موقع أبي عبد الله سفيان خالد بن إدهام روراي السلفي الأندونيسي

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

Menjual jimat, sebuah bisnis yang akhir-akhir ini sangat menguntungkan, sehingga tidak jarang memunculkan orang kaya-orang kaya baru dalam bisnis ini. Penjualnya pun beraneka ragam, dari yang terang-terangan berlabel dukun sampai yang dipanggil kiai atau ustadz, bahkan da’i kondang. Pelanggannya juga cukup banyak, mulai dari orang-orang berpangkat, artis, konglomerat hingga rakyat jelata. Berbagai macam iklan penjualan jimat muncul di berbagai media, baik pada media umum maupun media khusus perdukunan, bahkan media “islami” (baca: tasawuf, sihir).

View original post 2,418 more words

Advertisements

Kemaksiatan Terburuk Penuntut Ilmu

Apakah kemaksiatan terburuk yang seringkali dilalaikan oleh penuntut ilmu?

Asy Syaikh Abdussalam Barjas Al Abdil Karim rahimahullah berkata,

“Semua maksiat jelek, akan tetapi maksiat terjelek yang seringkali tersamar oleh penuntut ilmu adalah takabbur, sombong, merasa besar, tertipu dengan dirinya sendiri sehingga dia memandang rendah serta merasa tinggi dari orang lain. Dia pun berjalan dengan gaya yang congkak, banyak bicara serta tak lepas dari sifat besar diri dan semisalnya.” Continue reading

Puasa Syawal, Ibadah Penyempurna Ramadhan

Di saat bulan Ramadhan telah usai, ada sebuah harapan yang tentu menjadi keinginan setiap hamba yang telah menjalani bulan ramadhan dengan penuh kesungguhan dalam beribadah, yaitu mendapatkan maghfirah dari Allah -Azza Wajalla- , sehingga  terbebas dari segala dosa yang pernah ia lakukan, baik dosa kecil maupun dosa besar.

Sebab, jika dosa tidak juga terampuni, sungguh merupakan sebuah kerugian yang besar. Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- bersabda:
“Sungguh merugi seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, lalu ia keluar darinya sebelum ia diampuni (dosa-dosanya).”
(HR.Tirmidzi dari Abu Hurairah -Radhiallahu Anhu- ) Continue reading

Hukum Seputar Malam Lailatul Qadar

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah-

Soal 1: Malam Lailatul Qadar itu jatuh pada hari ke berapa?

Jawab:
Di dalam Al-Qur’an tidak diterangkan pada malam ke berapa malam Lailatul Qadr itu jatuh, tetapi di dalam hadits diterangkan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf pada 10 hari awal di bulan Ramadhan menginginkan malam Lailatul Qadr, kemudian beliau beri’tikaf pada 10 hari pertengahannya dan mengatakan (yang artinya):

“Sesungguhnya malam Lailatul Qadr itu jatuh pada 10 hari akhir di bulan Ramadhan”. Continue reading

Wahai Kaum Muslimin, Raihlah Kemuliaan Lailatul Qadar!

Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Segala puji bagi Allah yang telah mengutamakan bulan Ramadhan daripada bulan-bulan lainnya, dan mengkhususkannya dengan Lailatul Qadr, yang lebih baik dari seribu bulan.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya, amma ba’du;

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”
(Ad Dukhan: 3-4) Continue reading

Hukum-hukum Terkait Shalat Dan Hari ‘Id (Ringkas) II

 

Kapan khutbah dilakukan?

Melakukan khutbah setelah dua raka’at dan tidak mendahulukan khutbah sebelum shalat. Hal ini berdasarkan ucapan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menunaikan shalat dua ‘id sebelum melakukan khutbah.”

Inilah sunnah dan amalan keumuman para ulama. At-Tirmidzy rahimhullah berkata: “Padanya amalan ahlul ilmi dari shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain mereka, bahwa shalat dua ‘id itu sebelum khutbah.” Continue reading

Hukum-hukum Terkait Shalat Dan Hari ‘Id (Ringkas) I

بسم الله الرحمن الرحيم

Hari ‘id ada dua yaitu hari ‘id al-fithr yang terkjadi pada 1 Syawal setelah selesai dari menunaikan puasa Ramadhan dan ‘id al-adhha yang terjadi pada tanggal 10 Dzul Hijjah.

Kenapa disebut dengan kata ‘id?

Dan hari ‘id disebut dengan kata ‘id karena dia selalu burlang pada tiap tahun, kembali terulang dengan kegembiraan da kebahagiaan, dan Allah Ta’ala kembali mengulang padanya dengan kebaikan yang tercurah pada hamba-Nya pada selepas penunaian ketaatan mereka yaitu puasa dan haji. Continue reading

Tata Cara Beri’tikaf di Masjid

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini al-Makassari

Beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sering dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mencari keutamaan sepuluh hari terakhir Ramadhan, khususnya malam mulia yang utama (lailatul-qadri).

Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian para istri beliau pun melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.”
(Muttafaq ‘alaih) Continue reading

Tuntunan Ringkas Tentang Zakat Fitrah


Zakat fitr (Zakat Fitrah), adalah zakat yang berkaitan dengan bulan Ramadhan, ketika kaum muslimin telah mengakhiri masa-masa puasa mereka di bulan tersebut, hingga akhir bulan yang disusul dengan datangnya bulan Syawal.

Oleh karenanya ia disebut Fitr, yang artinya berbuka dan tidak lagi diwajibkan berpuasa.  Dari sini kita mengetahui bahwa zakat fitr adalah zakat yang disyariatkan sebagai pertanda berakhirnya bulan Ramadhan dan memasuki bulan Syawal. Continue reading

Fatwa Syaikh tentang Hukum I’tikaf


Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz tentang hukum I’tikaf

Pertanyaan:
Apakah hukum I`tikaf bagi laki-laki dan wanita? Apakah berpuasa merupakan syarat untuk syahnya I`tikaf? Kemudian amalan apa saja kah yang baik dilakukan oleh orang yang beri`tikaf? Kapan waktu memasuki tempat i`tikaf dan kapan keluar dari sana ?

Jawaban:
I`tikaf hukumnya Sunnah bagi laki-laki dan wanita sebagaimana telah datang dari Rasululullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, bahwasanya beliau dulu beri`tikaf di bulan Ramadhan. Kemudian pada akhirnya, i`tikaf beliau tetapkan pada sepuluh hari terakhir. Para istri-istri beliau juga beri`tikaf bersama beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam, dan juga setelah beliau wafat.

Tempat beri`tikaf adalah mesjid-mesjid yang didirikan shalat berjamaah padanya. Apabila waktu i`tikafnya diselingi oleh hari Jumat, maka yang lebih utama adalah beri`tikaf di mesjid yang mengadakan shalat Jumat, jika itu memungkinkan. Tidak ada waktu-waktu tertentu bagi i`tikaf dalam pendapat Ulama yg terkuat .Juga tidak disyaratkan berpuasa walaupun dengan berpuasa lebih utama.

Disunnahkan bagi seseorang yang beri`tikaf agar memasuki tempat beri`tikaf saat dia berniat i`tikaf dan keluar dari padanya setelah lewat masa yang dia inginkannya. Diperbolehkan baginya boleh memotong waktu tersebut jika ada keperluan lain, karena i`tikaf adalah sunnah dan tidak menjadi wajib jika dia telah memulainya, kecuali jika dia bernadzar.

Disunnahkan beri`tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan untuk mengikuti Rasululllah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Disunnahkan bagi seseorang yang beri`tikaf saat itu untuk memasuki tempat i`tikafnya setelah shalat Fajar hari ke-21 dan keluar dari sana apabila telah selesai sepuluh hari. Jika dia memotongnya maka tidak mengapa, kecuali jika i`tikaf nadzar sebagaimana telah dijelaskan.

Yang lebih diutamakan adalah menyediakan tempat khusus di dalam mesjid untuk beristirahat jika memungkinkan. Dianjurkan bagi yang beri`tikaf agar memperbanyak dzikir, membaca qur`an,istighfar, berdoa dan mengerjakan shalat-shalat Sunnah selain pada waktu-waktu yang dilarang. Tidak dilarang bagi teman-teman seseorang yang beri`tikaf untuk mengunjunginya dan berbicara dengan mereka sebagaimana Rasululullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dahulu dikunjungi oleh beberapa istrinya dan berbicara dengan mereka.

Pada suatu saat Shofiyah mengunjungi beliau saat I`tikaf di bulan Ramadhan. Hal ini menunjukan kesempurnaan sifat tawadhu` dan baiknya beliau terhadap istri-istri beliau, semoga shalawat dan salam dilimpahkan atas beliau.
————————————————————————

Referensi: Dinukil dari Tuhfatul ikhwan bi ajwibatin muhimmatin tata`allaqu bi arkanil islam, karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah. Penerjemah Abu Abdillah Alee Masaid As salafee

diambil dari http://www.salafy.or.id/2003/11/16/fatwa-syaikh-tentang-hukum-itikaf/

Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- Seputar Niat Puasa Ramadhan


Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab beliau Haqiqatus Shiyam hal. 87-100:

Tanya:

Ada seorang imam masjid bermadzhab Hanafi menyebutkan bahwa dia membaca kitab bahwa bila seseorang berpuasa di bulan Ramadlan tidak berniat pada akhir waktu isya’ atau sahur maka puasanya tidak berpahala. Apakah pendapat ini dibenarkan?

Jawab:
Setiap muslim yang mengetahui bahwa puasa Ramadlan itu wajib hukumnya, ia tentu berpuasa bulan itu dengan niat. Bila ia tahu besok akan puasa haruslah ia meniatkan puasa. Niat itu tempatnya di hati. Setiap orang akan mengetahui apa yang ia inginkan mesti meniatkannya dengan dilafalkan atau tidak. Melafalkan niat bukan wajib menurut ijma’ kaum muslimin. Keumuman kaum muslimin berpuasa dengan diiringi niat. Continue reading

Fatwa Seputar Safar di Bulan Ramadhan

 


Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab beliau Haqiqatus Shiyam hal. 87-100:

Tanya:

Beberapa orang melakukan safar (bepergian) pada bulan Ramadlan. Dalam rombongan itu ada yang berbuka dan ada yang berpuasa. Di antara yang berbuka mengejek yang berpuasa dengan alasan bahwa berbuka itu lebih utama. Pertanyaan: Berapakah jarak boleh mengqashar shalat? Apakah bila seseorang safar pada suatu hari boleh berbuka puasa? Apakah perbedaan safar maksiat dan safar ketaatan kepada Allah?

Jawab:
Menurut kesepakatan kaum muslimin (ulama) berbuka puasa diperbolehkan bagi musafir jika safar itu bukan dalam rangka bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya seperti haji, jihad, berdagang, dan yang semisalnya. Para ulama masih bersilang pendapat bila safarnya untuk bermaksiat pada Allah seperti safar dengan niat merampok. Continue reading