Kupas Tuntas Tata Cara Wudhu Rasulullah

Definisi wudhu

Kata wudhu dengan didhammah huruf wawu (wudhu`) artinya adalah perbuatan atau aktivitas berwudhu dan jika difathahkan huruf wawunya (wadhu`) maka artinya adalah air (yang digunakan untuk berwudhu) [Mu’jamul Wasith hal.1806].

Adapun pengertian wudhu menurut istilah syar’i adalah mencuci dan mengusap anggota badan tertentu atau anggota tubuh yang empat, yaitu kepala, wajah, kedua tangan dan kaki dengan disertai niat (tidak disyariatkan untuk melafalkan niat sebagaimana telah lewat pembahasannya) [Mu’jamul Wasith hal.1806]. Continue reading

Advertisements

Adab Bertamu


Tanya: Assalamu ‘alaikum. Bagaimanakah adab memasuki rumah orang lain? Saya ingin mendapatkan keterangan yang jelas, syukron. Jazakallahu khoiron. (0818208***)

Jawab: Wa’alaikumussalaam warohmatullahi wabarokatuh.

Sesungguhnya hal itu telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam KitabNya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Sunnahnya.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS An Nuur: 27).
Continue reading

Undhur maa qoolaa, walaa tandhur man qoola

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum, ada sekelompok orang yang mengatakan “jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan!” Apa ini benar? (081586190***)

Jawaban:

Wa’alaikumussalaam warahmatullaah.

Ucapan: “Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan!” ini bukanlah firman Allah, sabda Rasulullah ataupun kaidah ushul fiqh, sehingga kita tidak usah dipusingkan dengan ucapan tersebut.

Ucapan tadi sengaja dipopulerkan oleh orang-orang yang bermanhaj di sana senang di sini senang, sehingga mereka mengambil ilmu atau belajar dari siapa saja karena berpegang dengan ucapan tadi. Continue reading

Hukum Qashar Shalat Bagi Musafir

Dalil-dalil yang datang dari sunnah Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, menunjukkan wajib bagi seorang musafir mengqashar shalat selama dalam perjalanan.

Diantara yang menunjukkan wajibnya mengqashar shalat adalah hadits Ibnu Umarradiallohu anhu, bahwa Beliau berkata: Aku menemani Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, dalam perjalanan safar dan Beliau tidak mengerjakan lebih dari dua rakaat hingga Allah mewafatkannya, dan aku menemani Abu Bakar radiallohu anhu, dan Beliau tidak mengerjakan lebih dari dua rakaat hingga Allah mewafatkannya, dan aku menemani Umar radiallohu anhu, maka Beliau tidak mengerjakan lebih dari dua rakaat hingga Allah mewafatkannya, dan aku menemani Utsman radiallohu anhu, dan Beliau tidak mengerjakan lebih dari dua rakaat hingga Allah mewafatkannya. Continue reading

Membentengi Rumah dari Setan (II)

Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Pada lembaran ini di edisi yang lalu kita telah membicarakan lima hal yang dapat dilakukan untuk membentengi rumah dari setan, yaitu:
1. Mengucapkan salam ketika masuk rumah dan banyak berzikir
2. Berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika makan dan minum
3. Banyak membaca Al-Qur’an dalam rumah
4. Membaca secara khusus surah Al-Baqarah dalam rumah
5. Banyak melakukan shalat sunnah/nafilah dalam rumah. Continue reading

Membentengi Rumah dari Setan, bag 1

Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Setiap keluarga muslim pasti mendambakan ketenteraman dan ketenangan dalam rumah yang mereka huni, baik dia seorang suami, seorang istri, ataupun sebagai seorang anak. Semua ingin rumah mereka seperti kata orang: Baiti jannati, rumahku adalah surgaku. Bukan karena rumah itu mewah dilengkapi perabotannya yang wah, namun karena semua merasa tentram ketika masuk dan berada di dalamnya.

Seorang suami pulang ke rumah usai aktivitasnya di luar rumah, baik untuk mencari penghidupan ataupun untuk berdakwah. Ia masuk ke rumahnya, didapatinya rahah (lapang). Lelah dan kepenatannya serasa hilang saat bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Ketenangan menyelimutinya. Continue reading

10 Hari Awal Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu Arba’atun Hurum. Maksud Arba’atun Hurum adalah 4 bulan yang memiliki kehormatan.

Keberadaan 4 bulan tersebut disebutkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya (artinya) :
Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah itu ada 12 bulan. Kesemuanya dalam ketetapan Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara (12 bulan) tersebut terdapat 4 bulan yang memiliki kehormatan …”
[At taubah:36]. Continue reading

Tanya Jawab Seputar Qurban

1.     Apa yang dimaksud dengan qurban ?

Jawab : Ibadah kepada Allah dengan menyembelih hewan tertentu pada hari ‘Idul Adhha atau haritasyriq (11,12,13 Dzulhijjah).

 

2.     Apa hukum menyembelih qurban ?

Jawab : Kebanyakan ulama berpendapat sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan. Sebagian yang lain berpendapat wajib bagi yang mampu dengan alasan bahwa Allah menggandengkan penyebutan qurban dengan ibadah sholat yang merupakan rukun Islam dalam beberapa ayat seperti dalam surat Al Kautsar dan dalam surat Al An’am 162. Terlepas dari kedua pendapat di atas, tidak sepantasnya bagi seorang yang mampu untuk meninggalkan ibadah qurban. Continue reading

Fatwa-Fatwa Seputar Idul Kurban

** Fatwa-fatwa Seputar Idul Kurban (1)

Para pembaca yang budiman, berikut ini fatwa-fatwa seputar Idul Kurban yang penting diketahui oleh kaum muslimin, terkhusus bagi saudara-saudara yang hendak berkurban. Fatwa-fatwa tersebut kami sajikan dalam bentuk soal-jawab agar lebih menyentuh masing-masing permasalahan. Wallahul muwaffiq.

– Soal: Apa saja yang dilarang bagi orang yang hendak berkurban?

Jawab: Disyari’atkan bagi orang yang hendak berkurban ketika telah muncul hilal bulan Dzulhijjah (tanggal 1 Dzulhijjah) agar tidak memotong rambut, kuku, dan kulitnya sampai binatang kurbannya disembelih. Continue reading

Keutamaan Orang yang Mengetahui dan Mengajar

Kitab Fathu Bari – Hadits nomor 79 (yang artinya) :

Dari Abi Musa Radhiallahu Anhu, katanya Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda,
“Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang oleh karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikanya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yang subur, menyerap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak. Ada pula yang keras tidak menyerap air sehingga tergenang, maka Allah memberi manfaat dengan hal itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), dan untuk bercocok tanam. Ada pula hujan yang jatuh kebagian lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama, yang mau memanfaatkan sesuatu yang oleh karena itu Allah mengutus aku menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yang tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dengan petunjuk Allah, yang aku diutus untuk menyampaikannya.”Abu Abdillah berkata, bahwa Ishaq berkata,” Dan ada diantara bagian bumi yang digenangi air, tapi tidak menyerap.” Continue reading

Hukum memutar kaset bacaan Al-Qur`an tanpa disimak

Syaikh Al-Albany ditanya:
Apabila dalam suatu majelis (perkumpulan) diperdengarkan kaset murattal (bacaan Al-Qur’an) tetapi orang-orang yang hadir dalam majelis tersebut kebanyakan mengobrol dan tidak menyimak kaset tersebut. Siapakah dalam hal ini yang berdosa ? Yang mengobrol atau yang memutar (memasang) kaset ?

Jawaban:
Apabila majelis tersebut memang majelis dzikir dan ilmu yang di dalamnya ada tilawah Al-Qur’an, maka siapapun yang hadir dalam majelis tersebut wajib diam dan menyimak bacaan tersebut. Dan berdosa bagi siapa saja yang sengaja mengobrol dan tidak menyimak bacaan tersebut. Continue reading

Mutiara Nasehat Ulama Salaf

Dosa Bukan Biasa

Anas bin Malik radhiyallahu’anh mengatakan:
” Sungguh Kalian Benar-benar Akan MELAKSANAKAN PERBUATAN DOSA YANG KALIAN ANGGAP REMAH,
Lebih Lembut Daripada Rambut di Hadapan Mata Kalian,
Padahal Dahulu Pada Zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Kami Menganggapnya
Sebagai DOSA yang MEMBINASAKAN”
(Riwayat Al-Bukhari)

(Disadur Dari Majalah Tashfiyyah) Continue reading

Mutiara Nasehat

Musibah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Zainul Arifin)

 

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:
“Apabila air laut telah meluap menerobos ke daratan, maka siapakah yang sanggup membendungnya?!”(Beliau inginkan dengan perkataan ini untuk memberi peringatan terhadap banyaknya kemungkaran) (Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri t hal. 90) Continue reading

Nasehat Ulama: dosa

Umar bin ‘Abdul Aziz
“Aku tidak pernah berdusta saat aku mengetahui bahwa kedustaan merugikan pelakunya.” (Siyar A’lam An-Nubala, 5/121)

Ibn Syubrumah
“Aku heran terhadap orang yang menjaga makanannya dalam keadaan takut terhadap penyakit, akan tetapi dia tidak menjaga dari perbuatan dosa dalam keadaan takut ancaman neraka.” (Siyar A’lam An-Nubala, 6/348)

Thalaq bin Habib
“Sesungguhnya hak-hak Allah itu lebih besar dari yang bisa hamba tunaikan dan nikmat Allah itu lebih banyak dari yang bisa dihitung. Maka hendaknya seseorang itu bertaubat di pagi dan sore hari.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4/602)

Syaqiq bin Ibrahim
“Tanda taubat ialah menangis (menyesal) atas perbuatan (dosa) yang telah dilakukan dan takut akan terjatuh kembali ke dalam dosa (tersebut), tidak bergaul dengan orang-orang yang jahat dan senantiasa bersama dengan orang-orang yang baik.” (Siyar A’lam An-Nubala, 9/315)