Keutamaan Berpuasa Di Bulan Muharram

Bulan muharram, merupakan salah satu bulan yang dimuliakan didalam islam. Sebelum diwajibkan berpuasa pada bulan ramadhan, tanggal 10 muharram atau yang disebut hari Asyura’ merupakan puasa yang diwajibkan bagi kaum muslimin.

Berkata Aisyah radhiallahu anha:

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ الْفَرِيضَةَ ، وَتُرِكَ عَاشُورَاءُ ، فَكَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ

“hari Asyura’ adalah puasa yang dilakukan kaum Qurays pada masa jahiliyyah,dan Nabi Shallallahu alaihi wa-aalihi wasallam berpuasa.Tatkala Beliau tiba di Madinah beliau tetap berpuasa, dan Beliau memerintahkan untuk berpuasa padanya.Maka tatkala turun (kewajiban puasa) ramadhan, maka ramadhan menjadi wajib, dan ditinggalkan (kewajiban) puasa Asyura’, maka siapa yang ingin silahkan dia berpuasa, dan siapa yang ingin boleh untuk tidak berpuasa.” (Muttafaq alaihi) Continue reading

Advertisements

Bulan Muharam Bukan Bulan Sial


“Bulan Muharram telah tiba, jangan mengadakan hajatan pada bulan ini, nanti bisa sial.” Begitulah kata sebagian sebagian orang di negeri ini. Ketika hendak mengadakan hajatan, mereka memilih hari/bulan yang dianggap sebagai hari/bulan baik yang bisa mendatangkan keselamatan atau barakah. Dan sebaliknya, mereka menghindari hari/bulan yang dianggap sebagai hari-hari buruk yang bisa mendatangkan kesialan atau bencana. Seperti bulan Muharram (Suro) yang sudah memasyarakat sebagai bulan pantangan untuk keperluan hajatan. Bahkan kebanyakan mereka meyakininya sebagai prinsip dari agama Islam. Apakah memang benar hal ini disyariatkan atau justru dilarang oleh agama?

Maka simaklah kajian kali ini, dengan penuh tawadhu’ untuk senantiasa menerima kebenaran yang datang dari Al Qur’an dan As Sunnah sesuai yang telah dipahami oleh para sahabat Rasulullah ? Continue reading

Mendatangi Tukang Ramal/Dukun dan Bertanya Kepadanya Tentang Sesuatu

Sungguh menyedihkan kondisi mayoritas media informasi baik media cetak, elektronik atau lainnya selain menampilkan berbagai bentuk kemaksiatan tapi juga memberi andil dalam menyebarkan penyimpangan-penyimpangan aqidah di tengah-tengah kaum muslimin. Yaitu berupa berbagai acara, artikel, maupun iklan yang mempromosikan praktek-praktek perdukunan yang dihias-hiasi dengan istilah pengobatan, kekuatan pikiran/konsentrasi dll, Allahul Musta’an

Soal:

Syaikh, bagaimana hukumnya seseorang yang pergi bersama anaknya yang sakit ke seseorang yang dituankan atau dukun untuk meminta kesembuhan. Kemudian menyembelih domba jantan dan sebagian sembelihan tersebut dipersembahkan kepada jin? Berikan fatwa kepada kami ! Continue reading

Hukum Mentato dan Meminta Ditatokan termasuk Tato Sementara (Temporer)

Apa Hukum Tato Hanya Sementara atau Tato Temporer ?

Bagaimana Hukumnya Jika Tato tersebut Sulit Dihilangkan?

Apa Hukum Mentato Wajah dan Dua Tangan Saja?

.بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَبَعْدُ:

Tato di tubuh bagian manapun hukumnya haram. Berdasarkan dalil-dalil berikut ini, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ اْلأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُوْنِ اللهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِيْنًا

Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya. Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.”
(An-Nisa`: 119) Continue reading

Hukum Alat Kontrasepsi Untuk Mencegah Kehamilan

Apa hukumnya bila seorang suami menyetujui istrinya dipakaikan alat kontrasepsi oleh pihak rumah sakit guna mencegah kehamilan?

Jawab:
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i berfatwa: “Sang suami tidak boleh menyetujuinya, sementara Rasulullah telah menyatakan: Menikahlah kalian sehingga jumlah kalian menjadi banyak karena sesungguhnya aku membanggakan (banyaknya) kalian di hadapan umat-umat lain pada hari kiamat.1

Dan juga Nabi pernah mendoakan Anas bin Malik agar dilipatkan jumlah harta dan anaknya2. Selain itu, bisa jadi kita akan dihadapkan dengan takdir Allah (berupa musibah kematian anaknya sehingga ia kehilangan si buah hati).
(Bila ada alasan untuk menunda kehamilan) maka ketika mendatangi istrinya (jima‘), sang suami diperbolehkan melakukan ‘azal3. Adapun (menunda kehamilan) dengan menggunakan obat-obatan/ pil, memotong rahim (pengangkatan rahim) atau yang lain, tidak diperbolehkan. Continue reading

Hidup Bersama Pasangan Yang Tidak Shalat

** Istri saya tidak menunaikan shalat, puasa, dan kewajiban-kewajiban agama yang lain, demikian pula kewajibannya sebagai istri. Namun saya terus-menerus memberikan pengajaran kepadanya, hanya saja ia tetap tidak mengerjakan shalat lima waktu seluruhnya, bahkan sering meninggalkannya. Ia mengolok-olok saya ketika saya mengajarinya atau menyuruhnya shalat. Lalu apa hukumnya terus hidup bersamanya, sementara sulit untuk menikah dengan wanita lainnya yang shalihah, disebabkan mahar yang mahal dan sungguh ini menjadi penghalang besar dalam pernikahan?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab,
“Tidak boleh terus hidup bersama dengan wanita yang demikian sifatnya, ia mengolok-olok shalat, menertawakan orang yang menyuruhnya shalat, dan ia (sendiri) meninggalkan shalat. Wanita seperti itu kafir yang berarti tidak boleh hidup bersamanya, berdasarkan firman Allah:
“Dan janganlah kalian tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan wanita-wanita kafir.” (Al-Mumtahanah: 10) Continue reading

Jauhi Buruk sangka


Berbagai prasangka buruk terhadap orang lain sering kali bersemayam di hati kita. Sebagian besarnya, tuduhan itu tidak dibangun di atas tanda atau bukti yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah asal tuduh kepada saudaranya.

Buruk sangka kepada orang lain atau yang dalam bahasa Arabnya disebut su`u zhan mungkin biasa atau bahkan sering hinggap di hati kita. Berbagai prasangka terlintas di pikiran kita, si A begini, si B begitu, si C demikian, si D demikian dan demikian. Yang parahnya, terkadang persangkaan kita tiada berdasar dan tidak beralasan. Memang semata-mata sifat kita suka curiga dan penuh sangka kepada orang lain, lalu kita membiarkan zhan tersebut bersemayam di dalam hati. Bahkan kita membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain. Padahal su`u zhan kepada sesama kaum muslimin tanpa ada alasan/bukti merupakan perkara yang terlarang.

Demikian jelas ayatnya dalam Al-Qur`anil Karim, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12) Continue reading

Ummu Darda’ Ash-Shughra


(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Seorang anak perempuan yatim diasuh oleh Abud Darda’ ‘Uwaimir Al-Anshari. Hujaimah bintu Huyai Al-Washshabiyah rahimahallah namanya, berasal dari Washshab, salah satu kabilah di Himyar.

Selama dalam asuhan Abud Darda’, Hujaimah kecil biasa diajak oleh Abud Darda’ menghadiri shalat berjamaah di tengah shaf laki-laki dengan mengenakan burnus, sejenis pakaian yang mempunyai penutup kepala, dan duduk bersamanya di halaqah-halaqah  para pembaca Al-Qur’an untuk mempelajari Al-Qur’an. Ketika mulai beranjak besar, Abud Darda’ menyuruh Hujaimah untuk bergabung dengan shaf para wanita.

Tumbuh dalam asuhan seorang sahabat yang mulia, dengan keutamaan Allah, Hujaimah menjadi seorang wanita yang berilmu. Kemudian Abud Darda’ meminang Hujaimah kepada keluarganya kemudian menikahinya. Berkunyahlah Hujaimah dengan nama Ummud Darda’ Ash-Shughra.1 Continue reading

Jawaban Ulama Islam Tentang Bolehnya Menghajikan Orang yang Telah Meninggal

** soal:
Mana yang haq; boleh atau tidak boleh menghajikan orang mati? Bagaimana tuntunannya?

Jawab:
Asy Syaikh Abu Usamah Abdullah bin ‘Abdurrahim Al-Bukhari pada sore 5 syawal 1425 H, bertepatan 17/11/2004, menjawab sebagai berikut:
“Para ulama telah berbicara dalam masalah ini, dan mereka berkata bahwa boleh menghajikan orang telah meninggal dengan syarat orang yang (akan menghajikan) telah melakukan haji untuk dirinya sendiri, sebagaimana dalam hadits Syubrumah, tatkala Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang lelaki bertalbiyah, “Labbaikalla ‘an Syubrumah,” maka Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Apakah engkau telah haji untuk dirimu?” , “Belum” Jawabnya. Maka beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Berhajilah untuk dirimu, kemudian berhjilah engkau untuk Syubrumah.” Continue reading

Ummu Khalid Bintu Khalid

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Dari Sang Raja Najasyi tersampaikan ucapan salam bagi Rasulullah yang mulia, melalui para muhajirin yang tiba dari negeri seberang. Di antara mereka, ada seorang gadis kecil yang kelak mendapatkan kemuliaan dari Rasulullah, dipakaikan sehelai baju hadiah dari Sang Najasyi. Gadis kecil yang kelak turut meriwayatkan ilmu dari Rasulullah.

Dia bernama Amah bintu Khalid bin Sa’id ibnul ‘Ash bin Umayyah bin ‘Abdi Syams, namun dia lebih dikenal dengan kunyahnya, Ummu Khalid. Ibunya bernama Humainah bintu Khalaf bin As’ad bin ‘Amir bin Bayadhah bin Subai’ bin Ju’tsumah bin Sa’d bin Malih bin ‘Amr bin Khuza’ah. Continue reading

Ummu Habibah Pengantin Rasulullah di Negri Seberang

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu ‘Imran)

Mungkin tak pernah tersirat di dalam hati Abu Sufyan, akan ada seseorang dari kalangan Quraisy yang akan menentangnya, sementara dia adalah tokoh Makkah yang ditaati. Namun putrinya telah memorak-porandakan keyakinannya ini, manakala sang putri mengingkari sesembahan ayahnya dan beriman kepada Allah semata, membenarkan risalah Nabi-Nya Muhammad bin ‘Abdillah.

Dia bernama Ramlah bintu Abi Sufyan Shakhr bin Harb bin Umayyah bin ‘Abdi Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay al-Qurasyiyyah al-Umawiyyah yang berkunyah dengan Ummu Habibah. Dia lahir tujuh belas tahun sebelum kenabian. Ibunya bernama Shafiyyah bintu Abil ‘Ash bin Umayyah bin ‘Abdi Syams. Continue reading

Ummu HakimBintu Al-Harits

Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran

 

Ramadhan, tahun ke-8 hijriyah. Pertolongan dan kemenangan dari sisi Allah telah datang. Dulu, Rasulullah dan kaum muslimin pergi dari tanah air mereka dalam keadaan terhina dan tertindas. Kini, dengan segenap kemuliaan, Allah buka negeri Makkah untuk mereka.

Pasukan muslimin datang bak gelombang yang menggoncangkan nyali. Dengan sepenuh tawadhu’ dan ketundukan kepada Rabbnya, Rasulullah memasuki negeri Makkah, diiringi pasukan Muhajirin dan Anshar. Sembari mengenakan sorban hitam, beliau menunduk dalam-dalam hingga dagu beliau hampir-hampir menyentuh punggung tunggangannya.

Penduduk Makkah kocar-kacir. Sebagian menutup dan mengunci pintu rumahnya, sebagian lagi berlindung di Baitul Haram, untuk mendapatkan keamanan sebagaimana jaminan Rasulullah. Continue reading

Ummu Haram Bintu Milhan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

 

Bak kemuliaan raja-raja di atas singgasana, mereka hendak muliakan kalimat Rabbnya. Di antara mereka, seorang wanita menyimpan sebuah asa. Bukanlah dunia yang dia inginkan, melainkan menggapai ketinggian di sisi Rabbnya.

Tak ubahnya seperti saudari kandungnya, Ummu Sulaim bintu Milhan, dia pun seorang wanita yang begitu mendambakan kemuliaan. Dia begitu dimuliakan oleh Rasulullah dengan mengunjunginya, tidur siang di rumahnya1, dan mendoakannya agar meraih syahadah. Dia bernama Ummu Haram bintu Milhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundab bin ‘Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin An-Najjar Al-Anshariyah. Ibunya bernama Mulaikah bintu Malik bin ‘Ady bin Zaid Manat bin ‘Ady bin ‘Amr bin Malik bin An-Najjar. Continue reading

Ummu ‘Aiman

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Perjalanannya dalam mengiringi kehidupan Rasulullah tak dapat diabaikan. Kemuliaan yang disandangnya di sisi Rasulullah tak layak dilupakan. Hingga manusia paling mulia itu pun berkata tentangnya, dialah ibu setelah ibuku….

Wanita yang mulia ini bernama Barkah bintu Tsa’labah bin ‘Amr bin Hishn bin Malik bin Salamah bin ‘Amr bin An-Nu’man Al-Habasyiyah. Namun dia lebih dikenal dengan kunyahnya, Ummu Aiman.
Semula Ummu Aiman adalah seorang budak milik ‘Abdullah bin ‘Abdil Muththalib, ayah Rasulullah. Di kemudian hari, setelah ‘Abdullah bin ‘Abdil Muththalib meninggal, Ummu ‘Aiman diwarisi oleh Rasulullah. Dialah yang mengasuh Rasulullah semenjak kecil. Continue reading