Tanya Jawab Bersama Ustadz Luqman Ba’abduh

** pertanyaan:

Ketika kita shalat berjama’ah terkadang kita mendapati seorang imam melakukan shalat dengan cepat sekali sehingga terkadang kita tidak punya kesempatan untuk membaca Al-Fatihah. Bagaimana sikap kita? Apakah kita menyelesaikan bacaan Al-Fatihah -karena itu memang rukun dan shalat seseorang tidak sah tanpa membaca Al-Fatihah-? Ataukah kita mengikuti imam karena mengikuti imam itu wajib hukumnya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إنما جعل الإمام ليؤتم به إذا كبر فكبروا وإذا ركع فاركعوا وإذا سجد فاسجدوا.

“Sesungguhnya dijadikannya seorang imam itu untuk ditaati dan diikuti, jika bertakbir maka bertakbirlah kalian, dan jika imam ruku’ maka ruku’lah kalian, dan jika sang imam sujud maka sujudlah kalian.”

 

** Jawaban

 

Jawabannya adalah kita mengikuti imam. Kalau imam sudah bertakbir untuk ruku’ walaupun kita belum menyelesaikan bacaan Al-Fatihah, kita tetap mengikuti imam. Kemudian bagaimana? Shalat kita sah atau tidak? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan

 

لا صلاة لمن لم يقرأ بأم القرآن.

 

“Tidak ada shalat yang sah bagi barang siapa yang belum membaca ummul Qur`an (yaitu al Fatihah).”

 

Maka jawabannya adalah hadits ini berlaku jika dalam kondsi memungkinkan. Sementara pada kondsi yang tidak memungkinkan, di sana ada kewajiban lain yaitu mengikuti gerak-gerik imam, maka itu adalah kondisi ‘udzur dan diperkecualikan. Karena memang dalam syari’at ini semua hukum, kewajiban, dan semua yang diharamkan ada kondisi-kondisi tertentu yang diperkecualikan. Tentunya pengecualian itu bukan dengan logika kita, bukan pula dengan ra`yu kita, tetapi harus di bawah bimbingan dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.

 

Apa dalilnya bahwa dalam kondisi yang tidak memungkinkan membaca Al-Fatihah -yang itu adalah rukun- terhitung shalatnya masih sah?

 

Jawabannya adalah sebuah hadits yang mengisahkan seorang shahabat yang datang ke masjid untuk shalat berjama’ah dalam keadaan dia mendapati imam sedang ruku’. Maka shahabat tadi langsung masuk ke dalam jama’ah shalat dalam keadaan berjalan sambil ruku’ dari belakang shaf. Ketika selesai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan shahabat tersebut:

زادك الله حرصا ولاتعد.

“Semoga Allah menambah kamu semangat untuk beribadah, tetapi cara seperti tadi jangan kamu ulangi.”

 

Teguran beliau sampai di sini saja. Sehingga para ulama menyimpulkan bahwa kalau seandainya shahabat tadi memasuki shalat -yang dalam kondisi seperti itu- terhitung kurang satu raka’at, atau terhitung dia belum melakukannya, maka pasti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan mewasiatkan: “Tambahlah raka’at yang kamu teringgal.”

 

Shalatnya tetap sah dan raka’at tersebut terhitung sebagai raka’at yang sempurna. Maka dari itu para ulama menyatakan barangsiapa yang mendapati imam dalam keadaan ruku’ kemudian dia masuk dalam shalat dalam kondisi biasanya (normal), maka shalatnya terhitung sah. Ini salah satu pendapat dari pendapat para ulama.

 

Ada sebagian yang menyatakan bahwa kalau dia tidak sempat membaca Al-Fatihah maka terhitung kurang raka’atnya. Dari dua pendapat ini yang lebih saya yakini adalah pendapat pertama bahwa raka’at dia tetap sah dalam keadaan dia belum membaca Al-Fatihah disebabkan kondisi yang dia alami adalah kondisi yang diperkecualikan dalam syari’at ini. Wallahu A’lam.

http://www.assalafy.org/mahad/?p=413#more-413

 

———————————————————————————————–

 

** Pertanyaan

 

Apa hukumnya memberikan nasehat kepada teman lewat SMS tanpa menyebut identitas pengirimnya? Tentunya setelah nasehat itu dijalani dan sudah terpenuhi adab-adab yang syar’i dan bahasa yang sopan?

 

** Jawaban

 

Pada dasarnya nasehat itu disampaikan dengan cara yang baik dan terang-terangan. Namun jika dikhawatirkan ada efek negatif, boleh disampaikan tanpa nama, tanpa identias pengirim. Yang terpenting di sana adalah nasehat itu menampakkan adanya kasih sayang kepada pihak yang dinasehati, dengan adab dan sopan santun yang baik, serta kata-kata yang mulia, ini tidak ada masalah karena tidak ada keterangan dari Al-Qur`an maupun As-Sunnah yang menyatkan nasehat itu wajib disampaikan dengan identitas yang jelas.

 

Sampaikan dengan cara yang baik, sopan, tatsabbut, dan tepat klarifikasi permasalahannya. Itu yang terpenting. Bagi yang menerima ‘SMS-SMS gelap’ kalau itu isinya baik, hendaknya diterima dan direnungi. Kalau isinya tidak baik, boleh bagi anda untuk mengklarifikasi jika itu mengandung kedustaan terhadap anda, atau anda akan menggunakan cara lain yang mungkin lebih selamat, karena anda mengkhawatirkan akan semakin panjang permasalahannya, maka silahkan anda mengucapkan “Assalaamu’alaikum, terima kasih”, “Syukran atas nasehatnya”. Sehingga tidak perlu terlalu ditanggapi dengan sikap berlebihan. Kalau nasehat itu berisi celaan, maka sampaikan kepada si pengirim dengan ayat:

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا.

“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Al-Furqan: 63)

 

Di antara ciri-ciri hamba Allah mu`min, muttaqin adalah ketika dicela, dicaci maki, dan diajak berdebat oleh orang-orang jahil maka jawabannya bukan celaan pula, tetapi jawabannya “Salaamaa”, “Assalaamu’alaikum, syukran yaa akhy”, atau biarkan saja.

———————————————————————————————–

** Pertanyaan

 

Apakah bisa diterima do’a orang yang berdoa dengan penuh kekhusyu’an, namun penghasilan yang dia makan adalah haram, pakaian yang dia pakai dari hasil yang haram?

 

** Jawaban

 

Jawabannya do’a tersebut tidak bisa diterima sebagaimana dalam hadits yang sudah pernah kita bahas[1], bahwa makanan yang dihasilkan dari barang yang haram, dari pekerjaan yang haram, pakaian yang haram,  dan yang lainnya, itu semua merupakan hal-hal yang menyebabkan tertolaknya do’a seorang hamba.

————————————————————————————————-

 

** Pertanyaan

 

Ada seorang wanita enggan untuk mendo’akan suaminya agar banyak rezeki. Keengganan tersebut dengan alasan takut suaminya menikah lagi (!!!???)

 

** Jawaban

 

Jawabannya adalah bertaqwalah kepada Allah. Jangan sampai hawa nafsu kita ini berlebihan sehingga menentang syari’at Allah. Bagi yang ingin menikah lagi, para suami juga harus mengetahui aturan dan ketentuan-ketentuannya. Pertimbangkan maslahat dan mafsadahnya dengan cara-cara yang baik dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala.

———————————————————————————————————— 

** Pertanyaan

 

Mohon dijelaskan tentang cara beristighatsah yang benar dan syar’i, karena sekarang ini banyak pihak-pihak yang mengajak kita untuk beristighatsah!

 

** Jawaban

 

Istighatsah adalah salah satu bentuk ibadah. Istighatsah itu adalah do’a permohonan pertolongan atau perlindungan dalam permasalahan yang genting. Maka, istighatsah sebagaimana do’a-do’a yang lainnya telah diatur tata caranya di dalam syari’at ini, batas-batasannya bagaimana dan kapan dinyatakan sebagai do’a atau istighatsah yang syar’i. Di antara istighatsah yang tidak syar’i adalah kalau istighatsah itu harus di pinggir laut, atau didahului dengan menyembelih seekor hewan, kambing, ayam yang kemudian dilempar ke laut. Kita menyatakan  ”Siapa yang menuntunkan dan mengajarkan cara istighatsah seperti ini? Semua cara dan sistem peribadatan kepada Allah yang tidak dibimbingkan di dalam Sunnah Rasul, maka semua itu tertolak tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang beramal suatu amalan yang bukan dari yang kita contohkan maka amalan itu tertolak. (kepada pelakunya).”

Begitu juga bentuk-bentuk istighatsah dengan cara membaca dahulu kalimat لا إله إلا الله 110 kali. Bilangan 110 kali itu dari mana? Kalau kalimat لا إله إلا الله tidak ada perselisihan di antara kita bahwa itu kalimat tauhid, kalimat yang baik, tetapi tata cara yang seperti itu siapa yang membimbingkan? Jadi kategori sebuah istighatsah itu dikatakan syar’i ataukah tidak adalah dengan memenuhi ketentuan-ketentuan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

———————————————————————————————————

 

** Pertanyaan

 

Ketika hari raya ‘Idul Fithri atau ‘Idul Adha tepat jatuh pada hari Jum’at. Apakah kewajiban shalat zhuhurnya gugur?

 

** Jawaban

 

Tidak, yang gugur adalah kewajiban melakukan shalat Jum’at. Tetapi bagi pengurus atau ta’mir masjid yang biasa di sana dilakukan shalat Jum’at maka sebaiknya ta’mir tetap memfasilitasi adanya shalat Jum’at bagi yang ingin hadir. Bagi yang ingin hadir silakan, bagi yang tidak ingin hadir juga dipersilakan, selama dia ikut shalat ‘id di pagi harinya. Namun, bagi yang tidak hadir shalat Jum’at, tetap berlaku atasnya kewajiban shalat zhuhur. Kewajiban shalat zhuhur tidak gugur disebabkan bertepatannya shalat hari raya ‘id dengan hari Jum’at.

 

Wallahu A’lam Bish Shawab.

Dinukil dari: http://www.assalafy.org/mahad/?p=413#more-413

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s