata beliau: “Bebaskan Tsumamah.” Para sahabat pun melepaskannya.

Selanjutnya, Tsumamah beranjak menuju kebun kurma dekat masjid, kemudian mandi. Setelah itu dia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  dan masuk Islam, katanya: “Demi Allah. Dahulu tidak ada di muka bumi ini wajah yang paling kubenci dibandingkan wajahmu. Sungguh, sekarang, wajah engkau adalah wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, dahulu tidak ada di muka bumi ini ajaran (keyakinan) yang paling aku benci dibandingkan ajaranmu. Sungguh sekarang, dienmu adalah dien yang paling aku cintai. Sebenarnya, pasukan berkudamu menangkapku ketika aku hendak berangkat umrah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  pun menggembirakannya dan memerintahkannya untuk umrah.

Setelah dia mendatangi orang-orang musyrik Quraisy, mereka berkata: “Kau bertukar agama, hai Tsumamah?” Katanya: “Tidak. Demi Allah. Tapi aku telah masuk Islam bersama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  . Dan demi Allah, tidak akan pernah datang lagi kepada kalian butiran gandum dari Yamamah, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam   mengizinkannya.”

Waktu itu, Yamamah adalah daerah penghasil makanan pokok yang menyuplai Makkah. Diapun kembali ke negerinya dan melarang ekspor gandum ke Makkah hingga Quraisy mengalami kekurangan pangan. Mereka pun menulis surat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  meminta beliau dengan hubungan kasih sayang agar menulis surat kepada Tsumamah untuk membuka jalur pengiriman makanan kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  pun memenuhi permintaan mereka.

Beberapa Faedah dari Kisah Tsumamah

Dari kisah ini, kata Al-Hafizh Ibnu Hajar  dapat kita petik beberapa hal. Di antaranya:

– Bolehnya mengikat tawanan kafir di dalam masjid.
– Bolehnya berbuat baik kepada tawanan, memaafkan, serta melepaskannya tanpa imbalan.
– Sikap lemah lembut terhadap tawanan yang diharapkan keislamannya, apalagi bila dia diikuti orang banyak.
– Mandi ketika masuk Islam, dan sebagainya.

Bersiap-siap Umrah

Pada tahun keenam hijriyah, bulan Dzul Qa’dah, bertolaklah 1.500 orang dari Madinah dipimpin oleh Rasulullah n shallallahu ‘alaihi wasallam  untuk menunaikan umrah. Demikian diceritakan Jabir seperti yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Rombongan berangkat tanpa menyandang senjata layaknya hendak berperang. Mereka membawa serta beberapa ekor ternak untuk dikorbankan.

Setibanya mereka di Dzul Hulaifah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  menggantungkan dan memberi tanda di leher ternaknya serta melakukan ihram untuk umrah. Beliau pun mengirim seorang pengintai dari Khuza’ah untuk mencari kabar tentang Quraisy.

Ketika rombongan mendekati daerah Ghadir Asythath dekat ‘Usfan, datanglah pengintai tersebut, katanya: “Saya tinggalkan Ka’b bin Lu`ai, mereka telah mengerahkan pasukan gabungan untuk menyerangmu dan menghalangi engkau dari Baitullah.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  bermusyawarah dengan para sahabatnya. Beliau bertanya kepada mereka: “Apakah menurut kalian kita beralih kepada anak keturunan mereka yang membantu orang-orang musyrik lalu menyerang mereka? Kalau mereka berhenti, mereka berhenti dalam keadaan berduka. Kalau mereka datang, jadilah seperti leher yang diputus oleh Allah. Atau menurut kalian kita tetap menuju Baitullah. Siapa yang menghalangi kita, maka kita perangi dia?”

Abu Bakr berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Wahai Nabi Allah, kita datang hanya untuk umrah, bukan memerangi siapa pun. Tapi siapa yang menghalangi kita dari Baitullah, kita perangi dia.”

Mendengar saran ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  berkata tegas: “Kalau begitu berangkatlah.”

Mereka pun mulai bertolak.

Dalam riwayat ini (dalam Musnad Al-Imam Ahmad) disebutkan pula oleh Az-Zuhri dari Abu Hurairah bahwa tidak ada manusia yang paling sering bermusyawarah dengan para sahabatnya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  .

Setibanya di sebagian jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  berkata: “Sesungguhnya Khalid bin Al-Walid ada di sekitar Al-Ghamim dalam rombongan pasukan berkuda Quraisy sebagai pengintai. Ambillah jalan ke kanan.”

Demi Allah. Khalid tidak menyadari keberadaan mereka sampai tiba-tiba mereka melihat debu bekas pasukan. Dia pun memacu kudanya memberitahu orang-orang Quraisy.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  tetap berjalan hingga tiba di Tsaniyah, di mana mereka singgah di sana. Tiba-tiba kendaraan beliau berlutut. Orang-orang berseru: “Hall, hall.” Tapi dia tetap demikian.

Para sahabat berkata: “Al-Qushwa bebal (ndableg, jw). Al-Qushwa bebal.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  membantah: “Al-Qushwa tidak bebal. Itu bukan perangainya, tapi dia ditahan oleh Yang menahan tentara bergajah.”

Kemudian beliau berkata: “Demi Yang jiwaku di Tangan-Nya. Tidaklah mereka memintaku satu perkara yang mereka agungkan padanya kehormatan Allah, melainkan aku berikan kepada mereka.”

Beliau menghardik Al-Qushwa, dan diapun melompat lalu berbelok hingga sampai di pedalaman Hudaibiyah di telaga yang sedikit airnya. Rombongan hanya mengambil sedikit demi sedikit dan tidak lama kemudian mereka pun sudah meninggalkannya. Mereka mengeluh kehausan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  . Beliaupun mengambil panah dari kantungnya dan memerintahkan agar meletakkannya di tempat air yang tinggal sedikit itu. Akhirnya, demi Allah, pasukan itu tetap dalam keadaan segar sampai mereka meninggalkan tempat itu.

Mendengar berita bahwa kaum muslimin ternyata telah singgah mendekati wilayah mereka, orang-orang Quraisy pun terkejut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bermaksud mengutus salah seorang sahabatnya kepada mereka. Beliaupun memanggil ‘Umar bin Al-Khaththab untuk diutus kepada mereka. Tapi katanya: “Wahai Rasulullah, di Makkah tidak ada lagi Bani Ka’b yang membelaku bila aku disakiti. Utuslah ‘Utsman bin ‘Affan, karena di sana ada familinya dan dia akan menyampaikan apa yang anda inginkan.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  pun memanggil ‘Utsman dan mengutusnya kepada Quraisy. Kata beliau: “Sampaikan kepada mereka bahwa kita datang bukan untuk berperang, tapi hanya untuk umrah. Ajak mereka kepada Islam.” Beliau juga memerintahkannya untuk menemui beberapa orang mukmin di Makkah, laki-laki dan perempuan, menyampaikan berita gembira berupa kemenangan. Dan Allah subhanahu wata’ala akan memenangkan dien-Nya di Makkah hingga tidak ada lagi yang harus menyembunyikan keimanannya di sana.

‘Utsman Diutus ke Makkah

Tibalah ‘Utsman di Makkah. Dia melewati rombongan Quraisy di Baldah. Kata mereka: “Mau ke mana kamu?”

Katanya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengutusku mengajak kalian kepada Allah dan kepada Islam. Dan aku sampaikan kepada kalian bahwa kami datang bukan untuk berperang, tapi hanya untuk umrah.”

Kata mereka: “Kami sudah dengar apa yang kau katakan. Teruskan keperluanmu.”

Kemudian bangkitlah Aban bin Sa’id bin Al-‘Ash mengucapkan selamat datang kepadanya dan menyodorkan pelana kudanya lalu membawa ‘Utsman di atas kuda itu serta menjaga keselamatannya. Aban memboncengnya hingga tiba di Makkah.

Sebelum ‘Utsman tiba kembali di rombongan kaum muslimin, sebagian mereka (kaum muslimin) menduga bahwa ‘Utsman sudah bebas thawaf di Ka’bah sebelum mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  menepis anggapan itu: “Aku tidak yakin dia thawaf di Ka’bah sementara kita terhalang.”

Kata mereka: “Apa yang menghalanginya, wahai Rasulullah. Sementara dia sudah bebas?” Beliau mengatakan: “Itulah dugaanku kepadanya, bahwa dia tidak akan thawaf di Ka’bah sampai kita pun thawaf bersamanya.”

Memang. Mungkin saja akan muncul dugaan seperti ini, dan ini wajar. Tapi benarkah dugaan mereka? Pantaskah bagi Dzun Nurain (‘Utsman) menikmatinya sementara kekasihnya (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  ) terhalang? Di sinilah kita lihat betapa besar kesetiaan dan kecintaan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  kepada beliau.

Kita tentu masih ingat Khubaib bin ‘Adi yang gugur di Bi`r Ma’unah. Dia ditawari bebas oleh Quraisy, asal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  menggantikan posisinya sebagai tawanan mereka. Apa jawabnya?

Kata Khubaib: “Demi Allah, seandainya aku sedang bersenang-senang di rumahku bersama keluargaku, aku tidak rela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengalami kesusahan meskipun hanya duri yang menusuk beliau.”

Kecintaan mereka bukan sekedar hiasan bibir, tapi tampak dari sikap dan perilaku mereka dalam hidup dan kehidupan mereka. Tidak ada yang lebih mereka cintai daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  .

Syahdan, terjadi juga keributan antara kaum muslimin dan musyrikin tentang masalah perdamaian. Salah seorang dari dua kelompok ini melempar salah seorang dari barisan lain. Mereka saling panah dan melempar dengan bebatuan. Sampailah kabar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bahwa ‘Utsman terbunuh, maka beliau pun menyerukan bai’at. Akhirnya kaum muslimin segera mendekati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  yang ada di bawah sebatang pohon. ‘Umar menggenggam  tangan beliau untuk bai’at, sedangkan Ma’qil bin Yasar menjauhkan ranting pohon dari beliau. Merekapun berbai’at untuk tidak akan lari.

Yang pertama berbai’at adalah Abu Sinan Al-Asadi. Salamah bin Al-Akwa’ bai’at tiga kali, di kelompok pertama, pertengahan, dan terakhir.

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  menggenggam  tangannya satu sama lain, seraya berkata: “Ini (bai’at) untuk ‘Utsman.”

Semuanya berbai’at kecuali Al-Jadd bin Qais.

Setelah selesai bai’at, ‘Utsman kembali ke tengah-tengah kaum muslimin, dan berkatalah mereka kepadanya: “Sudah puaskah engkau, wahai Abu ‘Abdillah (kunyah Utsman bin Affan), bisa thawaf di Ka’bah?”

‘Utsman tersentak dan segera menukas: “Alangkah buruknya dugaan kalian kepadaku. Demi Yang jiwaku di Tangan-Nya, seandainya aku menetap di sana selama setahun, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam   tinggal di Hudaibiyah, aku tidak akan thawaf di Ka’bah selamanya sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  juga thawaf di Ka’bah. Memang Quraisy mengundangku thawaf di Ka’bah tapi aku tidak mau.”

Mereka pun berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  memang yang paling tahu di antara kita tentang Allah subhanahu wata’ala, dan paling baik sangkaannya daripada kita.”

Datangnya Delegasi Quraisy

Di saat mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah Budail bin Warqa` Al-Khuza’i bersama rombongan Bani Khuza’ah. Mereka adalah tempat menyimpan amanah dan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  dari penduduk Tihamah. Budail mengatakan: “Saya tinggalkan Ka’b bin Lu`ai dan ‘Amir bin Lu`ai dalam keadaan sudah turun di aliran air daerah Hudaibiyah.2 Mereka membawa unta-unta yang penuh ambing susunya, serta diikuti anak-anaknya. Quraisy sudah bersiap untuk menyerang dan menghalangi engkau dari Baitullah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam   berkata: “Sesungguhnya kami tidak datang untuk berperang, tapi untuk umrah. Dan sebetulnya orang-orang Quraisy itu sudah dilumpuhkan oleh peperangan, itu membahayakan mereka. Kalau mereka mau aku beri waktu mereka (tidak berperang antara kami dan mereka, -ed.), dan biarkanlah aku dengan bangsa Arab lainnya. Kalau aku dikalahkan, ini sudah menenangkan mereka. Dan kalau aku menang, dan mereka mau, mereka bisa masuk ke dalam apa yang dianut oleh orang banyak (Islam, –ed.). Dan kalau tidak, mereka sudah bersatu padu. Tapi kalau mereka tidak mau juga selain berperang, maka demi Yang jiwaku di Tangan-Nya, sungguh pasti aku perangi mereka karena urusanku ini (Islam) sampai aku mati atau betul-betul Allah laksanakan ketetapan-Nya.”


Keterangan:
1 Maknanya diperselisihkan, ada yang berpendapat bahwa punya darah ini ialah kalau orang membunuhnya akan memperoleh kedudukan karena yang dibunuhnya adalah seorang pemuka, atau semakna dengan itu. Lihat syarah An-Nawawi terhadap Shahih Muslim tentang hadits ini. Wallahu a’lam.

2 Ini mengisyaratkan bahwa di Hudaibiyah itu sebetulnya airnya banyak. Tapi karena orang-orang Quraisy sudah lebih dahulu turun di Hudaibiyah di sebelah hulu, mereka menahan aliran airnya sehingga kaum muslimin kekurangan air. Lihat Fathul Bari tentang penjelasan hadits ini. Wallahu a’lam.
—————————————————————————————————————————————-

Perjanjian Hudaibiyah antara kaum muslimin dan musyrikin Quraisy akhirnya disepakati. Mulanya, butir-butir dalam perjanjian itu menuai penentangan dari sebagian sahabat karena lahiriahnya sangat merugikan kaum muslimin. Namun keyakinan yang kokoh akan janji Allah l menjadikan para sahabat menundukkan logika dan pendapat pribadinya. Terbukti, di kemudian hari dengan perjanjian itu, kaum musyrikin justru menangguk kerugian yang besar.

 

Kecemasan Quraisy

Pada edisi sebelumnya dikisahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Budail bin Warqa’ Al-Khuza’i dari bani Khuza’ah untuk menegaskan kembali tujuan kaum muslimin datang ke Makkah bahwa mereka datang bukan untuk berperang namun untuk umrah……

Setelah mendengar ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Budail pun berangkat menemui Quraisy. Ketika tiba di hadapan mereka, dia berkata: “Kami datang dari laki-laki ini (yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) dan kami sudah dengar apa yang dia ucapkan. Jika kalian mau, kami paparkan kepada kalian.” Orang yang paling dangkal pikirannya di antara mereka berkata: “Kami tidak butuh beritamu sedikitpun.” Sedangkan yang cerdik dari mereka mengatakan: “Ceritakan apa yang kau dengar.” Budail pun berkata: “Aku dengar dia mengatakan demikian, demikian.” Lalu dia menceritakan kepada Quraisy apa yang diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

‘Urwah bin Mas’ud pun menimpali: “Wahai masyarakat Quraisy, bukankah kalian seperti anak (bagiku)?” Kata mereka: “Benar.” Katanya lagi: “Bukankah aku (seperti) ayah?” Kata mereka: “Benar.” Katanya pula: “Apakah kalian mencurigaiku?” Kata mereka: “Tidak.” Katanya: “Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya aku pernah mendorong penduduk ‘Ukkazh (membantu kalian) dan ketika mereka menolak, aku pun datang bersama istri dan anakku serta orang-orang yang mengikutiku.”

Kata mereka: “Benar.” Katanya lagi: “Sesungguhnya orang ini sudah menawarkan hal yang positif, maka terimalah dan biarkan aku menemuinya.”

Kata mereka: “Datangilah dia.”

‘Urwah pun berangkat menemui beliau dan mulai berbicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab seperti yang beliau katakan kepada Budail. Lalu kata ‘Urwah: “Hai Muhammad, apa pandanganmu kalau engkau menghabisi bangsamu, apakah engkau pernah mendengar ada orang yang memusnahkan keluarganya sendiri sebelum engkau? Kalau tidak, maka demi Allah, aku benar-benar melihat wajah-wajah dan orang-orang rendahan yang pantas akan lari dan meninggalkanmu.”

Berkatalah Abu Bakr z: “Hisaplah kemaluan Latta. Apakah kami akan lari dan meninggalkannya?”

Kata ‘Urwah: “Siapa ini?” Kata mereka: “Abu Bakr.”

‘Urwah berkata: “Demi Yang jiwaku di tangan-Nya, kalau bukan karena engkau pernah membantuku, tidak aku biarkan engkau mengatakan ini, melainkan pasti aku balas.”

Dia pun mulai bicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan setiap kali dia bicara dia coba menyentuh janggut beliau. Dalam situasi itu, sahabat Al-Mughirah berdiri di dekat kepala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  dengan pedang di tangan serta mengenakan topi besi. Setiap kali ‘Urwah menjulurkan tangan ke arah janggut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Al-Mughirah pun memukul tangan itu dengan hulu pedangnya dan berkata: “Jauhkan tanganmu dari janggut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

‘Urwah menengadahkan kepalanya dan berkata: “Siapa ini?”

Para sahabat berkata: “Al-Mughirah bin Syu’bah.” Serta-merta ‘Urwah berkata: “Hai si curang. Bukankah aku yang membereskan urusan kecuranganmu?” Dahulu Al-Mughirah adalah teman mereka di masa jahiliah, lalu dia membunuh mereka, mengambil harta mereka, dan masuk Islam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Adapun Islam, aku terima. Sedangkan harta, tidak ada urusanku padanya sedikit pun.”

Kemudian mulailah ‘Urwah memerhatikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  dengan matanya, dan menggumam: “Sungguh, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meludah melainkan jatuh ke tangan salah seorang dari mereka, lalu dia gosokkan ke wajah dan kulitnya. Kalau beliau memerintahkan sesuatu, dengan segera mereka laksanakan perintahnya. Jika beliau berwudhu mereka hampir saling membunuh mengambil sisa wudhunya. Dan jika beliau bicara, mereka rendahkan suara serta tidak ada yang menajamkan pandangannya ke arah beliau karena menghormati beliau.”

‘Urwah pun kembali kepada teman-temannya dan berkata: “Hai kaumku, sungguh demi Allah, aku pernah mengunjungi para raja, Kaisar, Kisra, serta Najasyi (Negus). Demi Allah, tidak pernah kulihat sama sekali seorang raja yang diagungkan oleh para sahabatnya seperti para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memuliakan Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam). Tidaklah dia meludah melainkan jatuh ke tangan salah seorang dari mereka, lalu dia gosokkan ke wajah dan kulitnya. Kalau dia memberi perintah, mereka segera melaksanakan perintahnya. Jika dia berwudhu mereka hampir bunuh-bunuhan mengambil sisa wudhunya. Dan jika dia bicara, mereka rendahkan suara serta tidak ada yang menajamkan pandangannya ke arahnya karena menghormatinya. Sesungguhnya dia sudah menawarkan hal yang positif, maka terimalah.”

Berkatalah seorang laki-laki Bani Kinanah: “Biarkan aku mendatanginya.” Kata mereka: “Temuilah.” Setelah dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, beliau berkata: “Ini si Fulan dari golongan yang menghormati budna (hewan korban), maka lepaskanlah.”

Lalu hewan-hewan korban itu dilepaskan dan utusan itu disambut oleh kaum muslimin yang sedang bertalbiyah (mengucapkan: Labbaika Allahumma labbaika). Setelah melihat hewan-hewan korban itu, dia berkata: “Maha Suci Allah, tidak sepantasnya mereka dihalangi dari Baitullah (Ka’bah).”

Dia pun kembali kepada teman-temannya dan berkata: “Aku melihat hewan-hewan korban sudah diberi tanda. Dan aku tidak sependapat kalau mereka dihalangi dari Baitullah.”

Lalu bangkitlah dari kalangan mereka seorang bernama Mikraz bin Hafsh, katanya: “Biarkan aku mendatanginya.” Kata mereka: “Datangilah.” Setelah dia melihat mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Ini Mikraz, dia laki-laki yang jahat.” Dia pun mulai bicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika dia sedang berbicara, datanglah Suhail bin ‘Amr.

Suhail bin ‘Amr, delegasi Quraisy

Ketika Suhail bin ‘Amr tiba, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Semakin mudah urusan kalian,” Kemudian dia berkata: “Marilah tulis suatu ketetapan antara kami dan kalian.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil seorang penulis. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tulislah Bismillahirrahmanirrahim.” Kata Suhail: “Adapun Ar-Rahman, demi Allah aku tidak tahu apa ini, tapi tulislah ‘Bismikallahumma’ sebagaimana biasa kami menulis.” Kaum muslimin bersikeras: “Jangan tulis kecuali Bismillahirrahmanirrahim”, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tulislah ‘Bismikallahumma’,” kemudian beliau menambahkan: “Inilah yang disepakati oleh Muhammad Rasul Allah.”

Suhail menukas: “Demi Allah, kalau kami tahu engkau adalah Rasul Allah, tentu tidaklah kami menghalangi engkau dari Baitullah dan tidak pula memerangimu. Tulislah Muhammad bin ‘Abdullah.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Demi Allah, sungguh aku adalah Rasul Allah meskipun kalian mendustakanku. Tulislah Muhammad bin ‘Abdullah.”

Az-Zuhri menjelaskan: Itu karena beliau pernah mengatakan: “Tidaklah mereka memintaku satu perkara yang mereka agungkan padanya kehormatan Allah subhanahu wata’ala, melainkan aku berikan kepada mereka.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Yaitu agar kalian biarkan kami thawaf di Ka’bah.” Suhail segera menukas: “Demi Allah, (kalau demikian) tentulah orang-orang Arab akan mengatakan kami ditekan (kalah). (Tidak), tapi tahun depan.” Lalu keputusan ini dituliskan.

Kata Suhail: “Tidak ada yang datang kepadamu seorang laki-laki dari kami meskipun dia seiman denganmu melainkan harus kamu kembalikan kepada kami.”

Kaum muslimin pun gaduh: “Maha Suci Allah, bagaimana mungkin dia dikembalikan kepada kaum musyrikin padahal dia datang sebagai muslim.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengatakan: “Siapa yang mendatangi mereka dari pihak kita, semoga Allah menjauhkannya. Dan siapa yang datang kepada kita dari pihak mereka kita kembalikan kepada mereka, semoga Allah berikan kepadanya jalan keluar dan kelapangan.”

Secara ringkas, isi perjanjian itu antara lain ialah:
1. Tidak saling menyerang antara kaum muslimin dan penduduk Makkah selama sepuluh tahun,
2. Kaum muslimin masuk ke kota Makkah (‘umrah) pada tahun depan dan tidak membawa senjata kecuali pedang dalam sarungnya, serta senjata pengembara,
3. Siapa saja yang datang ke Madinah dari penduduk Makkah harus dikembalikan ke Makkah,
4. Dan siapa yang datang ke Makkah dari penduduk Madinah (muslim) tidak boleh dikembalikan ke Madinah,
5. Kesepakatan ini disetujui kedua belah pihak dan tidak boleh ada pengkhianatan serta pelanggaran.

Termasuk dalam syarat perjanjian itu, siapa saja dari kabilah Arab lain, boleh masuk dalam perjanjian Quraisy atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.  Maka Khuza’ah masuk dalam perjanjian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  sedangkan Banu Bakr bergabung dalam perjanjian itu di pihak Quraisy.

Dan perjanjian ini hanya berlaku bagi kaum laki-laki, tidak termasuk wanita.

Di saat mereka dalam keadaan demikian, datanglah Abu Jandal bin Suhail bin ‘Amr menyeret rantainya. Dia keluar dari bawah kota Makkah hingga kemudian melemparkan dirinya di tengah-tengah orang-orang muslim.

Melihat hal ini, Suhail berkata: “Hai Muhammad, inilah kesepakatan pertama. Kamu harus kembalikan dia kepadaku.”

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kita belum menyelesaikan kesepakatan ini.”

Kata Suhail: “Demi Allah, kalau begitu aku tidak akan berdamai denganmu lagi dalam urusan apa pun selamanya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata: “Kalau begitu, bolehkan dia saja untukku.”

“Aku tidak akan menyerahkannya kepadamu,” jawab Suhail.

Kata beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bahkan lakukanlah (berikanlah).”

Katanya: “Aku tidak akan serahkan.”

Kata Mikraz: “Bahkan kami serahkan dia kepadamu.”1

Kata Abu Jandal: “Hai kaum muslimin, apakah aku akan dikembalikan kepada kaum musyrikin padahal aku datang sebagai muslim? Tidakkah kalian lihat apa yang kualami ini?”

Keadaannya memang mengenaskan, dia telah menerima siksaan yang sangat berat di jalan Allah subhanahu wata’ala.

‘Umar bin Al-Khaththab bercerita: “Aku pun menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: ‘Bukankah anda Nabi Allah sebenar-benarnya?’.”

Kata beliau: “Benar.”

Aku katakan: “Bukankah kita ini di atas al-haq? Dan musuh kita dalam kebatilan?”

“Benar,” kata beliau.

Aku berkata lagi: “Kalau begitu, mengapa kita berikan kehinaan kepada agama kita?”

Kata beliau: “Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah dan tidak mendurhakai-Nya. Allah pasti menolongku.”

Aku katakan: “Bukankah anda katakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan thawaf di sana?”

Kata beliau: “Benar. Tapi apakah aku katakan bahwa kita akan datang (thawaf) tahun ini?”

“Tidak,” jawabku.

Kata beliau: “Sesungguhnya engkau akan datang ke sana dan thawaf padanya.”

Kata ‘Umar pula: “Akupun menemui Abu Bakr. Dan aku katakan: ‘Hai Abu Bakr, bukankah beliau ini benar-benar Nabi Allah?’.”

Kata Abu Bakr: “Benar.”

Aku katakan: “Bukankah kita ini di atas al-haq dan musuh kita dalam kebatilan?”

“Benar,” jawabnya.

Aku berkata lagi: “Kalau begitu, mengapa kita berikan kehinaan kepada agama kita?”

Kata Abu Bakr: “Hai kamu. Sesungguhnya beliau benar-benar Rasul Allah dan tidak akan mendurhakai-Nya. Allah pasti menolong beliau. Berpeganglah dengan ucapannya, demi Allah, beliau di atas al-haq.”

Aku menukas: “Bukankah beliau katakan kepada kita bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan thawaf di sana?”

Kata beliau: “Benar. Tapi apakah beliau mengatakan bahwa kita akan datang (thawaf) tahun ini?”

“Tidak,” jawabku.

Kata Abu Bakr: “Sesungguhnya engkau akan datang ke sana dan thawaf padanya.”

Kata ‘Umar: “Lalu aku pun melakukan amalan untuk (menebus) ucapan itu.”

Begitu selesai penulisan kesepakatan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabatnya: “Berdirilah, sembelihlah korban kemudian bercukurlah.”

Kata (perawi): “Demi Allah, tidak ada seorang pun yang berdiri sampai beliau ucapkan tiga kali.”

Ketika tidak ada dari mereka yang berdiri seorang pun, beliau masuk menemui Ummu Salamah dan menceritakan apa yang beliau terima dari sikap kaum muslimin.

Kemudian Ummu Salamah berkata: “Wahai Nabi Allah, apakah anda suka hal itu (mereka melaksanakannya)? Keluarlah, jangan bicara dengan siapa pun lalu sembelihlah korban, panggil tukang cukurmu dan bercukurlah.”

Beliau pun keluar dan tidak bicara dengan siapa pun sampai melakukan saran Ummu Salamah tersebut. Beliau mulai menyembelih korbannya dan memanggil tukang cukurnya lalu bercukur.

Tatkala para sahabat melihat hal itu, mereka segera bangkit dan menyembelih korban mereka dan sebagian mencukur yang lain sampai hampir-hampir mereka bunuh-bunuhan karena menyesal (tidak segera melaksanakan perintah beliau).

Tak lama kemudian, datanglah para wanita yang sudah beriman kepada beliau. Di antaranya Ummu Kultsum bintu ‘Uqbah bin Abi Mu’ith. Lalu datang pula keluarganya menyusul dan meminta kepada beliau agar Ummu Kultsum diserahkan kepada mereka. Namun beliau tidak menyerahkannya kepada mereka. Allah lsubhanahu wata’ala menurunkan ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.”
(Al-Mumtahanah: 10)

Pada waktu itu pula ‘Umar menceraikan kedua istrinya yang masih musyrik. Kemudian salah seorang dinikahi oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan yang lainnya dinikahi oleh Shafwan bin ‘Umayyah.

Setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mulai bertolak kembali ke Madinah.

Saat kepulangan itulah turun surat Al-Fath (1-3):

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).”

Para sahabat pun bertanya: “Benarkah ini kemenangan, ya Rasulullah?”

“Ya,” sahut beliau. Kemudian kata mereka: “Selamat untuk engkau, ya Rasulullah. Tapi mana untuk kami?” Lalu Allah subhanahu wata’ala

turunkan (ayat 4):

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi, dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

1 Nampaknya ucapan Mikraz tidak dianggap oleh Suhail bin ‘Amr.

Abu Bashir dan Kelompoknya 

Tiba-tiba datanglah Abu Bashir, salah seorang Quraisy di mana dia telah masuk Islam. Namun pihak Quraisy mengirim dua orang untuk menangkapnya. Kata mereka: “Ini termasuk kesepakatan yang engkau buat dengan kami, serahkan dia kepada dua orang ini.”

Keduanya pun akhirnya pergi dengan membawa Abu Bashir. Ketika tiba di Dzul Hulaifah, dua orang yang menangkapnya turun untuk makan kurma mereka. Abu Bashir berkata kepada salah seorang dari mereka: “Demi Allah, sungguh aku lihat pedangmu ini sangat bagus, hai Fulan.”

Diapun menghunusnya, lalu berkata:
“Ya, demi Allah, benar-benar pedang ini sangat bagus. Sungguh, aku sudah pernah mencobanya berkali-kali.”
Kata Abu Bashir: “Tunjukkanlah agar aku dapat melihatnya.” Orang itu menyerahkan pedangnya. Abu Bashir pun memantapkan pegangannya lalu secepat kilat menebaskan pedang itu kepadanya hingga dia mati. Sementara yang satunya lantas lari hingga tiba di Madinah dan masuk masjid. Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sungguh laki-laki ini melihat sesuatu yang menakutkan.”

Ketika sampai di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata: “Temanku dibunuh dan aku pun pasti mati.”
Tak lama, datanglah Abu Bashir dan berkata: “Wahai Nabi Allah, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menyempurnakan jaminan anda dan anda telah mengembalikan saya kepada mereka. Kemudian Allah subhanahu wata’ala selamatkan saya dari mereka.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Kecewa ibunya (di sini maknanya bukan celaan, ed.), dia menyalakan api peperangan. Seandainya ada yang menangkapnya.” Mendengar ini, dia pun tahu bahwa beliau akan mengembalikannya kepada musyrikin. Lalu pergilah dia hingga tiba di tepi pantai. Tak lama, bergabunglah Abu Jandal in Suhail menyusul Abu Bashir. Setelah itu, tidak ada satu pun dari Quraisy yang telah masuk Islam melainkan bergabung dengan Abu Bashir hingga terkumpullah beberapa orang. Demi Allah, tidaklah mereka dengar ada satu kafilah dagang Quraisy yang menuju Syam, melainkan mereka hadang, mereka bunuh, dan mereka rampas hartanya. Akhirnya Quraisy pun mengirim utusan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  menuntut beliau demi Allah dan dengan kasih sayang, agar menyatakan bahwa siapa yang datang menemuinya maka dia aman.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  mengutus orang menemui mereka.

Kemudian Allah subhanhu wata’ala menurunkan:
وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ
بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ
(Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka) sampai pada:
الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ
(kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliah), dan kesombongan jahiliah itu ialah bahwa mereka tidak mau mengakui beliau sebagai Nabi Allah, tidak menerima penulisan Bismillahirrahmanirrahim, serta menghalangi beliau dari Ka’bah.

Kisah Salamah bin Al-Akwa’ “Kami tiba di Hudaibiyah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jumlah kami ketika itu sekitar 1.400 dengan lima puluh ekor kambing kurban yang tidak  digembalakan (diberi minum). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  duduk di tepi sebuah perigi. Bisa jadi beliau berdoa ataukah meludah padanya, hingga airnya meluap. Kamipun memberi minum dan minum dari air itu. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  memanggil kami untuk berbai’at di bawah sebuah pohon. Aku berbai’at kepada beliau pada barisan pertama orang yang berbai’at, kemudian beliau membai’at dan membai’at lagi hingga barisan tengah manusia, beliau berkata: “Hai Salamah, berbai’atlah.”
Aku katakan: “Saya sudah berbai’at pada barisan pertama, ya Rasulullah.”
Kata beliau: “(Ini) juga.”
Beliau melihatku telanjang yakni tidak bersenjata, lalu memberiku sebuah perisai. Kemudian membai’at sampai pada barisan terakhir rombongan itu, beliau berkata: “Berbai’atlah kepadaku, wahai Salamah.”
Aku katakan: “Saya sudah berbai’at kepada anda, ya Rasulullah, di bagian pertama dan pertengahan rombongan.”
Kata beliau: “(Ini) juga.”
Lalu aku berbai’at kepada beliau untuk ketiga kalinya.
Kemudian beliau berkata kepadaku: “Hai Salamah, mana perisai yang aku berikan kepadamu?”
Aku katakan: “Ya Rasulullah, saya bertemu pamanku ‘Amir yang tidak punya perisai, lantas saya berikan kepadanya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  tertawa mendengarnya dan berkata: “Sungguh, kamu seperti kata orang dahulu: ‘Ya Allah, berikan untukku seorang kekasih yang dia lebih aku cintai daripada diriku sendiri’.”

Selanjutnya, kaum musyrikin mengirim utusan kepada kami untuk berdamai hingga berjalanlah sebagian kami pada sebagian lainnya dan kami pun berdamai. Aku sendiri dahulu mengiringi Thalhah bin ‘Ubaidullah, memberi minum dan merawat kudanya serta melayaninya. Aku makan makanannya, aku sudah meninggalkan keluarga dan hartaku karena berhijrah kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah berdamai, kami dan penduduk Makkah berbaur satu sama lain. Aku mendekati sebuah pohon dan memangkas duri-durinya, lalu berbaring di bawahnya. Kemudian datanglah empat orang musyrikin dari penduduk Makkah, hendak menyerang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.  Aku membenci mereka dan berpindah ke pohon lain. Mereka menggantungkan senjata mereka dan berbaring. Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba ada yang berseru dari arah bawah lembah: “Hai para muhajirin. Ibnu Zanim terbunuh.” Aku segera menghunus pedangku untuk menekan keempat orang itu dalam keadaan mereka sedang tidur. Akupun mengambil senjata dan menjadikannya terkumpul di tanganku. Aku berkata: “Demi Yang memuliakan wajah Muhammad, tidak ada satupun dari kalian yang mengangkat kepalanya melainkan aku tebas kepalanya.”
Aku pun membawa mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan datanglah pamanku membawa seorang laki-laki Bani ‘Ablah bernama Mikraz, digiringnya kepada Rasulullah n di atas kuda yang diberi pelana bersama 70 musyrikin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  memandangi mereka dan berkata:
“Biarkan mereka, tentu mereka memulai kekejian dan mengulanginya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memaafkan mereka, lalu Allah subhanahu wata’ala menurunkan:
وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ
بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ
(Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka) seluruh ayat ini.

Kemudian kami bertolak menuju Madinah dan singgah di satu tempat. Antara kami dan Bani Lihyan dipisahkan oleh sebuah gunung, di mana mereka ketika itu masih musyrik. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memintakan ampun bagi siapa pun yang mendaki gunung tersebut malam itu sebagai pengintai untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  dan para sahabatnya.
Kata Salamah: “Malam itu, aku pun mendakinya dua atau tiga kali.” Kami akhirnya tiba di Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengirim kendaraannya bersama Rabah bujang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku menyertainya. Aku berangkat bersamanya dengan kuda Thalhah menggiringnya untuk memberinya minuman dengan tunggangan itu. Keesokan harinya , ternyata Abdurrahman Al-Fazari menyergap kendaraan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  itu lalu menggiring dan membunuh penggembalanya.

Akupun berkata: “Hai Rabah, ambil kuda ini, sampaikan kepada Thalhah dan laporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bahwa musyrikin telah menyergap kendaraannya yang digembalakan.”
Kemudian aku berdiri di atas bukit kecil menghadap ke arah Madinah lalu berseru tiga kali: “Toloong.” Aku pun mengejar rombongan musyrikin itu lalu menghujani mereka dengan panah sambil mendendangkan rajaz (syair):
Akulah Ibnul Akwa’,  hari ini adalah hari binasanya orang yang hina. Ada salah seorang dari mereka menyusul. Aku pun menyerang kendaraannya dengan panah sampai menembus pundak kendaraannya. Aku katakan: “Ambillah itu.” Akulah Ibnul Akwa’. hari ini adalah hari binasanya orang yang hina.

Demi Allah, aku terus memanah dan menyerang mereka. Jika ada kuda yang datang, aku duduk di bawah pohon kemudian memanah dan memukulnya. Hingga setelah gunung itu menyempit, mereka masuk ke bagian yang sempit, akupun mendakinya dan melempari mereka dengan batu. Aku tetap mengikuti mereka demikian hingga tidaklah Allah subhanahu wata’ala ciptakan unta yang jadi kendaraan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  melainkan aku tinggalkan di belakangku. Dan mereka pun membiarkan aku dengannya. Kemudian aku ikuti mereka dan melempari mereka sampai mereka melemparkan 30 helai burdah dan 30 batang tombak untuk meringankan. Dan tidaklah mereka membuang sesuatu melainkan aku jadikan tanda penunjuk jalan dari batu agar diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  dan para sahabatnya.

Hingga ketika mereka tiba di bagian sempit lembah itu, ternyata mereka sudah didatangi oleh Fulan bin Badr Al-Fazari. Merekapun duduk dan makan siang. Akupun duduk di atas bukit kecil, kata si Al-Fazari: “Apa yang kulihat ini?” Kata mereka: “Kami mendapat kesulitan. Demi Allah, kami tidak dapat lolos sejak gelap tadi, dia melempari kami sampai habis semua yang ada di tangan kami.”
Katanya: “Bangkitlah empat orang dari kalian menghadapinya.” Lalu naiklah empat orang ke atas bukit. Ketika mereka mencapai jarak tepat bicara denganku, akupun berkata: “Kalian kenal aku?”
Kata mereka: “Tidak, siapa kamu?”
“Aku adalah Salamah bin Al-Akwa’,” jawabku.
“Demi Yang memuliakan wajah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , tidaklah aku kejar salah seorang dari kalian melainkan pasti aku dapat menangkapnya, dan tidak satupun dari kalian bisa menangkapku.”
Salah seorang berkata: “Aku kira (demikian).” Lalu mereka kembali dan aku tetap di tempat itu hingga melihat kuda-kuda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  di sela-sela pohon.

Yang pertama adalah Al-Akhram Al-Asadi disusul oleh Abu Qatadah Al-Anshari dan berikutnya Al-Miqdad bin Al-Aswad Al- Kindi. Aku pun kemudian memegang tali kendali Al-Akhram, sementara mereka telah melarikan diri. Aku katakan: “Hai Akhram, hati-hati dari mereka, jangan sampai mereka membunuh salah seorang kalian hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  dan para sahabatnya menyusul.”
Katanya: “Hai Salamah, kalau engkau beriman kepada Allah subhanahu wata’ala  dan hari kemudian dan tahu bahwa surga dan neraka itu haq, maka jangan halangi aku mati syahid.”

Aku pun membiarkannya dan bertemulah dia dengan ‘Abdurrahman itu. Dia pun membunuh kuda ‘Abdurrahman, sedangkan ’Abdurrahman balas menikam Al-Akhram lalu membunuhnya. Kemudian Abdurrahman pindah ke atas kuda Al-Akhram. Abu Qatadah, prajurit berkuda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berhasil mengejar ‘Abdurrahman kemudian menikamnya lantas membunuhnya. Demi Yang memuliakan wajah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,  sungguh, aku mengejar mereka dengan berlari sampai aku tidak melihat lagi di belakangku para sahabat Muhammad n bahkan debu jejak mereka. (Aku kejar mereka) hingga mereka membelok ke jalanan gunung yang di situ ada mata air bernama Dzu Qarad sebelum matahari terbenam untuk minum karena kehausan. Mereka melihat ke arahku yang berlari di belakang mereka. Aku lantas menghalau mereka dari mata air itu. Akhirnya mereka tidak minum setetespun dari mata air itu. Mereka pun keluar dan mengalami kesulitan di jalan sempit di bukit itu. Aku pun tetap mengejar dan berhasil menyusul salah seorang dari mereka. Kemudian aku menikamnya dengan panah, tepat mengenai ujung pundaknya, aku katakan:
“Rasakanlah: Akulah Ibnul Akwa’ hari ini adalah hari binasanya orang yang hina.”
Orang itu berkata: “Malangnya ibunya. Engkaukah Al-Akwa’ yang tadi pagi sampai siang ini?”
Aku katakan: “Ya, wahai musuh dirinya sendiri. Akulah Al-Akwa’ yang sejak tadi pagi.”
Mereka pun melepaskan dua kuda di atas lembah itu. Aku pun membawa keduanya lalu menggiringnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.  Aku disusul oleh ‘Amir yang membawa bejana berisi susu bercampur air dan satu lagi berisi air bersih. Aku pun berwudhu dan minum lalu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  yang berada di atas mata air yang aku usir mereka dari sana. Ternyata beliau sudah mengambil unta yang aku selamatkan dari musyrikin serta semua tombak dan burdah. Juga Bilal yang menyembelih unta yang aku bebaskan dari musuh tadi, ternyata dia memanggang hati dan punuknya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Aku berkata: “Wahai Rasulullah, biarkan saya memilih seratus dari mereka, lalu menyusul musuh itu, sehingga tidak satupun dari mereka yang menyampaikan berita melainkan saya bunuh dia.”
Mendengar ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  tertawa hingga terlihat gerahamnya di balik cahaya api itu, kata beliau: “Hai Salamah, apa kau yakin dapat melakukannya?”
Aku katakan: “Ya. Demi Yang memuliakan anda.”
Kata beliau: “Sesungguhnya sekarang mereka dijamu di Ghathafan.”
Kemudian datanglah seseorang dari Ghathafan, katanya: “Si Fulan menyembelih ternak besar untuk mereka. Tapi ketika mereka mengulitinya, mereka melihat debu membumbung, kata mereka: “Musuh datang.” Akhirnya mereka melarikan diri.
Keesokan harinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berkata: “Sebaik-baik pekuda kita hari ini adalah Abu Qatadah dan sebaik-baik pasukan jalan kaki kita hari ini adalah Salamah.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  memberi aku dua saham; saham prajurit berkuda dan pejalan kaki, beliau menggabungkannya untukku. Setelah itu, beliau memboncengku di atas Al-’Adhba` (nama unta beliau) pulang ke Madinah. Ketika kami dalam perjalanan, salah seorang sahabat Anshar yang belum pernah kalah berlari cepat mengatakan: “Adakah yang mau berlomba sampai Madinah?” Dia mengulangi tantangannya. Mendengar tantangannya, aku pun berkata: “Apa kamu tidak menghargai orang terhormat dan segan kepada orang mulia?”
Katanya: “Tidak, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Aku berkata: “Ya Rasulullah, demi bapak dan ibuku tebusannya, izinkan saya membalap orang ini.”
Kata beliau: “Kalau kau mau (silakan).”
Aku katakan: “Larilah.”
Aku pun menekuk dua kakiku dan mulai berlari kencang. Aku menahan nafas melewati satu atau dua dataran tinggi. Kemudian aku melepaskannya agar tidak kelelahan. Kemudian aku mengejar di belakangnya dan menahan nafas ketika di satu atau dua dataran tinggi. Selanjutnya, aku naik hingga menyusulnya. Lalu aku menusuk pundaknya, sambil aku katakan: “Demi Allah, engkau kalah.” Katanya: “Ya, aku kira (demikian).” Aku pun mengalahkannya sampai ke Madinah. Wallahu a’lam.

Perjanjian Hudaibiyah yang lahiriahnya tampak merugikan pihak kaum muslimin, akhirnya terbukti menjadi pintu kemenangan yang besar. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini.

Setelah perjanjian tersebut disepakati, para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, (haruskah) kami setujui hal ini?” Beliau pun bersabda:

مَنْ أَتَاهُمْ مِنَّا فَأَبْعَدَهُ اللهُ، وَمَنْ أَتَانَا مِنْهُمْ فَرَدَدْنَاهُ إِلَيْهِمْ جَعَلَ اللهُ لَهُ فَرَجًا مَـخْرَجًا

“Barangsiapa yang datang kepada mereka dari pihak kita, (semoga) Allah subhanahu wata’ala  menjauhkannya. Dan barangsiapa dari (pihak) mereka yang datang kepada kita, lalu kita kembalikan kepada mereka, (semoga) Allah jadikan untuknya kelapangan dan jalan keluar.”
(HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Dan memang, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  begitu mudahnya menerima ketentuan dari Suhail karena di dalamnya terdapat upaya-upaya pengagungan hurumatillah, dengan terjaganya darah. Apalagi beliau telah menegaskan:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَسْأَلُونِي الْيَوْمَ خُطَّةً يُعَظِّمُونَ بِهَا حُرُمَاتِ اللهِ إِلَّا أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا

“Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, tidaklah mereka memintaku satu perkara yang mereka agungkan padanya kehormatan (hurumat) Allah melainkan aku berikan kepada mereka.”

Akhirnya, berlakulah perjanjian besar tersebut yang Allah subhanahu wata’ala  namakan sebagai Al-Fath (kemenangan). Kaum muslimin sendiri tidak senang dengan perjanjian tersebut ketika mengira dalam butir-butir perjanjian itu terkandung penghinaan terhadap kaum muslimin. Mereka tidak melihat adanya kemaslahatan besar di balik perjanjian itu.

Sahl bin Hunaif mengisahkan: “Curigailah akal (ra’yu) karena sungguh, aku lihat, dalam peristiwa Abu Jandal (anak Suhail bin ‘Amru) seandainya aku mampu membantah keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  pastilah sudah aku bantah.”

Perjanjian tersebut kemudian justru menjadi satu kemenangan, karena adanya kemaslahatan seperti keleluasaan bagi kaum muslimin untuk mendakwahkan Islam ke seluruh kabilah Arab. Bahkan kemenangan paling besar yang dengan sebab inilah semakin tersebarnya ajaran Islam. Dakwah berjalan tanpa gangguan, manusia pun mulai masuk Islam secara berbondong-bondong.

Padahal sebelumnya, kaum muslimin tidak mampu berdakwah di luar daerah yang penduduknya telah masuk Islam seperti kota Madinah dan sekitarnya. Sementara orang-orang yang masuk Islam dari penduduk Makkah dan wilayah musyrikin lainnya, selalu diintimidasi. Oleh karena itu pula, mereka yang masuk Islam, berjihad dan berinfaq sebelum Fathu Makkah lebih besar pahalanya dan lebih tinggi derajatnya dibandingkan mereka yang masuk Islam, berjihad, dan berinfaq sesudah perjanjian Hudaibiyah. Namun bagaimanapun juga, mereka semua dijanjikan surga oleh Allah l subhanahu wata’ala sebagaimana firman-Nya:

“Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(Al-Hadid: 10)

Ayat ini menegaskan betapa mulia kedudukan para sahabat g di mana Allah subhanahu wata’ala persaksikan keimanan mereka dan menjanjikan surga bagi mereka. (Tafsir As-Sa’di hal. 839)

Sebuah keutamaan yang tidak mungkin didapatkan oleh orang-orang yang datang sesudah mereka, sehebat apapun amalan mereka. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, menegaskan kemuliaan tersebut:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencaci-maki para sahabatku. Janganlah kalian mencaci-maki para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak mencapai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka, bahkan tidak pula separuhnya.”

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda tentang para sahabat yang ikut dalam peristiwa Hudaibiyah:
لَا يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ مِمَّنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
“Tidak akan masuk neraka satu pun yang berbai’at di bawah pohon ini (bai’atur ridhwan).”
(HR. Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)

Allah subhanahu wata’ala  juga menerangkan bahwa Dia ridha kepada mereka, mengetahui isi hati mereka serta memberikan kemenangan buat mereka.

Hikmah Perjanjian Hudaibiyah

Sesungguhnya yang paling pantas diperhatikan seorang muslim adalah amal yang berkesinambungan dengan mengikuti atsar-atsar Nabi n serta merealisasikannya dalam hidup dan kehidupannya, semampunya. Allah lsubhanahu wata’ala berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(Al-Ahzab: 21)

Ayat ini sebagaimana kata Ibnu Katsir , merupakan dasar yang kokoh dalam berteladan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  baik ucapan, perbuatan, dan keadaannya. Dan teladan ini hanya dijalani serta diberi taufiq untuk mengikutinya oleh orang-orang yang mengharapkan Allah subhanahu wata’ala dan hari kemudian.

Sehingga orang yang beriman, takut kepada Allah subhanahu wata’ala  serta yang mengharap pahala-Nya, tentu semua ini akan mendorongnya untuk meneladani Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan kemuliaan seorang mukmin diukur dengan sikap ittiba’-nya: semakin teguh dia berpegang dan mengamalkan As-Sunnah, semakin berhak dia memperoleh kedudukan mulia (di sisi Allah subhanahu wata’ala).

Sebagaimana dimaklumi, perikehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  seluruhnya adalah teladan yang baik. Baik dalam keadaan safar, bermukim, berperang, damai, dan sebagainya.

Dan di dalam kisah Hudaibiyah, kita dapat memetik sejumlah pelajaran dan hikmah yang agung. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah memaparkan sebagian faedah atau pelajaran dari hikmah tersebut dalam kitabnya Zadul Ma’ad (3/303), di antaranya:

1. Orang-orang musyrik, ahli bid’ah, orang-orang yang jahat, pemberontak, dan orang-orang dzalim, apabila menuntut suatu perkara yang di dalamnya kehormatan Allah subhanahu wata’ala  diagungkan, maka tuntutan tersebut harus dipenuhi bahkan didukung, meskipun mereka menolak yang lain.

Jadi mereka dibantu untuk mengagungkan kehormatan Allah subhanahu wata’ala,  bukan kekafiran dan kejahatan mereka, siapapun adanya.

Inilah yang membuat gusar para sahabat kecuali Abu Bakr Ash-Shiddiq . Dan ini sekaligus menampakkan keutamaan beliau, seolah-olah hati beliau bertumpu di atas hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau  menjawab kegusaran Umar  dengan jawaban yang sama dengan jawaban yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  kepada Umar  padahal beliau tidak ada di tempat ketika itu.

2. Bolehnya imam atau pemimpin mendahului meminta damai dengan musuh bila hal itu mengandung maslahat bagi kaum muslimin.

3. Boleh bersabar atas kurang sopannya utusan orang-orang kafir di mana tidak membalas kekasaran karena terdapat maslahat yang umum.

4. Berdamai dengan kaum musyrikin, meskipun di dalamnya terdapat sedikit kerugian bagi kaum muslimin adalah boleh, demi kemaslahatan yang lebih kuat dan jelas.

Hal ini sering dilalaikan oleh orang-orang yang dangkal pikirannya, sehingga memandang bahkan memvonis bahwa perjanjian damai yang dilakukan sebagian pemerintahan muslimin dengan sebagian negara kafir adalah kekafiran yang nyata sehingga harus diperangi pelakunya.

Terlebih hanya dengan pertimbangan tersedotnya kekayaan negara muslim tersebut oleh orang-orang kafir. Tidaklah mereka melihat adanya kemaslahatan yang lebih besar dalam kesepakatan-kesepakatan damai tersebut? Terjaganya darah kaum muslimin, yang ini lebih berharga dari dunia dan seisinya. Bahkan satu jiwa yang mukmin lebih mulia di sisi Allah subhanahu wata’ala daripada Ka’bah. Wallahul musta’an.

5. Perjanjian Hudaibiyah ini merupakan pendahuluan dari sebuah kemenangan yang lebih besar lagi. Di mana Allah lsubhanahu wata’ala memuliakan –melalui kemenangan ini– Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam  dan tentara-Nya.

Demikianlah biasanya Allah subhanahu wata’ala  dalam setiap persoalan besar, yang Dia tetapkan secara syar’i maupun takdiri; Dia berikan pengantar dan pendahuluan yang menunjukkan perkara tersebut.

6. Perjanjian damai ini termasuk kemenangan terbesar. Karena adanya jaminan keamanan kedua belah pihak. Kaum muslimin bergaul dengan orang-orang kafir, serta memperdengarkan Al-Qur`an kepada mereka.

Akhirnya teranglah apa-apa yang kabur tentang Islam, berimanlah orang-orang yang Allah subhanahu wata’ala kehendaki untuk beriman. Karena itu pula, Allah lsubhanahu wata’ala menamakannya “kemenangan yang nyata”.

Wallahu a’lam.

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Sunber:
http://asysyariah.com/perjanjian-hudaibiyah.html
http://asysyariah.com/perjanjian-hudaibiyah-2.html
http://asysyariah.com/perjanjian-hudaibiyah-bagian-3.html
http://asysyariah.com/perjanjian-hudaibiyah-bagian-4.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s