Nasihat Bagi Keluarga Muslim di Bulan Ramadhan

Alhamdulillah, segala puji dan sanjungan hanya milik Allah semata. Saat ini umat Islam tengah beroleh nikmat yang agung dari-Nya, yaitu bersua kembali dengan bulan Ramadhan yang telah meninggalkannya setahun yang lewat. Alhamdulillah, tak henti-henti bibir ini memuji-Nya, memohon bimbingan dan petunjuk-Nya hingga diri ini tegak, sabar, dan berhasil memetik maghfirah, barakah, dan seluruh nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya. Continue reading

Advertisements

Bolehkah Mengadakan Syukuran?

Pertanyaan:

Ana mau menanyakan bolehkah kita mengadakan tasyakuran dengan mengundang para kerabat untuk membaca surat yasiin bersama yang biasanya diadakan dalam rangka kelulusan ujian atau sedang mendapat suatu nikmat bahkan dalam rangka kita menempati rumah baru? kalau tidak boleh, lantas bagaimana cara kita untuk mengekspresikan rasa syukur kita? Mohon dijawab, dan syukron sebelumnya. Continue reading

Seputar Niat Puasa

Penulis: Al-‘Allamah Shalih bin Fauzan Al- Fauzan hafidzahullah

Soal : “Seringkali saya berpuasa tanpa niat sebelumnya pada permulaan puasa. Apakah niat merupakan syarat puasa yang harus di lakukan setiap hari ? Ataukah cukup dengan hanya berniat pada awal bulan ? 

Jawab : Puasa dan amal-amal ibadah lainnnya harus dikerjakan dengan niat. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya amal-amal ibadah itu bergantung kepada niat. Setiap orang akan mendapatkan ganjaran berdasarkan atas apa yang dia niatkan.“
(HR. Imam Al- Bukhari (1/2) dari hadits Umar bin Khatthab).
Dalam riwayat lain : “Tidak ada amalan kecuali dengan niat. “
[Lafadz seperti ini diriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib, seperti yang di sebutkan dalam Al-Firdaus bin Ma’tsuril Khithob (5/191)].

Puasa bulan Romadhan wajib di lakukan dengan berniat pada malam harinya, yaitu seseorang harus telah berniat puasa untuk hari itu sebelum terbit fajar. Bangunnya seseorang pada akhir malam kemudian makan sahur menunjukkan telah ada niat pada dirinya (untuk berpuasa). Seseorang tidaklah di tuntut melafadzkan niatnya dengan berucap : “Aku berniat puasa (hari ini)”, karena yang seperti ini adalah Bid’ah, tidak boleh dikerjakan ! Berniat puasa selama bulam Ramadhan haruslah dilakukan setiap hari, karena (puasa pada) tiap-tiap hari (dibulan itu) adalah ibadah yang berdiri sendiri yang membutuhkan niat. Jadi, orang yang berpuasa harus berniat dalam hatinya pada masing-masing hari (dalam bulan itu) sejak malam harinya. Kalau misalnya dia telah berniat puasa pada malam harinya kemudian dia tertidur pulas hingga baru terbangun setelah terbitnya fajar, maka puasanya sah, karena dia telah berniat sebelumnya. Wallahu a’lam.

Maroji’ : Al-Muntaqo min Fatawa Asy- Syaikh Sholih Al-Fauzan (5/109).

Sumber : BULETIN DAKWAH AT- TASHFIYYAH, Surabaya Edisi : 20 / Sya’ban / 1425 H

www.darussalaf.or.id/stories.php?id=333

Ramadhan bersama Asy- Syaikh Bin Baz


Figur seorang ‘ulama sangatlah penting di tengah-tengah umat. Posisi ‘ulama sebagai pewaris para nabi membuat umat sangat membutuhkan kehadiran para ‘ulama dalam memberikan pengarahan dan bimbingan segala urusan umat. Akhlaq dan sepak terjang ‘ulama menjadi teladan bagi umat. Sebagai seorang ‘ulama panutan umat, Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah merupakan figur yang sangat dihormati dan dikagumi oleh semua kalangan.

Kharisma ketaqwaan dan keshalihan beliau benar-benar melekat di sanubari jutaan manusia. Kapasitas keilmuaannya benar-benar menjadikan berbagai penjelasan dan fatwa beliau sangat dicari dan dibutuhkan oleh umat. Semangat ibadah, kesungguhan, kedermawanan, keterbukaan, dan kasih sayang beliau menjadi teladan bagi kaum muslimin. Continue reading

Hormatilah Guru Dan Ulamamu

بسم الله الرحمن الرحيم

Al-Hafizh Al-Hakamy رحمه الله berkata dalam “Al-Mimiyah”:

Dan nasehat berikanlah pada para penuntut ilmu dengan Ikhlash, secara tersembunyi dan terang-terangan, Dan guru itu hormatilah!!

Asy-Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr حفظه الله menjelaskan dalam syarahnya hal. 84-86:

Nasehat adalah menginginkan kebaikan bagi orang lain. Dan engkau mencintai bagi mereka apa yang engkau cintai bagi dirimu. Jika Allah تعالى telah memuliakan dan menganugerahimu ilmu dan keutamaan, maka tularkanlah hal itu kepada yang lain. Agar mereka juga mendapatkan manfaat.

Dan lakukan semua itu dengan ikhlash mengharap balasan dari Allah تعالى. Janganlah niatmu itu demi mendapatkan balasan dari mereka, akan tetapi haraplah pahala akhirat.

Dan sampaikan nasehat itu secara tersembunyi, berdua dan empat mata saja. Terlebih ketika menasehatinya dari sebagian kesalahan dan penyimpangan. Sesungguhnya nasehat itu jika disampaikan dengan menyendiri maka akan lebih berpengaruh dan lebih berfaedah. Al-Hafizh Ibnu Rajab رحمه الله menyebutkan bahwa ulama salaf itu tidak suka melakukan nasehat amar ma’ruf nahi munkar di depan khalayak ramai, menampakkan orang yang salah. Kemudian beliau mengatakan: “Mereka lebih suka melakukannya dengan tersembunyi, karena ini merupakan tanda adanya nasehat. Seorang penasehat itu tidaklah selayaknya punya tujuan menyebarkan aib, karena hal ini diharamkan.”

Dan juga sampaikan dengan terang pada pelajaran, khutbah yang membawa manfaat bagi semua pihak.

Demikian juga hormatilah ustadz dan gurumu. Hendaknya menghormati ulama dan orang yang menyampaikan padanya ilmu. Sesuai dengan kadar hormatnya kepada ulama maka dia akan mendapatkan faedah dari ulama tersebut. Demikian pula sebaliknya.

Asy-Syaikh Muhammad Mani’ رحمه الله (seorang ulama Su’udiyah) berkata:
“Dan tidak pantas bagi seorang penuntut ilmu itu mencela dan menggunjing ulama dan juga para pengajar yang membantunya. Jangan sampai dia membalas kebaikan ulama dengan kejelekan. Sebagaimana hal ini banyak terjadi pada sekian banyak penuntut ilmu. Sehingga dia diharamkan dari ilmu yang dimiliki ulama tersebut. Bahkan yang wajib adalah dia mengakui keutamaan ulama itu, berdoa untuknya, menyebarkan kebaikannya dan melindungi kejelekannya.”

Ingatlah ucapan Ibnu Asakir رحمه الله: “Sesungguhnya daging para ulama itu masmumah.” Dan apa maksudnya? Ingatlah bahwa orang yang menggunjing, menyebarkan aib dan mencela para ulama yang merupakan pewaris nabi dan hujjah Allah تعالى di muka bumi maka dia terancam dengan kejelekan, kerugian dan kebinasaan. Dia akan rugi karena dia akan diharamkan dari ilmu ulama yang dia cela, dia akan binasa karena bimbingan dan nasehatnya akan luput darinya.

Dan ingatlah ucapan Abu Hazim seorang ulama salaf: “Engkau tidak akan menjadi ulama (tidak pantas disebut ulama) sampai engkau memiliki tiga perangai:

  1. Tidak memusuhi orang yang di atasmu (dari segi ilmu, umur dan kedudukan)
  2. Tidak meremehkan orang yang di bawahmu.
  3. Tidak menginginkan dengan ilmu ini sekelumit dari dunia (entah kedudukan, entah agar dielu-elukan, entah agar kelihatan selalu tampil dan sebagainya). Lihat Siyar A’lam An-Nubala karya Adz-Dzahaby (6/90).

Koreksi dirimu apakah sudah benar tujuan dan langkahmu. Indahkan kehidupanmu dengan adab. Karena Allah تعالى telah mengawali firman-Nya dengan pelajaran adab kepada-Nya. Renungkanlah surat Al-Fatihah niscaya akan ada pelajaran adab padanya.

Kemudian pada hal 159 Asy-Syaikh mengatakan:

Ambillah ilmu dari ulama-ulama besar, sebagaimana hal ini datang dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه : “Senantiasa manusia ini akan shalih keadaannya berpegang teguh, selama ilmu itu diambil dari para shahabat Muhammad صلى الله عليه وسلم dan dari ulama-ulama besar mereka. Jika datang dari ulama-ulama kacangan maka niscaya mereka akan binasa.” Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam “Al-Mushannaf” no. 20446.

Disadur oleh

‘Umar Al-Indunisy

Darul Hadits – Ma’bar, Yaman.

http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/12/12/hormatilah-guru-dan-ulamamu/

Jika Imsak Terdengar Apakah Harus Berhenti Makan Sahur?

بسم الله الرحمن الرحيم

Pertanyaan: Apa hukum kata “Imsak – Imsak” yang dikumandangkan di masjid-masjid? Apakah kaum muslimin wajib berhenti dari sahurnya jika mendengar panggilan “Imsak”?

Jawab: Berkata Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah ta’ala:

Bahwa panggilan “Imsak” ini tidak ada syari’atnya dalam ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak pula diamalkan oleh para shahabat dan ulama generasi awal umat ini. Maka hal ini tidak perlu diamalkan.

Batas akhir diperbolehkannya orang sahur adalah sampai adzan fajar, yaitu adzan untuk shalat subuh. Karena Allah Ta’ala berfirman yang maknanya: “Maka maknlah dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam berupa fajar”. Jadi yang menjadi patokan adalah terbitnya fajar untuk shalat subuh bukan dikumandangkannya imsak, yaitu cahaya putih yang melebar di ufuk timur. Maka kita tetap beramal berdasar Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan membuat sempit ruang gerak manusia dalam ibadah mereka.

Wallahu ‘alam.

http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/08/12/24-jika-imsak-terdengar-apakah-harus-berhenti-makan-sahur/

Mengisi Ramadhan Dengan Shalat Tarawih Dan Tilawah Al-Qur’an

Berikut nasehat yang kami sadur dari muhadharah Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah di Darul Hadits Ma’bar, Yaman.

Segala puji bagi Allah Ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah pada Rasulullah Muhammad. keluarga dan para shahabatnya.

Wahai saudaraku sekalian.

Kalian tentunya sadar bahwa Ramadhan sebentar lagi datang, dan sesungguhnya seorang mukmin itu akan rindu terhadap datangnya Ramadhan, karena dia tahu akan kebaikan, barakah yang ada pada bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan ditegakkannya shalat tarawih, diperbanyak banyak Al-Qur’an (karena Al-Qur’an turun pada bulan Ramadhan), diperbanyak padanya dzikir dan do’a, diperbanyak padanya taubah dan menjalani kehidupan penuh bersama Allah Ta’ala pada malam dan siangnya. Continue reading

Shalat Tarawih Raka’atnya dan Tata Caranya


Asy-Syaikh Al-Albany rahimahullah berkata dalam kitab “Shalat At-Tarawih”:

** Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Tidaklah Shalat Tarawih Lebih Dari Sebelas Raka’at.

Setelah kita menetapkan bahwa shalat tarawih dilakukan dengan berjama’ah berdasarkan persetujuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, perbuatannya dan dorongannya, maka kami menjelaskan berapa raka’atkah beliau shalat tarawih? Sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Aisyah dalam Ash-Shahihain berikut ini: “Tidaklah Rasulullah menambah (dalam shalat malamnya) pada Ramadhan atau selain Ramadhan lebih dari sebelas raka’at.” Continue reading

Hukum Mengucapkan Selamat Masuk Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم

Permasalahan ini telah diperselisihkan oleh para ulama, entah pada masa ini ataupun pada masa yang telah lewat. Dan mungkin dikatakan bahwa perbedaan ini terdapat padanya dua pendapat yang inti dan mendominasi:

Pertama: Bahwa hal ini tidak disyari’atkan. Dan mereka berbeda tepatnya dihukumi apa. Ada yang mengatakan hal ini bid’ah, ada yang mengatakan hal ini haram, dan ada yang mengatakan hal ini makruh. Alasan inti mereka bahwa ini tidak disebutkan dalam kitab, ataupun dalam sunnah, ataupun dalam ucapan ulama salaf. Dan mereka menukilkan ucapan Imam Malik dan Ahmad, meskipun Ibnu Muflih mengatakan bahwa riwayat dari Imam Ahmad telah diperselisihkan.

Tapi alasan ini dijawab: Kalaupun telah diriwayatkan dalil yang menunjukkan akan hal itu dan para ulama di atas tidak tahu bukan berarti tidak ada dalil. Hujah itu dengan dalil bukan dengan tidak diketahuinya dalil.

Kedua: Disyari’atkan hal itu, bersamaan dengan adanya perbedaan pendapat akan pemastian hukum dari mereka. Ada yang mengatakan sunnah, ada yang bilang sekedar boleh dan inilah yang menurut penulis adalah yang benar. Dan diantara ulama masa ini yang memandang pendapat ini adalah Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam “Al-Muntaqa”: “Mengucapkan selamat atas masuknya Ramadhan adalah tidak mengapa.”.
Dan Syaikh Ibnu Baz dalam “Majmu’ Fatawa” mengatakan: “Aku tidak mengetahui sesuatu yang pasti dalam menyambut datangnya RAmadhan kecuali seorang muslim menyambutnya dengan gembira dan penuh rasa syukur. …Oleh karena itu RAsulullah memberi kabar gembira kepada para shahabat akan datangnya Ramadhan dengan menjelaskan keutamaannya.”.

Pembahasan meluas silahkan lihat di Forum Sahab.net berikut linknya

http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=327078

‘Umar Al-Indunisy

Darul Hadits – Ma’bar, Yaman

http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/08/10/23-hukum-mengucapkan-selamat-akan-masuknya-ramadhan/

Tafsir Ayat Puasa

Penulis: Al Ustadz Abu Abdillah Kediri hafizhahullaahu ta’ala

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(Al-Baqarah: 183)

Para pembaca rahimakumullah. Sungguh suatu kebahagiaan manakala kita diberi kesempatan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala untuk berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan. Nikmat yang besar ini patut kita syukuri. Karena pada bulan ini, Allah subhaanahu wa ta’ala banyak melimpahkan karunia-Nya dan melipatgandakan pahala bagi amalan shalih  seorang hamba. Sebuah keutamaan yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Continue reading

Apa Aja Sie Hikmah dan Keutamaan dalam Berpuasa???

1. Hikmah dan Fadhilah (Keutamaan) Ash-Shaum

Ash-Shaum merupakan salah satu ibadah dalam Islam yang memiliki keutamaan yang sangat tinggi, serta memiliki berbagai faidah dan hikmah sebagaimana yang disebutkan oleh Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya tatkala menjelaskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ( البقرة: ١٨٣

”Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian ash-shaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” [Al-Baqarah : 183] Continue reading

MATERI KULTUM SINGKAT RAMADHAN 2012 : “Hikmah Puasa Ramadhan”


Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani

Perjalanan waktu terus berlangsung. Tanpa terasa sekian ramadhan telah dilewati. Ini membuktikan bahwa masa sudah saling berdekatan sebagaimana yang di beritakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Barangkali sebagian kita telah melalui ramadhan selama enam puluh tahun, ada pula yang lima puluh tahun, empat puluh tahun, tiga puluh tahun, dua puluh tahun, atau lebih maupun kurang. Namun apa hasil yang sudah kita raih untuk kebaikan agama dan akherat kita. Sudahkah tempaan bulan suci ramadhan mampu meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah. Atau masihkah tingkah laku kita sama dengan masa sebelumnya bahkan malah lebih parah. Kita memohon kepada Allah ampunan dan rahmat-Nya. Continue reading

Apa sih Fadhilah (Keutamaan) Qiyamul Lail dan Shalat Tarawih???

Secara umum, qiyamul lail adalah perkara yang sangat dianjurkan dalam syariat Islam. Berikut beberapa fadhilah yang bersumber dari beberapa dalil dari ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan berbagai keutamaannya.

 

Pertama, qiyamul Lail adalah sifat seorang mukmin yang mewujudkan hakikat keimanannya.

Allah Ta’âlâ berfirman,

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ. تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ.

“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang, apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Rabb-nya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka, sedang mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” 
[As-Sajadah: 15-16] Continue reading

Keistimewaan Sepuluh Shahabat Peraih Janji Surga


Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Abu Bakar di Jannah (surga), Umar bin Al Khaththab di Jannah, Ustman  bin ‘Affan di Jannah,  Ali bin Abi Thalib di Jannah, Thalhah di Jannah,  Zubair di Jannah, Abdurrahman bin ‘Auf di Jannah,  Sa’d bin Abi Waqqash di Jannah,  Sa’id bin Zaid di Jannah, dan Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah di Jannah))
(HSR. Tirmidzi) Continue reading

Penentuan Awal Bulan Hijriah

Beberapa tahun terakhir, kaum muslimin di Indonesia mengalami perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan. Akibatnya, umat yang awam banyak dibuat bingung. Yang lebih buruk, perbedaan tersebut bisa memicu perpecahan di antara kaum muslimin. Bagaimana sebenarnya tuntunan syariat dalam menentukan awal bulan Hijriyah, lebih khusus Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah?

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa satu-satunya cara yang dibenarkan syariat untuk menentukan awal bulan adalah dengan ru’yah inderawi, yaitu melihat hilal dengan menggunakan mata. Lalu bagaimana dengan adanya perbedaan jarak antara tempat yang satu dengan lainnya, yang berakibat adanya perbedaan tempat dan waktu munculnya hilal? Continue reading