Asbabul Wurud: SUBHANALLAH, NASIHAT YANG MENGGETARKAN

nasihat2

Oleh Ustadz Abu Falih Hudzaifah

Abu Najih Al ‘Irbath bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu berkisah:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyampaikan nasihat kepada kami. Sebuah nasihat yang membuat qalbu bergetar, airmata pun berlinang. Maka kami bertanya, “Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan. Berilah wasiat kepada kami.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya,
“Aku wasitkan agar kalian bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat  (kepada pemimpin) meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Sebab, siapa yang hidup panjang diantara kalian, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus lagi berpetunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian. Dan jauhi oleh kalian perkara-perkara baru (dalam urusan agama). Karena setiap bid’ah itu sesat.

(HR Dawud, At Tirmidzi, Ahmad dan Ad Darimi, dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah di dalam Irwa’ul Ghalil no 2455)

Rasulullah Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan sosok pribadi yang paling sempurna. Beliau sangat berbelas kasih terhadap umatnya. Semua jalan kebajikan yang akan mendekatkan kepada Allah , dengan penuh antusias beliau shallallahu ‘alaihi wasallam  jelaskan. Demikian pula jalan-jalan menuju kejelekan yang bisa menjauhkan dari Allah, dengan sungguh-sungguh telah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam peringatkan.

Diantara kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang patut dicontoh oleh setiap pribadi muslim, terutama para da’i penyeru kepada jalan Allah, adalah secara berkala memberikan nasihat. Mengingatkan berbagai perintah dan larangan Allah dengan menyebutkan motivasi dan ancaman. Sebab, jiwa manusia memiliki sifat bodoh lagi zalim. Kealpaan juga kelalaian kerap kali datang menghampiri. Sehingga dengan adanya nasihat, dengan izin Allah, orang-orang yang beriman bisa mengambil manfaat darinya.

Namun perlu dicatat pula, bahwa nasihat juga jangan dilakukan terlalu sering. Karena dikhawatirkan pendengar merasa jemu, akibatnya justru membuatnya menjauhi nasihat. Dan tentu nasihat yang disampaikan itu didasari niatan karena Allah, sekaligus menghendaki kebaikan bagi orang yang diberi nasihat. Bukan tujuan-tujuan dunia yang rendah. Cara menasehati pun harus dengan metode yang sesuai syariat, bukan dengan cara serampangan, yang pada hakekatnya justru sedang membongkar aib saudaranya. wallahul musta’an

Salah seorang shahabat yang mulia, Al ‘Irbath bin Sariyah mengisahkan bahwa suatu kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan sebuah nasehat yang sangat dalam, yang berisi ancaman dan peringatan. Beliau rangkum pesan-pesan berharga, diselipi dengan isyarat yang menandakan bahwa tidak lama lagi beliau akan berpisah dengan mereka. Demi mendengar untaian nasihat tersebut, ditambah lagi adanya isyarat perpisahan sang kekasih, para shahabat yang hatinya lembut, mereka takut sehingga berlinangan air mata. Tersentuh dan terharu dengan apa yang disampaikan. Hal ini menunjukkan bukti teguhnya iman di dada mereka.

Kemudian mereka meminta sebuah nasihat yang padat lagi memadai, sebagai pegangan sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda yang artinya:

“Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah dan mendengar dan taat (kepada pemimpin), meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak.”

Inilah 2 hal yang merupakan kunci kebahagian dan kesuksesan dunia akhirat: takwa dan taat kepada pemimpin yang sah.

Mengenai makna Takwa, hal ini telah didefinisikan oleh Thalq bin Habib rahimahullah, salah seorang imam dari kalangan tabi’in. Tatkala terjadi musibah-musibah besar, kaum muslimin mendatangi beliau, mengadukan apa yang sedang terjadi.
Lalu beliau berkata, “Padamkanlah musibah-musibah tersebut dengan takwa.”
Ketika ditanya, “Apa itu Takwa?”
Beliau menjawab, “(takwa) adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah diatas Cahaya dari Allah, karena mengharap pahala Allah. Dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah diatas cahaya dari Allah, karena takut terhadap hukuman Allah.”

Takwa inilah yang Allah wasiatkan kepada orang-orang yang terdahulu dan generasi belakangan. Takwa juga merupakan wasiat dari nabi kepada para shahabat dalam banyak kesempatan. Takwa juga wasiat dari para pendahulu kita yang shalih.

Umar bin Al Khaththab radhiyallahu anhu pernah menuliskan surat kepada putranya, Abdullah yang berisi,
Amma ba’du: Sesungguhnya aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah. Sebab siapa yang bertakwa kepada-Nya, niscaya Dia akan menjaganya. Siapa yang memberikan pinjaman kepada-Nya, niscaya Dia akan membalasinya. Dan siapa yang bersyukur kepada-Nya, niscaya dia akan menambah-Nya, maka jadikanlah ketakwaan itu senantiasa ada didepan matamu dan sebagai cahaya qalbumu.”

Umar bin Abdul aziz rahimahullah juga pernah menuliskan surat kepada seseorang, “Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah,yang Dia tidak mau menerima selainnya (takwa), tidak merahmati kecuali kepada yang melakukannya dan tidak memberi pahala kecuali karenanya. Sebab, banyak orang yang menasehatkan untuk melakukannya, namun sedikit yang mengamalkannya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dari orang-orang  yang bertakwa.”

Pernah ada seseorang yang berkata kepada Yunus bin Ubaid rahimahullah, “Berilah aku wasiat.” Beliau berkata, “Aku wasiatkan engkau untuk bertaqwa kepada Allah dan berbuat baik. Karena Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan berbuat baik.”

Hadits diatas juga memerintahkan kita untuk menaati pemimpin kaum muslimin dalam perkara yang ma’ruf. Hal ini senada dengan perintah Allah didalam kitab-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri (penguasa dan ulama) di antara kalian”.
(QS. an-Nisaa:59)

Karena menaati mereka mengandung banyak kebaikan bagi kaum muslimin. Sama saja apakah pemimpin tersebut baik ataupun jahat. Sebaliknya, menyelisihi dan tidak menaati mereka mengandung kejelakan yang sangat besar bagi kaum muslimin. Tinta sejarah telah menorehkan berbagai musibah besar yang menimpa kaum muslimin. Musibah itu merenggut jiwa, harta, dan kehormatan. Hal itu disebabkan sebagian kaum muslimin tidak mengindahkan wasiat nabi ini. Maka hendaknya kita mengambil palajaran darinya.

Imam Hasan Al Bashri rahimahullah berkata tentang pemimpin, “Mereka mengurusi 5 perkara dari urusan kita: Shalat Jum’at, Shalat jama’ah, hari raya, menjaga wilayah perbatasan dan (penegakan) hukum hadd. Demi Allah, agama ini tidak akan tegak selain dengan perantaraan mereka, meskipun mereka itu berbuat lalim dan aniaya. Demi Allah, apa yang Allah perbaiki dengan perantara mereka itu lebih banyak dibandingkan apa yang mereka rusak. Demi Allah, padahal ketaatan kepeda mereka itu benar-benar sesuatu yang membuat marah (karena mereka berbuat lalim dan aniaya). Sedangkan pemberontakkan kepada mereka itu merupakan kekufuran.”

Selanjutnya, dalam hadits diatas Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan sebuah berita ghaib yang beliau terima melalui wahyu. Yakni, akan adanya perselisihan yang terjadi ditengah umat ini. Bahkan, jumlahnya sangat banyak. Inilah sebuah Sunnatullah yang pasti terjadi dan tidak mungkin bisa dihindari. Beliau juga pernah bersabda dalam hadits lain yang artinya, “Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya berada didalam neraka kecuali hanya 1, yaitu al jama’ah.”
(HR. Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Ash Shahihah)

Demikianlah realita yang kita saksikan. Umat terpecah menjadi banyak golongan, melebihi perpecahan yang terjadi pada masa ahli kitab sebelumnya, yahudi dan Nasrani. Namun, bukan berarti kita boleh berpangku tangan dan bertoleransi terhadap semua perselisihan dengan dalil kerukunan dan persatuan. Perselisihan adalah sumber kejelekan. Adapun hadits yang menerangkan bahwa perselisihan umat itu adalah rahmat, merupakan hadits yang tidak memiliki asal usul. Sungguh, anggapan bahwa perselisihan membawa rahmat adalah anggapan keliru yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah, serta logika. Sebab, sekiranya dikatakan bahwa perselisihan itu adalah rahmat, maka kosekuensinya persatuan adalah azab. allahul musta’an. Padahal Allah telah memerintahkan kita untuk bersatu diatas agama-Nya dan melarang kita dari berpecah belah.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.”
(QS Ali Imran: 103)

Demikian pula, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits di atas. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam  tidak memberikan toleransi terhadap perselisihan tersebut dan menyerahkan kepada masing-masing untuk bersikap dan berjalan menurut seleranya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam  justru memberikan solusi jitu agar seseorang bisa menyelamatkan diri dan agamanya dari perselisihan yang terjadi. Yaitu dengan cara berpegang dengan Sunnah beliau, dan sunnah para khalifah yang lurus lagi berpetunjuk setelahnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam  perumpamakan untuk menggigit kuat-kuat sunnah tersebut dengan gigi geraham. Sebuah kiasan tentang sikap konsisten dalam memegangnya.

Inilah wasiat yang berharga dari seseorang yang sangat menginginkan kebaikan terhadap umatnya. Wasiat untuk berpegang terhadap sunnah beliau dan para Khulafaur Rasyidin, wasiat untuk bertaqwa, mendengar dan taat kepada para pemimpin ketika terjadi perselisihan. Sungguh, wasiat ini telah teruji dan terbukti dalam sejarah Islam, ketika terjadi berbagai perubahan dan musibah. Siapa yang mengambil wasiat ini, ia akan selamat dalam urusan agama dan dunianya.

Diakhir hadits, beliau mewanti-wanti agar menjauhi segala perbuatan baru dalam hal agama, sebab semua bid’ah itu sesat. Bid’ah atau muhdats yang tercela adalah bid’ah menurut istilah syariat. Sebab, kata bid’ah atau muhdats menurut tinjauan bahasa saja tidaklah tercela. Secara bahasa, bid’ah atau muhdats berarti perkara baru yang tidak ada contoh sebelumnya. Kata bid’ah secara ini digunakan dalam nash-nash syariat dan ucapan para shalafush shalih.

Diantaranya, Allah subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ

Katakanlah: “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadap kalian. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”
(QS Al Ahqaf:9)

Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:

مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مَّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ

“Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur’an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main.”
(QS Al Anbiya:2)
Ketika mengumpulkan kaum muslimin dengan 1 imam pada shalat tarawih, Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Inilah bid’ah dan muhdats secara bahasa.
Adapun definisi bid’ah secara syariat adalah sebuah jalan di dalam agama yang menyerupai syariat, dan orang yang melakukannya bersungguh-sungguh dalam beribadah ada Allah. Dari definisi ini, tampak jelas bahwa tercelanya bid’ah itu karena adanya unsur penyelisihan syariat, padahal pelakunya menyangka bahwa dia sedang beribadah.

Karenanya, diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin rahimahullah, beliau, “Tidaklah seseorang melakukan suatu bid’ah lalu kembali kepada Sunnah.” Karena ia merasa diatas kebenaran, sedang beribadah kepada Allah. Sehingga hal ini menyebabkan sulit untuk menerima nasihat dari orang lain, kecuali orang yang Allah selamatkan.

 

Ada banyak argumen yang mendasari tercelanya bid’ah, diantaranya:

1. Manusia adalah makhluk Mukallaf: diperintah, dilarang dan diberi beban syariat. Sedangkan hak untuk memerintah, melarang dan membuat syariat adalah mutlak hak Allah, bukan hak manusia. Karenanya, Allah mencela kaum musyrikin ketika mereka mengadakan sekutu yang menandingi Allah dalam hak ini.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وقال تعالى {أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ }الشورى21

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?
(QS asy Syura:21).

Imam Muhammad bin syihab az-zuhri rahimahullah berkata, “Risalah (yakni syariat) itu datangnya dari Allah. Kewajiban Rasul adalah menyampaikan, sedangkan kewajiban kita adalah menerimanya (dengan sepenuh hati).”

2. Agama ini telah sempurna, tidak butuh kepada penambahan maupun pengurangan. Orang yang berbuat bid’ah, hakikatnya ingin menambah syariat ini dan menambah syariat itu akan menyempurnakannya. Sehingga siapa yang melakukan suatu bid’ah, sadar atau tidak, seolah ia berkata bahwa agama ini belum sempurna.

3. Amalan yang tidak memiliki sumber dalil dan tidak ada tuntunannya dari Nabi akan tertolak, meskipun niatnya karena Allah.

Dalam hal in Nabi telah bersabda yang maknanya, “Siapa yang melakukan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak.”
(HR Muslim dari aisyah radhiyallahu ‘anha)

Lantas, apakah orang yang beriman lagi berakal akan mengorbankan waktu, tenaga dan hartanya demi melakukan amalan-amalan yang tertolak dan tidak memiliki nilai pahala?

4. Syariat telah menetapkan banyak ancaman besar bagi pelaku bid’ah. Yang mana salah satunya saja, kiranya cukup untuk menjadi peringatan bagi orang yang berakal, diantaranya:

-Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah. Maksudnya bahwa pelaku bid’ah itu jarang mendapatkan taufik untuk bertaubat. Sebab, dia meyakini bahwa apa yang dilakukannya itu adalah kebaikan. Smentara orang akan bertaubat, jika dia meyakini jeleknya perbuatan itu.

-Pelaku bid’ah akan terhalangi dari telaga Nabi

-Pelaku bid’ah terhalang dari Syafa’at nabi (1).

Inilah sedikit pembahasan yang bisa disampaikan karena terbatasan ruang. Semoga yang sedikit ini bisa menjadi pelajaran dan bahan renungan bagi kita semua. Dan Allah jualah yang Maha Memberi taufik

note:

1. Dan masih banyak ancaman-ancaman lain. Rincian bagi permasalahan ini berikut dalil-dalilnya bisa dilihat di dalam kitab Al I’tisham karya Imam Asy Syathibi (wafat tahun 790 H).

Alhamdulillah..

CATATANMMS sadur dari majalah QUDWAH edisi 02/2012 hal: 54-60.

About these ads

2 thoughts on “Asbabul Wurud: SUBHANALLAH, NASIHAT YANG MENGGETARKAN

  1. Bismillahirrohmaanirrohiim…
    Assalamu’alaykum warohmatullah wabarokatuh.
    Subhanallah…alhamdulillah ana selalu mendapatkan nasihat indah saat mengunjungi blog anti. Kebetulan ana belum langganan majalah Qudwah… Jazaakillahu khoir…

    Afwan um, ada bagian yang kurang ana mengerti di paragraf ini: Umar bin Abdul aziz rahimahullah juga pernah menuliskan surat kepada seseorang, “Aku wasiatk5elainnya (takwa),

    Mudah-mudahan um ada waktu luang tuk menjelaskannya.

    Sekali lagi ana ucapkan jazaakillahu khoir atas setiap saduran yang anti buat. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Baarokallahu fiik…

  2. Bismillaah…
    Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Subhanallah… ana juga mau ucapkan jazaakillahu khair kepada ummu yang selalu mengkoreksi saduran ana. hmm.. qadarullah ada bagian yang terhapus umm dibagian itu, pdhal ana telah koreksi berulang2. Allahu a’lam mungkin ketika ana edit bagian itu terhapus.
    ana sdh ralat yaa umm… semoga bagian yg terhapus itu dpt dimengerti maksud dan tujuannya.

    Umar bin Abdul aziz rahimahullah juga pernah menuliskan surat kepada seseorang, “Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, yang Dia tidak mau menerima selainnya (takwa), tidak merahmati kecuali kepada yang melakukannya dan tidak memberi pahala kecuali karenanya. Sebab, banyak orang yang menasehatkan untuk melakukannya, namun sedikit yang mengamalkannya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dari orang-orang yang bertakwa.”

    wajazaakillaahu khair umm.. semoga bermanfaat untuk ana pribadi dan kita semua.. aamiin Allahumma aamiin..
    wafiiky baarakallaahu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s